Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Waspada! Penyakit yang Tak Terlihat Namun Mematikan

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 20 Juni 2026 - 15:13 WIB

Sabtu, 20 Juni 2026 - 15:13 WIB

60 Views ㅤ

Waspada! Penyakit yang Tak Terlihat Namun Mematikan
ilustrasi hati yang sakit (gemini AI)

DI ZAMAN ini, manusia sangat takut terhadap penyakit yang menyerang tubuh. Mereka rutin memeriksa tekanan darah, kadar gula, kolesterol, dan berbagai gangguan fisik lainnya. Namun ada penyakit yang jauh lebih berbahaya, lebih mematikan, dan lebih sulit dideteksi, yaitu penyakit hati. Penyakit ini tidak tampak oleh mata, tidak terdeteksi oleh alat medis, tetapi perlahan menghancurkan iman, amal, dan kehidupan seseorang.

Allah Ta’ala berfirman:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya.” (QS. Al-Baqarah: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa hati juga bisa sakit. Bahkan ketika penyakit itu dibiarkan, ia akan semakin parah hingga menutupi cahaya kebenaran. Yang mengerikan, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit. Ia merasa baik-baik saja, merasa benar, merasa aman, padahal hatinya sedang menuju kehancuran.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tubuh yang sehat tidak menjamin keselamatan seseorang. Wajah yang berseri tidak menjamin kebersihan hati. Banyak manusia yang tampak saleh di hadapan manusia, namun hatinya penuh penyakit yang hanya diketahui oleh Allah. Karena itulah para ulama salaf lebih sibuk memperbaiki hati daripada memperindah penampilan lahiriah.

Di antara penyakit hati yang paling banyak mewabah di akhir zaman adalah riya’. Seseorang melakukan amal bukan karena Allah semata, tetapi karena ingin dipuji, dihormati, atau dianggap baik. Ia senang ketika manusia melihat amalnya dan kecewa ketika tidak mendapat perhatian. Padahal Rasulullah ﷺ menyebut riya’ sebagai syirik kecil yang sangat beliau khawatirkan menimpa umatnya.

Penyakit berikutnya adalah ujub, yaitu kagum terhadap diri sendiri. Merasa dirinya lebih alim, lebih saleh, lebih benar, atau lebih berjasa daripada orang lain. Ketika seseorang mulai memandang dirinya besar, saat itulah ia sedang mengecil di hadapan Allah. Iblis tidak menjadi kafir karena kurang ibadah, tetapi karena kesombongan yang memenuhi hatinya.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Allah berfirman:

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS. An-Nahl: 23)

Ada pula penyakit hasad yang sangat berbahaya. Hati terasa sempit melihat nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sulit bahagia ketika saudaranya berhasil. Berat menerima kenyataan bahwa Allah membagi rezeki, ilmu, dan kedudukan sesuai kehendak-Nya. Padahal hasad ibarat api yang membakar seluruh amal kebaikan tanpa disadari.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud, hasan)

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Penyakit hati lain yang semakin meluas adalah cinta dunia yang berlebihan. Dunia menjadi tujuan utama hidup. Ukuran keberhasilan hanyalah harta, jabatan, popularitas, dan kenyamanan. Hati menjadi berat untuk beribadah, tetapi ringan untuk mengejar dunia. Waktu habis untuk urusan fana, sedangkan urusan akhirat hanya mendapat sisa-sisanya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Inilah penyakit yang dahulu beliau sebut sebagai penyebab kelemahan umat. Bukan karena sedikit jumlahnya, bukan karena kurang cerdas, tetapi karena hati mereka terlalu terikat dengan dunia.

Di akhir zaman juga muncul penyakit merasa paling benar sambil meremehkan orang lain. Nasihat dianggap serangan. Kritik dianggap musuh. Kebenaran hanya diterima jika sesuai dengan hawa nafsu. Hati menjadi keras sehingga sulit tersentuh oleh ayat Al-Qur’an maupun nasihat yang tulus. Padahal hati yang keras adalah salah satu tanda jauhnya seseorang dari rahmat Allah.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Allah berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqarah: 74)

Yang paling menakutkan bukanlah ketika seseorang melakukan dosa. Yang paling menakutkan adalah ketika ia tidak lagi merasa berdosa. Dulu ia menangis karena kesalahan kecil, kini dosa besar terasa biasa. Dulu ia takut kepada Allah, kini hatinya tenang dalam kemaksiatan. Inilah tanda bahwa penyakit hati telah berkembang jauh tanpa disadari.

Para ulama salaf sangat takut terhadap kondisi hati mereka. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling banyak ibadahnya. Mereka khawatir amalnya tidak diterima, takut terjangkit nifaq, dan selalu mencurigai dirinya sendiri sebelum mencurigai orang lain. Semakin tinggi ilmu mereka, semakin besar rasa takut mereka kepada Allah.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata: “Seorang mukmin selalu mengawasi dirinya, sedangkan orang munafik terus-menerus merasa aman.”

Kalimat ini sangat dalam maknanya. Orang beriman takut jika hatinya berubah. Ia khawatir jika amalnya tercampur riya’. Ia tidak sibuk mencari kesalahan orang lain karena ia sedang sibuk memeriksa penyakit dalam dirinya sendiri.

Lalu bagaimana cara menyembuhkan penyakit hati? Obat pertama adalah kembali kepada Al-Qur’an. Membacanya dengan tadabbur, bukan sekadar melafalkan huruf-hurufnya. Al-Qur’an adalah cahaya yang mampu menyingkap penyakit yang tersembunyi di dalam dada. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin mudah ia mengenali kekurangan dirinya.

Obat kedua adalah memperbanyak dzikir dan istighfar. Hati yang sering mengingat Allah akan hidup, sedangkan hati yang lalai akan mati perlahan-lahan. Istighfar membersihkan noda dosa yang menumpuk di dalam jiwa. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan, tetapi orang terbaik adalah yang segera kembali kepada Allah.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Obat ketiga adalah memperbanyak muhasabah. Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: untuk siapa aku beramal hari ini? Apakah aku telah menyakiti orang lain? Apakah Allah ridha terhadap apa yang kulakukan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan menjaga hati tetap hidup dan peka.

Saudaraku, wabah terbesar akhir zaman mungkin bukan krisis ekonomi, bukan peperangan, dan bukan bencana alam. Wabah terbesar adalah hati yang sakit namun merasa sehat. Hati yang jauh dari Allah namun merasa dekat. Hati yang dipenuhi dosa namun merasa aman.

Karena itu, sebelum memeriksa kesehatan tubuh kita, periksalah kesehatan hati kita. Sebelum sibuk memperbaiki penampilan, perbaikilah niat dan keikhlasan. Dan sebelum datang hari ketika semua rahasia dibongkar di hadapan Allah, marilah kita menangis, bertaubat, dan memohon kepada-Nya:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ وَالرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ

“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, riya’, kesombongan, dan kedengkian.”

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Sebab ketika hati selamat, segala sesuatu akan menjadi baik. Namun ketika hati telah rusak, maka kehancuran sering kali hanya tinggal menunggu waktu.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Hikmah
Tausiyah
Hikmah