Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dakwah Berjamaah, Warisan Nabi Ibrahim dan Jalan Pembebasan Al-Aqsa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 6 Juli 2026 - 03:39 WIB

Senin, 6 Juli 2026 - 03:39 WIB

48 Views ㅤ

Masjid Ibrahimi di Kota Al-Khalil, Palestina. (Foto: Arabi21)

DI TENGAH gelapnya hegemoni dan angkara murka penjajahan Zionis Israel yang terus mencabik-cabik kesucian tanah para Nabi, kita dipanggil untuk kembali menapaki jejak awal dakwah yang penuh berkah.

Dakwah yang bukan sekadar seruan individu, melainkan gerakan kolektif yang mengikat hati dalam satu ikatan keimanan. Dialah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, Bapak Para Nabi (Abul Anbiya), kekasih Allah yang begitu dihormati oleh warga Palestina, yang namanya abadi dalam sejarah dan sanubari setiap muslim di bumi Al-Quds.

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam pulalah Nabi yang mendakwahkan kehidupan berjamaah bagi umatnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Surat Asy-Syura ayat 13:

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ

“Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.” (QS. Asy-Syura [42]: 13).

Ayat ini menegaskan bahwa misi para Nabi, dari Nuh ‘Alaihis Salam hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihis Salam, adalah satu, yaitu menegakkan agama dengan berjama’ah dan menjauhi perpecahan. Dan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah salah satu pilar terpenting dalam rantai dakwah ini.

Beliau memulai dakwahnya dari lingkungan terdekat, kepada ayahnya, Azar, seorang pembuat patung berhala. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menyeru ayahnya untuk meninggalkan kesyirikan. Namun ketika penolakan datang, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam tidak berhenti. Ia melanjutkan dakwah kepada kaumnya yang menyembah bintang-bintang dan berhala, dengan metode yang cerdas dan penuh hikmah.

Dari sinilah dakwah berjamaah dimulai, dari satu keluarga, lalu meluas ke satu kaum, hingga akhirnya menjadi gerakan besar yang melintasi zaman.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Nabi Ibrahim Hijrah ke Palestina

Perjuangan dakwah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam membawanya ke negeri yang diberkahi, yaitu Palestina. Ia meninggikan Kembali pondasi Masjdil Aqsha di Kota Al-Quds (Yerusalem), yang pondasinya sudah dibangun oleh Nabi Adam ‘Alaihis Salam.

Selanjutnya, bersama keluarganya, ia menetap di kota yang kemudian dikenal sebagai Al-Khalil, kota sahabat kekasih Allah, atau yang oleh dunia Barat disebut Hebron.

Di kota inilah makam Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, putranya Ishak, dan cucunya Nabi Yaqub ‘Alaihis Salam berada, bersama istri-istri mereka. Tempat ini menjadi lokasi Masjid Al-Ibrahimi atau yang dikenal sebagai Al-Haram Al-Ibrahimi, situs suci yang dihormati oleh umat Islam sebagai tempat suci keempat setelah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Selama berabad-abad, Masjid Al-Ibrahimi menjadi pusat peribadatan dan ziarah umat Islam. Para khalifah dan sultan dari Umayyah hingga Mamluk membangun, memelihara, dan memuliakannya sebagai warisan keislaman yang tak ternilai.

Namun, ketika penjajahan Zionis memasuki tanah Palestina, sejak 1948, kesucian itu mulai terusik. Beranjak tahun 1967, penjajah Zionis Israel secara bertahap mulai mencampuri urusan Masjid Al-Ibrahimi. Mereka membatasi akses umat Islam, mengizinkan pemukim Yahudi melakukan ritual di dalamnya, dan melarang azan berkumandang.

Puncaknya adalah peristiwa kelam pada 25 Februari 1994, ketika seorang pemukim Yahudi fanatik bernama Baruch Goldstein memasuki Masjid Al-Ibrahimi saat jamaah sedang sujud dalam shalat Shubuh. Ia melepaskan tembakan, membunuh 29 jamaah dan melukai lebih dari 150 lainnya. PBB kemudian mengeluarkan Resolusi 904 yang mengutuk keras pembantaian tersebut.

Setelah tragedi berdarah itu, Israel membagi Masjid Al-Ibrahimi menjadi dua bagian: 63% untuk Yahudi dan hanya 37% untuk Muslim. Bahkan hingga hari ini, klaim Zionis terus berlanjut.

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Pada Juni 2026, Zionis Israel mulai mengambil alih kewenangan perencanaan dan konstruksi di situs tersebut, melanggar Kesepakatan Hebron 1997. Mereka juga melarang azan selama sepuluh hari berturut-turut dan melakukan berbagai upaya untuk mengubah identitas Islami masjid ini.

Dakwah Awal Ibrahim, Berjamaah untuk Membebaskan

Ketika penjajah dengan begitu berani menodai makam kekasih Allah dan mengklaimnya sebagai milik mereka, kita tidak boleh diam. Kita tidak boleh terpecah-belah. Karena perpecahan adalah pintu masuk kehinaan, sedangkan persatuan adalah kunci kemenangan.

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam mengajarkan kita satu hal, dakwah berjamaah dimulai dari kesadaran kolektif. Ia tidak berdakwah sendiri lalu meninggalkan kaumnya. Ia membangun komunitas, mengikat hati, dan menggerakkan mereka bersama-sama dalam satu misi tauhid.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Maka, untuk membebaskan Al-Aqsha dan memerdekakan Palestina, kita harus menghidupkan kembali semangat jamaah ini. Kita harus bersatu dalam satu barisan, satu tujuan, satu doa, untuk mengembalikan kehormatan tanah para Nabi ke pangkuan umat Islam.

Ingatlah, ketika kita bersatu, pertolongan Allah pasti datang. Sebagaimana firman-Nya:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff [61]: 4).

Karena itu, ketika Donald Trump, Amerika Serikat dengan Board of Peace-nya, hendak mengelola Gaza, Palestina, maka jawaban kita adalah bahwa kita tidak butuh penolong dari Board of Peace (BoP). BoP hanya ingin melanggengkan penjajahan. Kita tidak butuh izin dari mereka yang memusuhi Islam. Kita hanya butuh kembali kepada Allah, dan kembali kepada persatuan umat, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan seluruh Nabi.

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Begitulah, Masjid Al-Ibrahimi di Al-Khalil dan Masjidil Aqsa di Al-Quds adalah dua pusat keberkahan yang tak terpisahkan. Keduanya adalah warisan para Nabi. Keduanya adalah cermin kehormatan umat Islam.

Jika kita ingin melihat Al-Aqsa merdeka, mulailah dengan memerdekakan hati kita dari perpecahan. Hidupkan kembali dakwah berjamaah. Satukan barisan. Dan yakinlah, pertolongan Allah pasti datang untuk hamba-hamba-Nya yang bersatu di atas kebenaran.

Allahu Akbar, ‘izzah lil Islam wal Muslimin. Al-Aqsa lil Muslimin, wa Al-Khalil lil Muslimin!

Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional dan Redaktur Senior MINA News.

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda