UKHUWAH bukan sekadar hubungan sosial biasa. Ia adalah ikatan hati yang dibangun di atas iman, dipererat oleh ketulusan, dan dijaga oleh keikhlasan. Dalam Islam, ukhuwah memiliki nilai yang sangat tinggi. Allah Ta’ala menggambarkan orang-orang beriman itu sebagai saudara: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10). Ayat ini bukan hanya pernyataan, tetapi juga tuntutan—bahwa hubungan antar sesama mukmin harus dilandasi oleh sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar kepentingan dunia.
Namun realitas hari ini seringkali berkata lain. Ukhuwah yang seharusnya suci, perlahan tergeser oleh kepentingan. Awalnya mungkin tidak terasa. Semua tampak berjalan baik—senyum terukir, kebersamaan terasa hangat. Tapi di balik itu, mulai muncul perhitungan-perhitungan halus: siapa yang menguntungkan, siapa yang bisa dimanfaatkan, siapa yang sudah tidak relevan. Tanpa disadari, hubungan yang dahulu tulus berubah menjadi transaksional.
Ketika kepentingan mulai mendominasi, ketulusan perlahan menghilang. Senyum yang dulu lahir dari hati berubah menjadi sekadar formalitas. Perhatian yang dulu murni menjadi sarat maksud tersembunyi. Bahkan dukungan pun tidak lagi berdiri di atas kebenaran, melainkan atas dasar keuntungan. Inilah titik di mana ukhuwah mulai kehilangan ruhnya.
Fenomena ini bukan hanya terjadi dalam lingkup kecil, tetapi juga meluas dalam berbagai komunitas, organisasi, bahkan dalam lingkaran dakwah. Orang mendekat bukan karena cinta karena Allah, tetapi karena ada sesuatu yang ingin didapat. Dalam ilmu psikologi sosial, ini dikenal sebagai social exchange theory, yaitu teori yang menyatakan bahwa hubungan manusia seringkali didasarkan pada pertimbangan untung-rugi. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang terlalu didominasi oleh motif ini cenderung rapuh dan tidak bertahan lama, karena kehilangan fondasi emosional dan spiritual yang kuat.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Ketika kepentingan tidak lagi terpenuhi, hubungan pun mulai renggang. Yang dulu akrab bisa menjadi asing. Yang dulu dekat bisa berubah menjadi lawan. Bahkan tidak jarang, kekecewaan melahirkan permusuhan. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang hal ini dalam sabdanya: “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka sungguh sempurna imannya.” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menegaskan bahwa standar hubungan dalam Islam bukanlah kepentingan, melainkan Allah.
Ukhuwah sejati justru diuji ketika tidak ada kepentingan dunia yang mengikat. Ia tetap bertahan meski tidak ada keuntungan materi. Ia tetap hangat meski tidak ada kepentingan yang terpenuhi. Karena yang mengikatnya bukan dunia, melainkan iman. Bahkan dalam kondisi sulit sekalipun, ukhuwah yang dibangun karena Allah justru semakin kuat, karena ia ditopang oleh nilai yang tidak fana.
Secara ilmiah, penelitian dalam bidang neurosains dan psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang didasarkan pada ketulusan dan empati mampu meningkatkan hormon oksitosin—hormon yang memperkuat rasa percaya dan kedekatan emosional. Sebaliknya, hubungan yang penuh kepentingan justru memicu stres dan ketegangan, karena selalu diliputi rasa curiga dan ketidakamanan. Artinya, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara biologis, ketulusan adalah fondasi hubungan yang sehat.
Kepentingan itu sifatnya sementara. Ia datang dan pergi. Hari ini ada, besok bisa hilang. Sementara ukhuwah adalah sesuatu yang mulia dan abadi, bahkan bisa menjadi sebab seseorang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah… di antaranya dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Betapa tinggi nilai ukhuwah jika ia benar-benar dijaga dalam keikhlasan.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Maka penting bagi kita untuk jujur pada diri sendiri. Dalam setiap hubungan yang kita bangun, tanyakan: apakah ini karena Allah, atau karena ada maunya? Apakah kita mendekat karena cinta, atau karena manfaat? Pertanyaan ini mungkin sederhana, tetapi jawabannya menentukan kualitas iman dan kemurnian hati kita.
Jika kita ingin mengembalikan kekuatan ukhuwah, maka satu hal yang harus dilakukan adalah menyingkirkan kepentingan sebagai dasar hubungan. Gantikan dengan keikhlasan, ketulusan, dan niat karena Allah. Belajarlah memberi tanpa berharap balasan, mendukung tanpa pamrih, dan mencintai tanpa syarat dunia. Karena sejatinya, ukhuwah yang dibangun karena Allah tidak akan pernah merugi.
Pada akhirnya, ukhuwah adalah cermin dari hati. Jika hati dipenuhi keikhlasan, maka hubungan akan terasa ringan dan indah. Namun jika hati dipenuhi kepentingan, maka hubungan akan terasa berat dan mudah retak. Maka jagalah hati, luruskan niat, dan bangun kembali ukhuwah di atas fondasi yang benar—agar ia tidak hanya kuat di dunia, tetapi juga menjadi penyelamat di akhirat.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
















Mina Indonesia
Mina Arabic