SETIAP 17 Agustus, lagu “Hari Merdeka” hampir selalu terdengar di berbagai penjuru Indonesia. Lagu ciptaan Husein Muthahar itu bukan sekadar lagu wajib nasional, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif bangsa dalam merayakan kemerdekaan. Di balik lagu yang membangkitkan semangat tersebut, terdapat sosok yang juga ikut menjaga Merah Putih dan membangun tradisi pengibaran Bendera Pusaka.
Ketika bulan Agustus tiba, suasana kemerdekaan segera terasa. Bendera Merah Putih menghiasi jalan, sekolah, perkantoran, hingga halaman rumah. Berbagai perlombaan digelar dan lagu-lagu perjuangan kembali diperdengarkan.
Di antara lagu yang hampir tidak pernah absen adalah “Hari Merdeka”.
Lagu tersebut memiliki irama mars yang tegas dan penuh semangat. Liriknya sederhana, tetapi kuat menggambarkan kebanggaan atas kemerdekaan Indonesia. Lagu ini pula yang membuat nama Husein Muthahar terus dikenang setiap kali bangsa Indonesia memperingati 17 Agustus.
Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits
Namun, Muthahar bukan hanya seorang komponis. Ia adalah seorang pejuang, abdi negara, tokoh kepanduan, sekaligus sosok yang memiliki peran penting dalam sejarah Bendera Pusaka Merah Putih.
Husein Muthahar, Sosok di Balik Lagu “Hari Merdeka”
Husein Muthahar lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916 dengan nama lengkap Husein bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar.
Ia memperoleh pendidikan dasar hingga menengah di Semarang. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Muthahar kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada 1946.
Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa
Namun, pergolakan mempertahankan kemerdekaan membuat perjalanan pendidikannya tidak berlangsung lama.
Muthahar memilih meninggalkan bangku kuliah dan terlibat dalam perjuangan revolusi. Ia bergabung dengan para pemuda nasionalis dan turut terlibat dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa bagi Muthahar, kemerdekaan bukan sekadar gagasan yang dirayakan, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipertahankan.
Semangat itulah yang kemudian juga hadir dalam karya-karya musiknya.
Baca Juga: Abu Dzar al-Ghifari Sahabat Nabi yang Memilih Hidup Sederhana
Lagu “Hari Merdeka” dan Semangat 17 Agustus
“Hari Merdeka” menjadi salah satu karya Muthahar yang paling dikenal masyarakat Indonesia.
Lagu ini kemudian melekat kuat dengan perayaan kemerdekaan. Setiap 17 Agustus, alunan melodinya kembali terdengar dalam upacara bendera, acara perlombaan, pertunjukan seni, hingga berbagai kegiatan masyarakat.
Kekuatan lagu tersebut terletak pada karakter marsnya yang bersemangat. Musiknya memberikan nuansa heroik dan membangkitkan kebanggaan sebagai bangsa yang telah merdeka.
Baca Juga: Salman al-Farisi: Sang Pencari Kebenaran dari Persia
Karena itu, “Hari Merdeka” tidak hanya berfungsi sebagai lagu nasional. Dalam perjalanan waktu, lagu tersebut menjadi semacam soundtrack perayaan kemerdekaan Indonesia.
Menariknya, penciptanya sendiri merupakan seseorang yang mengalami langsung masa-masa awal Republik Indonesia.
Muthahar tidak berada jauh dari sejarah kemerdekaan. Ia hidup dalam masa revolusi, bekerja untuk negara, dan kemudian ikut membangun tradisi kenegaraan yang berkaitan erat dengan perayaan 17 Agustus.
Bukan Sekadar Pencipta Lagu
Baca Juga: Miahan Khan: Serdadu India yang Memilih Indonesia Setelah Mendengar Takbir
Jejak Muthahar dalam sejarah Indonesia jauh lebih luas daripada dunia musik.
Ia pernah mengabdi di lingkungan Istana Presiden di Yogyakarta. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada Desember 1948, Yogyakarta menjadi sasaran pendudukan.
Dalam situasi genting tersebut, Muthahar dipercaya untuk menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih agar tidak jatuh ke tangan Belanda.
Bagi generasi yang hidup pada masa revolusi, Bendera Pusaka bukan sekadar simbol seremonial.
Baca Juga: Mush’ab bin Umair, Duta Islam Pertama Pembuka Jalan ke Madinah
Merah Putih merupakan lambang keberadaan Republik Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya. Menyelamatkan bendera berarti ikut menjaga kehormatan dan simbol negara.
Muthahar kemudian melanjutkan pengabdiannya melalui berbagai jabatan pemerintahan. Ia pernah dipercaya menjadi sekretaris Panglima Angkatan Laut di Yogyakarta, bekerja di lingkungan pemerintahan, hingga kemudian menjalani karier diplomatik.
Jabatan terakhirnya sebelum pensiun adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Vatikan. Ia pensiun pada 1974.
Penggagas Tradisi Paskibraka
Baca Juga: Hudzaifah bin Yaman: Pemegang Rahasia Nabi dan Sahabat yang Mengetahui Jejak Kemunafikan
Nama Husein Muthahar juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Pada peringatan ulang tahun pertama Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1946, Presiden Soekarno memberikan tugas kepada Muthahar untuk menyusun tata cara upacara pengibaran bendera.
Muthahar kemudian memilih sejumlah pemuda dari berbagai daerah yang berada di Yogyakarta untuk menjadi petugas pengibar bendera.
Gagasannya sederhana tetapi memiliki makna kebangsaan yang kuat: para pengibar bendera harus merepresentasikan keberagaman Indonesia.
Baca Juga: Mengharukan, Ini Kisah Nadia Mohamed hingga Menjadi Wali Kota di Amerika Serikat
Dari gagasan tersebut, tradisi pengibaran Bendera Pusaka terus berkembang hingga kemudian dikenal sebagai Paskibraka.
Pada masa berikutnya, Muthahar juga ikut menyusun pola formasi pengibaran bendera yang terdiri atas kelompok 17, 8, dan 45.
Angka tersebut merujuk pada tanggal bersejarah bangsa Indonesia: 17-8-1945.
Dengan demikian, tata upacara pengibaran bendera tidak sekadar menjadi rangkaian protokol kenegaraan. Di dalamnya terdapat pesan sejarah tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Sosok Suahasil Nazara: Wakil Menkeu Era Jokowi yang Kini Jadi Menkeu Prabowo
Musik dan Kepanduan untuk Membangun Karakter Bangsa
Muthahar juga dikenal sebagai tokoh penting dalam dunia kepanduan.
Ia berperan dalam proses peleburan berbagai organisasi kepanduan hingga terbentuk Gerakan Pramuka.
Kecintaannya terhadap kepanduan juga dituangkan melalui karya musik. Selain “Hari Merdeka”, ia menciptakan sejumlah lagu kepanduan, di antaranya “Gembira”, “Tepuk Tangan Silang-silang”, “Mari Tepuk”, “Slamatlah”, “Jangan Putus Asa”, “Saat Berpisah”, dan “Hymne Pramuka”.
Baca Juga: Jejak Dakwah Ustaz Adib di Tanah Buddha Kamboja, Islamkan Ribuan Warga
Melalui lagu dan kepanduan, Muthahar ikut menanamkan nilai disiplin, kebersamaan, patriotisme, dan cinta Tanah Air kepada generasi muda.
Di sinilah warisan Muthahar menjadi menarik. Ia tidak hanya ikut mempertahankan kemerdekaan pada masa revolusi, tetapi juga ikut membangun cara generasi setelahnya mengingat dan merayakan kemerdekaan.
Lagu yang Menjembatani Generasi
Kini, lebih dari delapan dekade setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, “Hari Merdeka” tetap hidup.
Generasi yang lahir jauh setelah Muthahar wafat masih menyanyikan lagu tersebut dalam upacara sekolah. Anak-anak menyanyikannya dalam perlombaan 17 Agustus. Lagu yang sama juga berkumandang dalam berbagai acara resmi kenegaraan.
Muthahar sendiri telah meninggal dunia di Jakarta pada 9 Juni 2004.
Namun, kematiannya tidak membuat karyanya ikut berakhir.
Setiap kali lagu “Hari Merdeka” dinyanyikan, namanya kembali hadir dalam ingatan bangsa.
Ia seolah terus berbicara kepada generasi yang tidak pernah mengalami perang kemerdekaan, bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini memiliki sejarah panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit.
HUT ke-81 RI dan Warisan Husein Muthahar
Pada HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, lagu “Hari Merdeka” kembali menemukan relevansinya.
Kemerdekaan tidak hanya perlu dirayakan dengan upacara dan berbagai kegiatan seremonial. Kemerdekaan juga perlu dipahami sebagai warisan yang harus dijaga.
Husein Muthahar telah memberikan warisan dengan caranya sendiri.
Ia menulis lagu yang membuat masyarakat mengingat kemerdekaan. Ia ikut menyelamatkan Bendera Pusaka. Ia merancang tradisi pengibaran bendera. Ia membina kepanduan dan generasi muda.
Semua itu berpulang pada satu gagasan besar: kemerdekaan harus terus hidup dalam ingatan dan karakter generasi penerus.
Maka, ketika lagu “Hari Merdeka” kembali menggema pada setiap 17 Agustus, yang terdengar bukan hanya sebuah lagu lama.
Di dalamnya ada semangat sebuah bangsa yang pernah berjuang merebut kemerdekaan.
Dan di balik lagu itu ada seorang Husein Muthahar, komponis, pejuang, abdi negara, dan penjaga tradisi kebangsaan, yang karyanya membuat semangat kemerdekaan terus dinyanyikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, mungkin itulah cara paling sederhana sebuah karya bertahan dalam sejarah: terus dinyanyikan oleh mereka yang lahir jauh setelah penciptanya tiada. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic