Washington, MINA – Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir sipil yang mencakup mekanisme pengawasan bilateral. Perjanjian tersebut menjadi tonggak baru dalam hubungan strategis kedua negara di bidang energi, sekaligus memperkuat komitmen terhadap penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Penandatanganan dilakukan di Washington, Amerika Serikat, Kamis (23/7) sebagai bagian dari penguatan hubungan strategis kedua negara di sektor energi dan teknologi, sekaligus memastikan pengembangan program nuklir Saudi tetap berada dalam koridor penggunaan damai.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright dan Menteri Energi Arab Saudi (HRH) Pangeran Abdul Aziz bin Salman. The Washington Post melaporkan.
Kesepakatan tersebut mengatur kerja sama dalam pengembangan energi nuklir sipil, termasuk transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pembentukan sistem pengawasan bersama.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Melalui mekanisme itu, Washington dan Riyadh akan melakukan koordinasi teknis, pertukaran informasi, serta penerapan standar keselamatan dan keamanan nuklir guna mencegah penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan militer.
Pemerintah Amerika Serikat menjelaskan bahwa kerja sama tersebut bertujuan mendukung diversifikasi sumber energi Arab Saudi di bawah program Vision 2030, yang menargetkan pengurangan ketergantungan terhadap minyak bumi. Selain memenuhi kebutuhan listrik domestik yang terus meningkat, energi nuklir juga diproyeksikan mendukung pengembangan industri nasional dan pencapaian target pengurangan emisi karbon.
Bagi Amerika Serikat, kesepakatan ini membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan teknologi dan energi nuklirnya untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur nuklir sipil di Arab Saudi.
Di sisi lain, Riyadh memperoleh akses terhadap teknologi, pelatihan, dan pengalaman yang dibutuhkan untuk membangun industri nuklir yang memenuhi standar internasional.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Meski demikian, kerja sama tersebut mendapat perhatian luas dari komunitas internasasional mengingat isu nonproliferasi nuklir di kawasan Timur Tengah. Mekanisme pengawasan bilateral menjadi faktor penting untuk memastikan seluruh aktivitas nuklir Arab Saudi tetap bersifat sipil dan transparan.
Arab Saudi sendiri berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi, penelitian, dan pengembangan teknologi damai.
Kesepakatan nuklir ini juga dinilai memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas. Selain mempererat kemitraan strategis Washington-Riyadh, kerja sama tersebut hadir di tengah meningkatnya dinamika keamanan Timur Tengah.
Namun, beredar berita yang menyatakan, Trump mensyaratkan Saudi harus mau melakukan normalisasi dengan Israel jika menginginkan dapat mengembangkan nuklir di negaranya. []
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic