ANAK adalah anugerah yang menghadirkan kebahagiaan dan juga tanggung jawab. Di satu sisi, kehadiran mereka menjadi penyejuk mata dan penenang jiwa dalam keluarga. Namun di sisi lain, mereka adalah amanah besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Al-Qur’an telah menegaskan realitas ini dengan sangat jelas dalam firman-Nya:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Ayat ini tidak sekadar memberi informasi, tetapi juga mengingatkan bahwa anak adalah ujian keimanan. Cara orang tua memperlakukan, mendidik, dan mengarahkan mereka menjadi bagian dari penilaian Allah ﷻ di akhirat kelak.
Dalam konteks modern, pesan ini menjadi semakin relevan. Di tengah arus kehidupan yang serba cepat, anak-anak sering kali berada dalam situasi yang rentan: kurang perhatian, minim komunikasi emosional, bahkan tidak jarang menjadi korban kekerasan atau pengabaian.
Padahal, Islam sejak awal telah meletakkan dasar pendidikan anak bukan pada kekerasan, melainkan pada kasih sayang yang mendalam.
Kasih Sayang Rasulullah ﷺ sebagai Fondasi Pendidikan Anak
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Ketika berbicara tentang pendidikan anak dalam Islam, tidak ada teladan yang lebih sempurna selain Rasulullah ﷺ.
Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga menghidupkannya dalam aktifitas sehari-hari dengan penuh kelembutan. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil di antara kami dan tidak menghormati yang besar.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Dan dalam hadits lain beliau menegaskan:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kasih sayang dalam pandangan Nabi ﷺ bukan sekadar emosi, tetapi prinsip dasar dalam membangun peradaban. Karena itu, beliau tidak hanya memerintahkan, tetapi juga mencontohkan secara langsung bagaimana memperlakukan anak-anak, bahkan sejak usia balita.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Dalam banyak riwayat, Rasulullah ﷺ terlihat sangat lembut terhadap anak-anak. Beliau menggendong cucunya ketika shalat, mencium mereka di hadapan para sahabat, bahkan mempercepat shalat ketika mendengar tangisan bayi agar tidak memberatkan sang ibu.
Semua itu menunjukkan bahwa dalam Islam, ibadah tidak pernah bertentangan dengan kasih sayang; justru keduanya berjalan beriringan.
Warisan Nabi dalam Praktik Para Sahabat dan Ulama
Keteladanan Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada dirinya saja, tetapi menjelma menjadi budaya di kalangan para sahabat. Mereka yang awalnya tidak terbiasa mengekspresikan kasih sayang kepada anak-anak, perlahan berubah setelah melihat langsung bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan cucu-cucunya.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Sebagian di antara mereka bahkan mengakui bahwa sebelum mengenal Rasulullah ﷺ, mereka tidak pernah mencium anak-anak mereka. Namun setelah menyaksikan akhlak Nabi, cara pandang mereka berubah secara total.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu misalnya, yang dikenal tegas dalam kepemimpinan, tetap memiliki sisi kelembutan yang kuat terhadap anak-anak. Ia memahami bahwa kekuatan seorang Muslim tidak terletak pada kekerasan, tetapi pada kemampuan menempatkan kasih sayang secara tepat dalam kehidupan sosial.
Warisan ini kemudian diteruskan oleh para ulama. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa anak adalah amanah yang hatinya masih suci, ibarat tanah kosong yang siap menerima bentuk apa pun yang ditanamkan di atasnya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menjelaskan bahwa pendidikan anak harus dilakukan secara bertahap, dengan memahami perkembangan jiwa mereka, bukan dengan paksaan atau kekerasan.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Bahkan Imam Malik dikenal sangat menghormati dunia anak dalam proses belajar, tidak membebani mereka di luar kapasitasnya.
Dari sini tampak jelas bahwa tradisi keilmuan Islam sejak awal menempatkan kasih sayang sebagai fondasi utama dalam pendidikan anak, bukan sekadar aturan atau hukuman.
Penegasan Kasih Sayang dalam Keluarga
Ketika dunia hari ini semakin dipenuhi oleh tantangan baru, tekanan ekonomi, perubahan sosial, dan dominasi teknologi, maka pendidikan anak menjadi semakin kompleks.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Banyak orang tua hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional. Anak-anak tumbuh dengan kecukupan materi, tetapi kekurangan sentuhan kasih sayang yang sesungguhnya.
Dalam situasi seperti ini, keteladanan Rasulullah ﷺ menjadi sangat penting untuk dihidupkan kembali. Beliau menunjukkan bahwa anak tidak cukup hanya diberi makan dan pakaian, tetapi juga harus dipeluk, didengar, dihargai, dan dicintai. Kasih sayang bukan pelengkap dalam pendidikan, melainkan inti dari pembentukan karakter.
Jika umat Islam ingin melahirkan generasi yang kuat, beriman, dan berakhlak mulia, maka jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada metode Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ telah membuktikan bahwa dari sentuhan kasih sayang lahir generasi terbaik umat manusia—generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga lembut hatinya dan kuat imannya. []
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Mi’raj NewsAgency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic