EROPA sedang terbakar, bukan oleh kebakaran hutan, atau api perang di perbatasannya, tetapi oleh kemarahan rakyatnya sendiri.
Sepanjang Oktober 2026, gelombang demonstrasi besar-besaran melanda Prancis, Italia, Spanyol, Portugal, dan Albania.
Ribuan, puluhan ribu hingga ratusan ribu orang turun ke jalan, sebagian besar damai. Namun sebagian lainnya berujung pada bentrokan, pembakaran, dan penangkapan massal.
Di balik semua itu, ada satu benang merah yang sulit diabaikan: rakyat Eropa merasa tidak lagi didengar.
Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?
Biaya hidup meroket, layanan publik memburuk, dan pemerintah dianggap lebih sibuk dengan urusan luar negeri, termasuk mendukung Ukraina dan meningkatkan anggaran militer, daripada kesejahteraan warganya sendiri.
Prancis: “Kami Muak”
Prancis menjadi episentrum gelombang protes ini. Pada 17 Oktober, sekitar 550.000 orang turun ke jalan di 110 kota, menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis.
Sepekan kemudian, pada 24 Oktober, angka itu membengkak menjadi 410.000 hingga 800.000 orang dalam 289 aksi di seluruh negeri.
Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan
Tuntutan mereka sederhana namun mendasar: upah yang layak, pensiun yang memadai, dan layanan publik yang berfungsi.
Para pelajar dan mahasiswa yang memulai gerakan ini menuntut perbaikan fasilitas sekolah yang rusak, penambahan guru, dan penghapusan sistem seleksi masuk universitas yang dianggap tidak adil.
Namun, yang dimulai sebagai protes damai sering berakhir dengan kekerasan. Di Limoges, balai kota berusia 143 tahun dibakar. Di Marseille, demonstran bersweter hitam mendobrak masuk balai kota. Di Lyon, kantor pariwisata dibakar. Lebih dari 1.300 orang ditangkap pada 24 Oktober, dan 53 petugas keamanan terluka.
Presiden Emmanuel Macron, yang menghadapi pemilu presiden dalam enam bulan, mengecam kekerasan sebagai tindakan “elemen ekstremis kiri radikal” dan bersikeras bahwa “tidak ada yang membenarkan” kerusuhan. Namun bagi banyak demonstran, kemarahan mereka bukan tentang kekerasan, melainkan tentang pengabaian yang telah berlangsung terlalu lama.
Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban
“Kami berjuang karena biaya hidup terlalu tinggi, harga bahan bakar terlalu mahal, dan siswa sekolah menengah diserang di seluruh negeri hanya karena mereka mencoba memprotes dan menuntut lebih banyak guru serta kondisi pendidikan yang layak,” kata Lola, seorang demonstran berusia 19 tahun di Paris.
Italia: “Turunkan Senjata, Naikkan Upah!”
Di Italia, gelombang protes memiliki warna yang sedikit berbeda. Jika di Prancis tuntutan utama adalah biaya hidup dan pendidikan, di Italia ada dimensi tambahan yang kuat: penolakan terhadap militerisme.
Pada 24 Oktober, lebih dari 100.000 orang turun ke jalan di Roma, Milan, Turin, Bologna, dan Florence. Mereka memprotes kenaikan biaya hidup sekaligus menentang peningkatan anggaran militer pemerintah. Di Roma, demonstran bahkan menerobos masuk ke Colosseum.
Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa
Serikat buruh USB telah menyerukan mogok kerja umum pada 30 Oktober dengan slogan, “Turunkan senjata, naikkan upah. Blokir semuanya!”. Aksi ini akan melibatkan pekerja dari sektor sekolah, pelabuhan, hingga kesehatan, serta gerakan mahasiswa dan pro-Palestina.
Sembilan wali kota dari partai kiri-tengah, termasuk wali kota Roma, Milan, Naples, Turin, dan Bologna, telah menyerukan pertemuan darurat dengan pemerintah, dengan menyatakan bahwa “biaya hidup, perumahan, energi, dan transportasi menekan keluarga, pekerja, dan bisnis di seluruh Italia”.
Spanyol: Kemarahan Anak Muda Barcelona
Di Barcelona, Spanyol, protes pada 24 Oktober dimulai sebagai aksi solidaritas dengan pelajar Prancis. Sekitar 600 pemuda berkumpul di Plaça de Catalunya dengan nama “Lycées indignés”, sebuah gema dari gerakan pelajar Prancis.
Baca Juga: Rekam Jejak pada Penjajah Israel: Ketika Panggung Borobudur dan Jakarta Dipertaruhkan demi Bocelli
Namun, aksi itu dengan cepat berubah menjadi kerusuhan. Sekelompok demonstran berpakaian hitam menyerang toko-toko, membakar barikade, dan melempari polisi dengan petasan dan batu. Sebanyak 14 toko dirusak, dan lebih dari 100 orang ditangkap, termasuk 72 di antaranya adalah anak di bawah umur.
Yang menarik, protes di Barcelona tidak memiliki pemimpin resmi dan tidak terkait dengan isu tunggal tertentu. Menurut para peserta, mereka mengikuti contoh demonstrasi massal yang sedang berlangsung di negara-negara Eropa lainnya.
Ini menunjukkan bahwa semangat protes telah menjadi fenomena lintas batas, sebuah gelombang kemarahan generasi muda yang tidak lagi percaya pada sistem yang ada.
Portugal: Krisis Perumahan dan Tenda-Tenda di Lapangan
Baca Juga: Muhammad adalah Nama Mulia
Portugal menghadapi salah satu krisis perumahan terparah di Eropa. Harga properti telah lebih dari dua kali lipat sejak 2017, dan sewa untuk kontrak baru hampir dua kali lipat.
Pada 19 Oktober, polisi Portugal mengevakuasi kamp protes di Lisbon dan Porto. Di Lisbon, aktivis telah mendirikan sekitar 200 tenda di Rossio Square sejak Sabtu sebelumnya. Di Porto, tenda-tenda telah berdiri selama 10 hari.
Sebanyak 55 orang ditahan karena menolak meninggalkan area secara sukarela . Pada 24 Oktober, sekitar 25.000 orang kembali turun ke jalan di Lisbon untuk menuntut tindakan pemerintah terhadap krisis perumahan.
Para demonstran menuntut agar pemerintah mencabut rancangan undang-undang yang mempermudah penggusuran dan menghapus pembatasan sewa untuk kontrak baru, sebuah kebijakan yang telah lolos pembacaan pertama di parlemen.
Baca Juga: Tiga Tahun Thufan Al-Aqsa: Gaza Bertahan, Perlawanan Berlanjut, Solidaritas Dunia Berpihak
Albania: Dari Proyek Trump ke Kemarahan Anti-Korupsi
Di Tirana, Albania, protes yang awalnya dipicu oleh proyek hotel mewah yang terkait dengan keluarga Presiden AS Donald Trump telah berkembang menjadi gerakan anti-korupsi yang lebih luas.
Sejak pertengahan Oktober, ribuan orang, terutama mahasiswa dan akademisi, turun ke jalan menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama. Mereka mengecam korupsi, kondisi pendidikan yang memburuk, dan masa depan yang suram di negara yang telah kehilangan lebih dari 1,5 juta warganya sejak jatuhnya komunisme.
Pada 24 Oktober, polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan demonstran yang melempari gedung Kementerian Pendidikan dengan batu. Lebih dari 300 orang terluka dalam gelombang protes selama beberapa pekan, sebagian besar adalah polisi.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Yang menarik, demonstran Albania menjauhkan diri dari partai politik mana pun. Mereka meneriakkan “Rama ke penjara” dan “Berisha ke penjara”, menyalahkan seluruh kelas politik atas krisis yang melanda.
Pola yang Sama, Kemarahan yang Berbeda
Jika ditarik benang merah, ada beberapa pola yang muncul dari gelombang protes ini:
Pertama, biaya hidup adalah pemicu utama. Di Prancis, Italia, dan Spanyol, demonstran menuntut upah yang lebih tinggi, harga energi yang terjangkau, dan akses terhadap perumahan yang layak. Di Portugal, krisis perumahan menjadi fokus utama.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Kedua, ada kekecewaan terhadap prioritas pemerintah. Di Italia, protes terhadap anggaran militer menjadi sorotan. Di Prancis, banyak demonstran merasa pemerintah lebih peduli pada dukungan untuk Ukraina daripada kesejahteraan rakyatnya sendiri .
Ketiga, generasi muda menjadi penggerak utama. Dari pelajar sekolah menengah di Prancis hingga mahasiswa di Albania dan Spanyol, anak-anak muda yang merasa masa depannya terancam menjadi motor penggerak protes ini.
Keempat, protes sering berujung kekerasan—tetapi tidak selalu dimulai dari kekerasan. Di banyak kota, aksi damai berubah menjadi kerusuhan ketika kelompok-kelompok tertentu, yang oleh pemerintah disebut “ekstremis kiri” atau “provokator”, bergabung dan memanfaatkan situasi.
Begitulah, di jalanan Paris, Lisbon, Tirana, dan Barcelona, ada satu suara yang sama: kami lelah. Bukan lelah berdemonstrasi, tetapi lelah merasa tidak didengar.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Eropa boleh sibuk dengan geopolitik dan anggaran militer, tetapi rakyatnya sedang menuntut hal yang paling sederhana, hidup yang layak di negeri yang mereka sebut rumah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic