DUA KALIMAT Syahadat yang selalu kita ucapkan dalam shalat dan dzikir “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” adalah lebih dari sekadar rangkaian kata di lidah.
Kalimat Syahadat adalah ikrar kesaksian yang hidup, pernyataan iman yang mengikat seluruh eksistensi seorang muslim. Dalam setiap pengucapannya, kita tidak hanya mengafirmasi keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga menandatangani sebuah kontrak spiritual, janji untuk menegakkan Tauhidullah dan komitmen untuk membela kebenaran dan keadilan di muka bumi.
Ketika kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, kita sedang melakukan dekonstruksi terhadap segala bentuk tirani. Kalimat ini secara revolusioner meniadakan seluruh berhala modern, bukan hanya patung, tetapi juga kesombongan kuasa, keserakahan material, dan sistem penindasan manusia atas manusia lain.
Oleh karenanya, Kalimat Syahadat bukanlah konsep pasif. Ia adalah prinsip aktif yang menuntut keberpihakan. Dalam cahaya Tauhid, tidak ada ruang untuk netralitas di hadapan ketidakadilan. Ia berdiri kokoh di pihak yang tertindas. Di sinilah ikrar syahadat kita berteriak lantang menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, yang selama puluhan dekade hidup di bawah cengkeraman penjajahan dan kekerasan rezim Zionis.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Syahadat kita menguji nyali iman, seberapa hidup iman itu terlihat dari gejolak kepedulian dan upaya pembelaan yang nyata? Membisu di hadapan penindasan di Palestina adalah mengikis makna Laa ilaaha illallah itu sendiri, sebab kita diam membiarkan “tuhan” bernama kekuasaan paling zalim di muka bumi ini.
Ikatan Tauhid ini pula yang menyatukan hati setiap muslim dengan Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis. Masjidil Aqsa bukanlah sekadar kompleks bangunan batu dan bata di Yerusalem. Ia adalah simbol hidup dari kesatuan akidah, simpul sejarah kenabian, dan cermin kehormatan umat Islam.
Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama yang menjadi arah shalat para nabi sebelum kita, tanah suci peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, dan amanah iman yang diwariskan turun-temurun. Membiarkannya dinodai, diblokade, dan terus-menerus dinistakan oleh kekuatan pendudukan, tanpa menggerakkan respons apa pun dari diri kita, adalah melukai inti Tauhid itu sendiri.
Iman tidak mengenal batas geografis atau sekat-sekat nasionalisme sempit. Ia hanya mengenal satu ikatan, ikatan akidah. Setiap jengkal tanah Masjidil Aqsa yang dijajah adalah tamparan bagi kesaksian kita bahwa Allah adalah Pemilik dan Penguasa segenap alam.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Kesaksian kedua, “Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” melengkapi dan mempraktikkan prinsip pertama.
Dengan bersaksi atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, kita berjanji untuk meneladaninya dalam seluruh aspek kehidupan. Dan teladan Beliau ﷺ dalam mencintai dan menjaga Masjidil Aqsa serta Baitul Maqdis sangatlah jelas dan penuh perhatian.
Rasulullah ﷺ memuliakannya, mendoakannya dan menanamkan kesadaran tentang keberkahannya dalam hati para sahabatnya. Kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Abu Dzar al-Ghiffari, Abu Ubaidah bin Jarrah, bahkan sampai ke pembantunya, Maimunah binti Sa’ad.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak dianjurkan melakukan perjalanan (khusus untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsa.” (HR Bukhari-Muslim).
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Sabda Rasulullah ﷺ ini bukan hanya tentang keutamaan pahala, tetapi juga tentang penanaman cinta dan prioritas dalam hati umat. Mengikuti Rasulullah ﷺ berarti meneladani tidak hanya gerakan shalatnya, tetapi juga luasnya kepeduliannya terhadap umat dan tempat-tempat suci yang merupakan bagian dari identitas keimanan.
Maka, pembelaan terhadap Palestina adalah manifestasi langsung dari ittiba’ (mengikuti) Rasulullah ﷺ.
Kesaksian Kalimat Syahadat ini dapat kita hidupkan dalam berbagai konteks Al-Aqsha, Baitul Maqdis dan Palestina, di antaranya:
- Doa yang Terus-Menerus
Doa adalah senjata utama orang-orang beriman. Mendoakan keselamatan, kekuatan, dan kemenangan untuk saudara kita di Gaza dan Tepi Barat adalah tindakan spiritual yang langsung menyentuh takdir.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
- Terus bersuara Menentang Kezaliman
Menggunakan setiap kesempatan dan platform, dari obrolan keluarga, mimbar kajian, hingga media sosial, untuk menyuarakan kebenaran, mengungkap fakta penindasan, dan mendesak tegaknya keadilan internasional. Diam atas kezaliman berarti menyetujuinya.
- Bantuan Kemanusiaan yang Konkret.
Memberikan dukungan material melalui lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya untuk meringankan penderitaan korban perang, anak-anak yatim, dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Ini adalah wujud nyata kasih sayang sesama muslim, wabil khusus buat saudara-saudara kita di Jalur Gaza yang terblokade.
- Pendidikan dan Penjagaan Memori Kolektif.
Mengajarkan kepada generasi muda tentang Sejarah, keutamaan, kemuliaan Masjidil Aqsa, Baitul Maqdis, dan Palestina, hakikat perjuangan membela hak dan kemuliaan. Agar mereka tidak menjadi generasi yang lupa akan identitas, sejarah, dan kiblat perjuangan iman mereka.
Dengan demikian, Kalimat Syahadat bukanlah ritual verbal yang berakhir di mulut. Namun ia adalah kompas moral yang mengarahkan tindakan. Setiap kali kita mengucapkan Kalimat Syahadat, kita sedang diperingatkan dan diingatkan bahwa masih ada saudara-saudara kita di Palestina yang hak-haknya dirampas, ada tanah suci yang dinodai, dan ada keadilan yang dinantikan.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Membela mereka adalah konsekuensi logis dari ikrar Kalimat Syahadat kita. Sebab, iman yang sejati tak pernah berjalan sendiri; ia selalu membawa serta tanggung jawab untuk memihak kebenaran, di mana pun dan kapan pun, terutama ketika kesaksian kita diuji di depan nasib bangsa yang terjajah.
Palestina adalah ujian nyata bagi kesaksian Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah, yang terukir di dalam hati kita. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic