PADA akhir Februari 2026, dunia menyaksikan sebuah ironi besar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang baru saja mengumumkan pembentukan Board of Peace (Dewan Perdamaian), justru melancarkan serangan militer gabungan bersama Israel ke Iran.
Serangan yang diberi sandi Operation Epic Fury, dilakukan di tengah proses perundingan yang tengah berlangsung di Oman, tentu mengejutkan banyak pihak dan mencoreng narasi perdamaian yang coba dibangunnya.
Peristiwa ini bukanlah anomali, melainkan puncak gunung es dari kebijakan luar negeri Trump yang sejak awal menunjukkan wajah aslinya: sebagai ketua Board of War, bukan Board of Peace.
Intervensi brutal di Venezuela yang berujung pada penculikan terhadap Presiden Nicolas Maduro, ancaman aneksasi Greenland, retorika keras terhadap Kuba, hingga kini agresi militer ke Iran, membuktikan bahwa pemerintahan Trump hanya mengenal satu bahasa: bahasa perang.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Namun, sejarah dan dinamika geopolitik mengajarkan bahwa pendekatan otoriter dan ekspansionis ini pada akhirnya akan menjadi bumerang yang menghancurkan kredibilitas dan posisi Amerika Serikat sendiri, bahkan mungkin ambisi politik Trump.
Dunia melihat dengan terang-terangan, tindakan Trump di Venezuela adalah sebuah preseden berbahaya. Serangan mendadak ke Caracas untuk menangkap Kepala Negara yang berdaulat merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.
Ini adalah bentuk baru imperialisme Amerika yang tak lagi malu-malu. Trump secara blak-blakan menghubungkan intervensinya dengan kepentingan ekonomi, seperti mengekstraksi 30-50 juta barel minyak Venezuela untuk dijual “sesuai harga pasar”. Trump bahkan berjanji akan memberikan kontrak kepada perusahaan AS untuk membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang rusak.
Pola yang sama terlihat dalam obsesinya terhadap Greenland. Trump menyatakan ingin mengambil alih pulau milik Denmark itu, “baik dengan cara baik maupun buruk”. Dalih keamanan nasional dan ancaman China-Rusia digunakan untuk menutupi ambisi menguasai sumber daya alam yang melimpah, seperti mineral tanah jarang, litium, dan cadangan minyak di kawasan Arktik.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Ancaman serupa juga dilayangkan ke Kuba, yang disebutnya “siap runtuh”, serta Meksiko dan Kolombia yang diancam dengan intervensi militer untuk memerangi kartel narkoba. Ini adalah pola pikir seorang preman global yang merasa berhak atas sumber daya dan wilayah negara lain.
Puncak dari kebijakan perang Trump adalah serangan Bersama Israel ke Iran. Yang membuat langkah ini sangat tercela adalah pengkhianatan terhadap proses diplomasi itu sendiri. Serangan diluncurkan tepat ketika Oman, sebagai mediator, tengah optimis dengan perkembangan positif perundingan nuklir antara AS dan Iran. Tindakan ini menunjukkan bahwa bagi Trump, perundingan hanyalah alat untuk menciptakan celah, bukan untuk mencari solusi damai.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan sebelumnya telah menuding Trump munafik, berbicara tentang perdamaian namun justru memprovokasi perang. Serangan ini, yang konon bertujuan menggagalkan program nuklir Iran, justru melumpuhkan kemampuan diplomasi AS untuk selama-lamanya. Tak ada lagi kepercayaan yang tersisa untuk bernegosiasi dengan Washington. Trump telah menunjukkan bahwa “berteman dengan AS adalah fatal.”
Kritik terbesar terhadap pendekatan perang Trump adalah bahwa ia tidak lagi sekadar ancaman, tetapi telah mulai menjadi bumerang yang menghantam dirinya dan stabilitas global. Laporan dari CNBC mengungkapkan bahwa perang dengan Iran telah memecah belah pandangan staf Gedung Putih yang saling tarik-menarik.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Akibat saling tarikan itu, pesan Trump menjadi kacau balau. Ia mengatakan “kita menang” di satu sisi, namun di sisi lain berkata “kita harus menyelesaikan pekerjaan ini”. Kekacauan ini merefleksikan seorang pemimpin yang kehilangan kendali atas narasinya sendiri, terjebak oleh perang yang ia mulai sendiri.
Lebih dari itu, serangan ke Iran telah membuat sekutu-sekutu AS menjauh. Eropa dan negara-negara Teluk mulai apatis menghadapi perilaku AS yang tak bisa diprediksi. Negara-negara Teluk, yang menjadi basis militer AS, justru harus menanggung serangan balasan dari Iran, membuat warga dan infrastruktur mereka terancam.
Begitulah, Donald Trump mungkin menganggap dirinya sebagai negosiator ulung dan pembawa perdamaian. Namun, rekam jejaknya berbicara lain: ia adalah presiden perang. Intervensi di Venezuela, ancaman ke Greenland dan Kuba, serta serangan ke Iran adalah bukti bahwa ia lebih memilih kekuatan militer daripada diplomasi.
Bahasa perang adalah bahasa yang destruktif, tidak hanya bagi korbannya, tetapi juga bagi penuturnya. Dengan memicu konflik di berbagai front, Trump telah menciptakan ketidakstabilan global yang memicu krisis energi, menjauhkan sekutu, dan memecah belah pemerintahannya sendiri.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Jika ia terus memegang kendali Board of War ini, kehancuran yang akan ia bawa bukan hanya bagi negara lain, tetapi juga bagi warisan politik dan posisi Amerika Serikat di panggung dunia. Bumerang itu telah terlempar, dan kini ia mulai berputar Kembali, menerjang dirinya sendiri. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
















Mina Indonesia
Mina Arabic