DI TENGAH dunia yang semakin ramai dengan persaingan, gemerlap kehidupan, dan derasnya godaan kemaksiatan, manusia sering lupa bahwa nikmat terbesar bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pengaruh. Nikmat terbesar adalah ketika hati tetap mengenal Allah, lisan tetap bersyukur, dan diri terus berusaha menjadi hamba yang lebih baik.
Salah satu doa yang sangat indah diabadikan Allah dalam Al-Qur’an adalah doa Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam. Seorang nabi yang diberi kerajaan besar, kekuasaan luas, ilmu yang tinggi, dan berbagai keistimewaan yang tidak diberikan kepada manusia lainnya.
Namun di balik semua kemuliaannya, Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam tidak terlena. Ia tidak melihat nikmat sebagai alasan untuk sombong, tetapi sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Doa itu diabadikan di dalam Al-Quran:
Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai, serta berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).
Isi permohonan tersebut mencakup beberapa hal, yaitu:
- Memohon agar hati selalu mensyukuri nikmat Allah
Perhatikan ungkapan Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam, “Rabbi awzi’ni an asykura ni’mataka…”. (Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu…”
Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi
Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam tidak berkata: “Ya Allah, aku sudah bersyukur.” Tetapi beliau meminta agar Allah memberinya kemampuan untuk bersyukur.
Sebab syukur bukan perkara sederhana. Banyak orang mendapatkan nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat. Banyak yang memiliki kekayaan, tetapi kehilangan ketenangan. Banyak yang memperoleh kedudukan, tetapi hatinya semakin jauh dari Allah.
Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam mengajarkan bahwa semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula kebutuhan seorang hamba untuk memohon pertolongan Allah agar tidak tergelincir.
- Bersyukur bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan amal
Nabi Sulaiman melanjutkan doanya, “Wa an a’mala shalihan tardhah…” (Dan agar aku dapat mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai).
Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional
Inilah hakikat syukur yang sebenarnya. Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah, tetapi menggunakan nikmat Allah untuk jalan yang Allah cintai.
Jika diberi ilmu, maka mengajar. Jika diberi harta, maka bersedekah. Jika diberi jabatan, maka berlaku adil. Jika diberi waktu, maka mengisinya dengan amal kebaikan.
Nikmat yang tidak mengantarkan seseorang kepada ketaatan justru bisa menjadi ujian yang berat.
- Memohon perbaikan diri di tengah dunia yang penuh ujian
Nabi Sulaiman juga berdoa, “Wa ashlih li fi dzurriyyati…” (Dan perbaikilah untukku keturunanku).
Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata
Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga generasi setelahnya. Ini menjadi pelajaran penting bagi orang tua di zaman sekarang.
Di tengah derasnya arus informasi, budaya hedonisme, normalisasi kemaksiatan, dan persaingan dunia yang semakin keras, menjaga kesalehan keluarga adalah perjuangan besar.
Anak-anak bukan hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga keimanan. Bukan hanya kemampuan bersaing, tetapi juga akhlak. Sebab dunia mungkin mengajarkan cara menjadi sukses, tetapi agama mengajarkan cara menjadi mulia.
Doa untuk Zaman Modern
Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital
Hari ini manusia berlomba mengejar banyak hal: popularitas, kekayaan, pengakuan, dan kesenangan. Namun sering kali lupa bertanya:
“Apakah semua yang aku kejar membuat Allah ridha?”
Doa Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam mengajarkan keseimbangan: raihlah karunia Allah, tetapi jangan kehilangan Allah. Milikilah dunia di tangan, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati.
Sebab orang yang paling kaya bukanlah yang paling banyak memiliki, tetapi yang paling banyak bersyukur.
Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa
Begitulah, Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam memiliki kerajaan yang luar biasa, tetapi hatinya tetap tunduk. Ia memiliki kekuasaan, tetapi tetap memohon pertolongan Allah. Ia memiliki segala kemewahan dunia, tetapi yang ia takutkan adalah kehilangan ridha-Nya.
Maka di zaman yang penuh godaan ini, mari kita hidupkan doa Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam tersebut.
Ya, nikmat terbesar bukan ketika manusia melihat kita berhasil, tetapi ketika Allah melihat kita sebagai hamba yang bersyukur dan tetap istiqamah di jalan-Nya. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam
















Mina Indonesia
Mina Arabic