Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Memberantas dan Mencegah Penyakit LGBT melalui Keluarga dan Masyarakat

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 9 Juli 2026 - 16:23 WIB

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:23 WIB

220 Views ㅤ

Masjid Jami tempat Shalat Jumat (foto: Fpik)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Memberantas dan Mencegah Penyakit LGBT melalui Keluarga dan Masyarakat.

Islam memandang keluarga sebagai pondasi utama peradaban. Keluarga yang dibangun melalui pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang sah secara syariat, akan menjadi tempat lahirnya generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.

Apabila institusi keluarga melemah, apalagi rusak, maka masyarakat akan kehilangan benteng moral yang selama ini menjaga kehormatan dan ketenteraman kehidupan bersama.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Islam mengajarkan penjagaan diri (hifzhun nasl dan hifzhun nafs) melalui pernikahan, kesucian diri, serta larangan terhadap zina dan berbagai bentuk penyimpangan perilaku seksual yang diharamkan.

Karena itu, seorang Muslim diperintahkan membangun keluarga yang harmonis, mendidik anak-anak dengan adab dan ilmu, serta menghadirkan lingkungan yang mendorong tumbuhnya ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بســــــــــــــــــم الله الرحمن الرحيم

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

Khutbah pertama:

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Marilah senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk terus beribadah dan bertaubat kepada-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah Jum’ah semua, agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Karena itu, seorang Muslim dituntut untuk menjaga fitrah, sekaligus membentengi diri, keluarga dan masyarakat dari segala perilaku menyimpang, yang dilaknat oleh Allah Ta’ala.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf [7] ayat 80 dn 81:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ ۝٨٠ اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ ۝٨١(الاعراف [٧]: ٨٠ــ٨١)

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu? [80] Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsumu, bukan kepada perempuan. Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas. [81]”

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mejelaskan, bahwa ayat tersebut menunjukkan salah satu bentuk penyimpangan terbesar yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth Alaihi Salam, yaitu melakukan hubungan sesama jenis (lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan). Dalam istilah sekarang disebut dengan LGBT (lesbian, gay, biseks dan transgender)

Perbuatan itu disebut sebagai Fahisyah, yakni dosa besar yang sangat keji, karena bertentangan dengan fitrah yang Allah Ta’ala ciptakan pada manusia, yaitu lelaki dan wanita.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Kisah kaum Nabi Luth Alaihi Salam bukan bukan sekadar menceritakan sejarah, melainkan menjadi peringatan bagi setiap generasi agar tidak mengikuti perilaku yang menyimpang dari syariat dan fitrah.

Islam menempatkan kesucian keluarga sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat. Karena itu, segala bentuk penyimpangan yang merusak institusi keluarga merupakan ancaman bagi kehidupan sosial masyarakat.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Peringatan tentang perilaku menyimpang dari kaum Nabi Luth Alaihi Salam tidak disebut dalam Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga mengingatkan umatnya. Beliau bersabda:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ (رواه الترمذى)

“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR. At-Tirmidzi).

Hadist di atas menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam terhadap keselamatan dan akhlak umatnya.

Ungkapan “inna akhwafu mā akhāfu” (yang paling aku khawatirkan) merupakan bentuk penegasan bahwa penyimpangan tersebut (LGBT) membawa dampak yang sangat besar, yakni kehancuran massal di dunia dan kemurkaan Allah di akhirat kelak.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Al-Mubarakfuri dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan, bahwa peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam di atas merupakan bentuk kasih sayang agar umatnya tidak mengulangi kesalahan umat-umat terdahulu yang akhirnya mendapat azab Allah Ta’ala.

Hadist tersebut bukanlah ajakan untuk membenci atau menyakiti seseorang, melainkan peringatan agar umat Islam menjaga fitrah, memperkuat keimanan, serta membangun keluarga yang kokoh berdasarkan ajaran Islam.

Seorang Muslim diperintahkan membenci kemaksiatan, namun tetap berbuat adil, berakhlak mulia, dan mendoakan agar setiap orang memperoleh hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Islam memandang keluarga sebagai pondasi utama peradaban. Keluarga yang dibangun melalui pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang sah secara syariat, akan menjadi tempat lahirnya generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.

Apabila institusi keluarga melemah, apalagi rusak, maka masyarakat akan kehilangan benteng moral yang selama ini menjaga kehormatan dan ketenteraman kehidupan bersama.

Islam mengajarkan penjagaan diri (hifzhun nasl dan hifzhun nafs) melalui pernikahan, kesucian diri, serta larangan terhadap zina dan berbagai bentuk penyimpangan perilaku seksual yang diharamkan.

Karena itu, seorang Muslim diperintahkan membangun keluarga yang harmonis, mendidik anak-anak dengan adab dan ilmu, serta menghadirkan lingkungan yang mendorong tumbuhnya ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh umat Islam agar fitrah manusia tetap terjaga dan masyarakat terlindungi dari berbagai bentuk penyimpangan seperti LGBT:

Pertama, memperkuat pendidikan akidah dan akhlak generasi muda.

Generasi muda merupakan aset terbesar umat. Mereka adalah calon pemimpin, pendidik, ulama, dan orang tua di masa depan.

Karena itu, mereka harus dibekali dengan akidah yang lurus, akhlak yang mulia, serta pemahaman yang benar tentang fitrah manusia, kehormatan diri, dan fitrah dirinya dalam Islam.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Kedua, membangun komunikasi yang hangat.

Tidak sedikit remaja dan pemuda yang mengalami kebingungan, tekanan psikologis, atau krisis jati diri, namun tidak memiliki tempat yang aman untuk berdiskusi.

Akibatnya, mereka mencari jawaban dari lingkungan atau media sosial yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Karena itu, orang tua, guru, dan para pembimbing hendaknya membuka ruang dialog yang hangat, tidak mudah menghakimi, serta siap memberikan bimbingan berdasarkan ilmu dan kasih sayang.

Komunikasi yang baik akan menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.

Ketiga, menanamkan rasa malu sebagai bagian dari iman.

Rasa malu merupakan salah satu akhlak yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Selama rasa malu masih hidup, seseorang akan lebih berhati-hati dalam berpakaian, berbicara, dan bergaul.

Sebaliknya, apabila budaya malu mulai hilang, maka berbagai bentuk kemaksiatan akan lebih mudah dianggap biasa.

Rasa malu adalah salah satu perhiasan seorang mukmin. Selama rasa malu masih hidup, insyaAllah pintu-pintu kemaksiatan akan lebih mudah ditutup.

Keempat, meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan media sosial dan teknologi digital.

Di zaman sekarang, berbagai konten yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam sangat mudah diakses.

Orang tua, guru, dan tokoh masyarakat hendaknya memberikan literasi digital serta pendampingan agar generasi muda mampu memilih tontonan dan informasi yang bermanfaat.

Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Apabila digunakan untuk ilmu dan dakwah, ia menjadi ladang pahala. Namun apabila digunakan untuk menyebarkan kemaksiatan, ia dapat menjadi pintu kerusakan akhlak.

Kelima, Masyarakat hendaknya saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Apabila melihat adanya gejala penyimpangan akhlak, hendaknya segera lakukan langkah-langkah pencegahan melalui pendidikan, pembinaan, dan pendampingan yang bijaksana.

Dengan kerja sama seluruh elemen umat, semoga kita mampu mencegah berbagai bentuk penyimpangan akhlak, memperkuat institusi keluarga, serta membimbing generasi muda menjadi generasi yang bertakwa, berilmu, dan berakhlak mulia. Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
Indonesia
Indonesia