Teheran, MINA – Sejumlah rumah sakit di ibu kota Iran, Teheran, menetapkan status siaga darurat setelah rentetan serangan militer oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (28/2).
Langkah itu diambil menyusul ledakan yang terdengar di berbagai bagian kota dan meningkatnya aliran pasien ke fasilitas kesehatan, menurut keterangan Kementerian Kesehatan Iran.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanipour menyatakan bahwa ambulans telah dikerahkan ke titik‑titik yang dilaporkan terkena ledakan, sementara tim medis mempersiapkan kapasitas ruangan isolasi dan ruang gawat darurat untuk kemungkinan jumlah korban yang meningkat.
Ia menambahkan bahwa informasi resmi terkait jumlah korban masih akan diumumkan kemudian.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
Serangan yang memicu kondisi darurat medis ini terjadi setelah militer Israel mengumumkan telah melancarkan serangan pendahuluan ke wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, dengan dukungan koordinasi militer dari AS.
Ledakan terdengar di sejumlah kota besar Iran seperti Teheran, Tabriz, dan Isfahan dalam operasi yang oleh beberapa analis disebut sebagai eskalasi konflik berskala luas.
Dampak konflik tidak hanya dirasakan di fasilitas kesehatan. Ribuan warga sipil dilaporkan panik dan berusaha mencari perlindungan atau meninggalkan area perkotaan demi keselamatan.
Penutupan wilayah udara Iran juga diberlakukan oleh otoritas penerbangan sipil menyusul serangan, sementara jaringan komunikasi nasional dilaporkan terganggu akibat konflik yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Kondisi darurat rumah sakit di Teheran mencerminkan tekanan yang semakin berat terhadap sistem kesehatan Iran, yang sekaligus harus menangani pasien luka akibat serangan militer serta terus mengelola pelayanan rutin dalam situasi penuh ketidakpastian dan ancaman serangan balasan dari pihak lawan.
Organisasi kesehatan internasional dan negara‑negara di kawasan kini memantau perkembangan situasi, mengingat eskalasi konflik membawa risiko dampak kemanusiaan yang lebih luas, termasuk potensi kekurangan obat, perawatan jangka panjang untuk korban luka, serta gangguan layanan kesehatan yang lebih sistemik.
Ketegangan militer antara Iran, Israel, dan AS bukan hal baru, tetapi konflik yang memuncak pada akhir Februari 2026 ini merupakan salah satu eskalasi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Serangan militer gabungan dari AS dan Israel memicu reaksi keras Tehran dan menimbulkan kekhawatiran global tentang semakin meluasnya konfrontasi di kawasan.
Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
Pada 2025, serangan serupa dari kedua belah pihak juga pernah menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas medis dan infrastruktur publik di wilayah konflik, yang memicu kritik internasional terhadap dampak perang terhadap warga sipil. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Demo Gen Z Jerman Berujung Ricuh di Hamburg, Frankfurt, dan Berlin
















Mina Indonesia
Mina Arabic