ADA satu firman Allah yang terbentang bagaikan peta sejarah, mengungkap masa lalu, menafsirkan masa kini, dan menerangi masa depan umat Islam dalam pertarungan melawan kezaliman.
Itulah Surat Al-Isra ayat 7, sebuah janji Ilahi yang tak pernah ingkar tentang dua kali kerusakan Bani Israil dan dua kali pembalasan atas kezaliman mereka.
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
“Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isra: 7).
Hari ini, kita menyaksikan secara nyata bagaimana fase-fase itu terwujud. Dan di ujung jalan, kemenangan pasti milik orang-orang yang beriman, asalkan bersatu dan bergerak dalam satu barisan.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Fase Pertama: Menyuramkan Wajah-wajah Mereka (Liyasuu’u Wujuuhakum)
Para mufassir menjelaskan bahwa ini adalah gambaran tentang kehinaan, ketakutan, dan keputusasaan yang akan menimpa Bani Israil. Wajah mereka menjadi suram karena merasa terhina dan terinjak. Tidak ada lagi kebanggaan, tidak ada lagi keangkuhan. Yang tersisa hanya ketakutan dan kerendahan.
Perhatikanlah, hari ini. Meskipun pendudukan Zionis Israel memiliki kekuatan militer yang canggih dan dukungan penuh dari Amerika Serikat, di mana rasa aman mereka? Mereka hidup dalam ketakutan, membangun bunker, mempersenjatai setiap warga, dan terus-menerus dihantui oleh serangan roket dari Gaza, Lebanon, dan Yaman. Termasuk dari Iran.
Mereka tidak pernah tidur nyenyak. Wajah-wajah mereka, dari para pemimpin hingga rakyat biasa, memancarkan kecemasan dan paranoia. Di sinilah janji Allah mulai terwujud.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Fase Kedua: Memasuki Masjidil Aqsha Sebagaimana Kali Pertama (Waliyadkhul masjid kamaa dakhaluuhu awwala marratin)
Fase kedua dari janji ini adalah: “Dan mereka akan masuk ke dalam masjid (Masjidl Aqsa), sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama.”
Apakah yang dimaksud dengan “memasuki” di sini? Dalam sejarah, kali pertama yang dimaksud adalah ketika umat Islam diutus oleh Allah untuk menghukum Bani Israil atas kerusakan pertama mereka.
Ini terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika pasukan Muslim dari berbagai penjuru memasuki Baitul Maqdis dan membebaskannya dari cengkeraman kezaliman. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Kota Al-Quds jatuh ke tangan Islam dengan penuh kedamaian.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Namun dalam konteks hari ini, fase ini merujuk pada kebangkitan umat Islam untuk memasuki kembali Masjidil Aqsa dalam arti pembebasan sepenuhnya. Bukan sekadar mengunjungi, melainkan menguasai dan memakmurkannya sebagai pusat ibadah dan peradaban Islam.
Ini adalah janji bahwa suatu saat, Al-Aqsa akan kembali sepenuhnya ke pangkuan umat Islam, sebagaimana terjadi pada masa Umar dan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Subhanallah, kita saat ini sedang menyaksikan fase-fase ini terjadi secara perlahan namun pasti. Tekanan internasional semakin meningkat, kesadaran umat Islam semakin terbangun, dan gerakan-gerakan pembebasan dan kemanusiaan terus bergerak tanpa henti.
Fase Ketiga: Membinasakan Apa Saja yang Mereka Kuasai (Wa Liyutabbiruu Maa ‘Alaw Tabbiiraa)
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Dan inilah puncak dari janji Allah: “Dan mereka akan membinasakan apa saja yang mereka kuasai dengan sehancur-hancurnya”.
Ini adalah fase penghancuran total terhadap apa yang telah dibangun oleh kezaliman dan kesombongan. Segala kekuatan, segala pemukiman ilegal, segala benteng pertahanan, dan segala sistem penjajahan yang mereka bangun akan dihancurkan secara total.
Sebagaimana kata para ulama, tabbīr berarti menghancurkan sesuatu dengan kehancuran yang sempurna, hingga tidak tersisa sama sekali.
Ini adalah peringatan bagi setiap penjajah, bahwa kekuasaan mereka hanya sementara. Mereka boleh membangun gedung-gedung pencakar langit, mereka boleh mempersenjatai diri dengan senjata nuklir, mereka boleh mendapatkan dukungan dari negara adidaya. Namun pada akhirnya, Allah akan membinasakan semua itu dengan tangan-tangan hamba-Nya yang beriman dan bersatu.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Hadits Gharqad Pengakuan Kekalahan Yahudi
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberitakan tentang kemenangan akhir umat Islam atas kaum Yahudi.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, beliau bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّـى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ! يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ، فَاقْتُلْهُ، إِلاَّ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
“Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga umat Islam memerangi orang-orang Yahudi, dan umat Islam membunuh mereka, hingga orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini ada Yahudi di belakangku, mari bunuh dia!’ Kecuali pohon Gharqad, karena ia adalah pohon milik Yahudi.” (HR. Muslim).
Makna hadits ini sungguh luar biasa. Mengapa Gharqad disebut sebagai “pohon milik Yahudi”?
Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah isyarat bahwa Yahudi sendiri tahu akan kekalahan mereka. Mereka memahami bahwa pada akhir zaman, pohon Gharqad adalah satu-satunya tempat yang “aman” dari perlindungan alam semesta bagi mereka. Itupun tidak memberikan keselamatan hakiki, hanya menjadi tempat persembunyian sementara yang berakhir dengan kehinaan.
Fakta yang mencengangkan: pemerintah Israel, dalam keyakinan mereka akan hadits ini, mewajibkan penanaman pohon Gharqad di taman-taman dan jalan-jalan di Yerusalem dan pemukiman Israel. Mereka meyakini bahwa pohon ini akan menjadi “benteng” terakhir mereka.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Sungguh ini adalah bukti bahwa mereka mengimani kebenaran hadis Nabi bahwa mereka akan dikalahkan! Mereka menanam pohon yang akan menjadi saksi kekalahan mereka. Inilah ironi yang memperkuat keyakinan kita: jika musuh pun mengakui janji kemenangan umat Islam, maka mengapa kita masih ragu?
Syarat Kemenangan: Berjamaah
Janji Allah pasti benar. Namun kita tidak boleh hanya duduk diam menunggu kemenangan turun dari langit. Sejarah mengajarkan kita bahwa pembebasan Al-Aqsha terjadi ketika umat Islam bersatu dalam satu barisan.
Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Baitul Maqdis pada 637 M karena persatuan umat di bawah satu kepemimpinan.
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Semangat persatuan ini juga ditegaskan oleh para sahabat. Ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu hendak membebaskan Baitul Maqdis, beliau singgah terlebih dahulu di Jabiyah (kawasan Syam), sebelum memasuki gerbang Kota Al-Quds, untuk bertemu dengan para panglima perangnya. Di sanalah beliau menyampaikan tausiyah yang terkenal, yang di dalamnya beliau berkata:
إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ ، وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ ، وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ
“Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah, dan tidak ada jamaah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.” (Riwayat Ad-Darimi).
Atsar ini, meskipun memiliki kelemahan sanad, maknanya diterima oleh para ulama sebagai prinsip penting dalam kehidupan berjama’ah. Khalifah Umar memahami bahwa pembebasan Baitul Maqdis tidak mungkin tercapai tanpa persatuan dan kepemimpinan yang jelas. Dan benar, dengan persatuan itulah Yerusalem akhirnya terbebas pada tahun 637 M.
Selanjutnya, Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskannya pada 1187 M setelah umat Islam meninggalkan perpecahan dan bersatu dalam satu tujuan. Beliau mempersatukan negeri-negeri sekitar Baitul Maqdis, mulai dari Irak, Mesir, hingga Suriah.
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
Dan kemenangan akhir akan terjadi ketika umat Islam, dari berbagai penjuru dunia, bersatu berjamaah di bawah bendera tauhid.
Dalam kaitan berjama’ah ini, Allah menegaskan di dalm firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran: 103).
Ayat ini adalah fondasi kehidupan berjamaah. Allah tidak mengatakan “berpeganglah pada tali-Ku” secara perorangan, sendiri-sendiri, melainkan “berpeganglah kamu semuanya secara berjama’ah”, secara kolektif, bersama-sama, dalam satu ikatan persaudaraan yang kokoh.
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
Tali Allah ini adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dalam bingkai jama’ah muslimin yang terpimpin oleh seorang Imaam/Khalifah di muka bumi ini.
Tidak ada kemenangan tanpa persatuan. Tidak ada pembebasan tanpa kebersamaan. Saat ini, gerakan-gerakan seperti Aqsa Working Group (AWG) yang terus bergerak dari Jakarta, dan Pakta Pertahanan Makkah yang menyatukan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, adalah bukti bahwa semangat berjamaah mulai hidup kembali di kalangan umat Islam.
Kemenangan itu Pasti
Tiga fase dalam Surat Al-Isra’ adalah peta jalan Ilahi yang tidak pernah salah. Saat ini kita sedang menyaksikan fase pertama, penyuraman wajah-wajah musuh. Kita juga menyaksikan fase kedua, gerakan-gerakan pembebasan yang semakin masif memasuki Masjidil Aqsa. Dan kita semakin dekat dengan fase ketiga, penghancuran total hegemoni dan segala apa yang mereka bangun di atas tanah yang diberkahi ini.
Pohon Gharqad mereka tanam, tetapi pohon itu tidak akan menyelamatkan mereka . Batu dan pohon-pohon lainnya akan menjadi saksi dan senjata bagi umat Islam. Dan kemenangan itu akan datang apabila kita bersatu.
Maka, mari kita satukan langkah, berjama’ah. Mari kita bergerak berjamaah bebaskan Al-Aqsa. Dan yakinlah, janji Allah pasti datang. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic