Prof. Madya Dr. Ahmed Abdul Malik, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM)
Pada 29 September 2025, Amerika Serikat mengungkapkan sebuah proposal berisi 20 poin yang diklaim bertujuan mengakhiri perang genosida Israel di Jalur Gaza. Proposal tersebut mencakup upaya pembebasan para sandera yang masih ditahan, pembukaan akses bantuan kemanusiaan secara penuh ke wilayah yang terkepung, serta penarikan pasukan Israel dalam tiga tahap.
Namun sejak deklarasi gencatan senjata di Jalur Gaza pada 10 Oktober 2025, Israel dilaporkan terus melanggar kesepakatan tersebut. Serangan hampir setiap hari tetap terjadi dan telah menewaskan ratusan warga Palestina.
Berdasarkan laporan Kantor Media Pemerintah di Gaza, Israel tercatat melakukan sedikitnya 875 pelanggaran gencatan senjata sejak 10 Oktober hingga 22 Desember. Pelanggaran tersebut dilakukan melalui kelanjutan serangan udara, artileri, serta penembakan langsung ke wilayah Gaza.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Kantor tersebut merinci bahwa Israel menembaki warga sipil sebanyak 265 kali, melakukan 49 kali penggerebekan ke kawasan permukiman di luar “garis kuning”, membombardir dan menembaki Gaza sebanyak 421 kali, serta menghancurkan properti warga Palestina dalam 150 kejadian. Selain itu, Israel juga dilaporkan menahan 43 warga Gaza selama sebulan terakhir.
Israel juga terus menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan warga sipil, sembari melanjutkan penghancuran rumah-rumah dan infrastruktur di berbagai wilayah Gaza.
Seluruh rangkaian pelanggaran tersebut berlangsung di bawah pengawasan pemerintah Amerika Serikat yang menjadi pelopor perjanjian gencatan senjata. Namun sebagaimana yang kerap terjadi, setiap kali rezim Zionis Israel melanggar perjanjian dan kesepakatan, sikap Amerika Serikat cenderung abai. Sebaliknya, ketika Hamas melakukan respons, kecaman keras segera dilontarkan oleh negara yang mengklaim diri sebagai pelopor demokrasi dan penjaga perdamaian dunia.
Yahudi dan Sifat Melanggar Perjanjian
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Secara pribadi, penulis tidak pernah menaruh kepercayaan pada perjanjian perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat, sebagaimana juga tidak mempercayai janji-janji rezim Zionis Israel.
Sikap ini berangkat dari sejarah panjang Bani Israil yang berulang kali melanggar perjanjian dan kesepakatan, menentang perintah Allah Ta‘ala, melampaui batas-batas-Nya, serta membunuh para nabi, rasul, dan orang-orang yang menyeru kepada keadilan.
Al-Qur’an al-Karim mengungkap berbagai penyimpangan dan kejahatan yang dilakukan Bani Israil terhadap para nabi dan rasul mereka. Kitab suci tersebut juga menyoroti sikap mereka yang menyimpang dalam menyikapi nikmat Allah Ta‘ala yang tak terhitung jumlahnya.
Di antara nikmat itu adalah pemilihan Allah atas mereka di antara umat-umat lain pada masanya, dengan mengutus para nabi dari kalangan mereka dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala yang mengisahkan perkataan Musa ‘alaihis salam kepada kaumnya:
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia menjadikan di antara kalian para nabi dan menjadikan kalian sebagai raja-raja, serta memberikan kepada kalian apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat manusia.’” (QS. Al-Mā’idah: 20)
Al-Qur’an secara konsisten mengingatkan mereka akan nikmat tersebut dan menuntut agar mereka menepati perjanjian Allah dengan beriman kepada penutup para rasul, Nabi Muhammad SAW, yang mereka kenal sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun, tabiat buruk tersebut tetap enggan berubah.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa pengkhianatan, penyimpangan, dan tipu daya menjadi karakter yang terus berulang. Kitab suci itu bahkan berbicara kepada orang-orang Yahudi pada masa Nabi Muhammad SAW tentang perbuatan nenek moyang mereka seakan-akan merekalah yang melakukannya. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan tabiat yang tidak berubah dari generasi ke generasi.
Alih-alih menepati perjanjian, memenuhi seruan Tuhan, dan mengikuti rasul nabi yang ummi sebagaimana tercantum dalam Taurat, mereka justru berpaling, mengingkari, dan merancang berbagai tipu daya terhadap Rasulullah SAW.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Al-Qur’an mencatat bagaimana mereka meremehkan ajaran agama hingga berani mengubah dan memalsukan Kitab Allah demi keuntungan duniawi yang sedikit. Allah Ta‘ala berfirman:
“Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mengatakan: ‘Ini dari Allah,’ untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.” (QS. Al-Baqarah: 79)
Al-Qur’an juga mencatat kelancangan mereka yang belum pernah dilakukan oleh umat lain, hingga berani menyifati Allah dengan sifat kikir, sebagaimana firman-Nya:
“Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu.’” (QS. Al-Mā’idah: 64)
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Bahkan mereka juga menyifati Allah dengan kefakiran, Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan, sebagaimana firman-Nya:
“Sungguh Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya.’” (QS. Āli ‘Imrān: 181)
Penjelasan Al-Qur’an mengenai tabiat dan karakter Bani Israil merupakan peringatan bagi kaum Muslimin agar tidak tertipu oleh kata-kata manis maupun janji-janji yang tidak disertai komitmen keimanan. Sebab, setiap perjanjian yang mereka buat kerap berujung pada pengingkaran, sebagaimana ditegaskan Allah Ta‘ala:
“Apakah setiap kali mereka mengadakan perjanjian, sebagian dari mereka melemparkannya? Bahkan kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Al-Baqarah: 100)
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
Tidak Memperhatikan Ikatan Keimanan dan Perjanjian
Allah Ta‘ala menjelaskan bahwa mengingkari perjanjian merupakan salah satu sifat yang melekat akibat rusaknya sistem nilai setelah mereka mempermainkan syariat Tuhan. Kepentingan duniawi menjadi orientasi utama, sehingga pengkhianatan dan pelanggaran batas tidak lagi dipandang sebagai persoalan.
Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai pihak yang “tidak memelihara terhadap seorang mukmin pun hubungan kekerabatan dan tidak pula perjanjian” (QS. At-Taubah: 10), sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Ath-Thabari.
Allah SWT juga berfirman: “Sungguh engkau akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Mā’idah: 82)
Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, permusuhan tersebut berakar dari kekufuran yang dilandasi kedurhakaan, kesombongan, penolakan terhadap kebenaran, serta pelecehan terhadap para pembawa ilmu. Karena itu pula mereka membunuh banyak nabi dan berulang kali berupaya mencelakai Rasulullah SAW melalui berbagai cara.
Inilah gambaran akhlak dan tabiat mereka dalam hubungan dengan Allah SWT dan para nabi-Nya. Maka menjadi pertanyaan besar, bagaimana mungkin mereka akan menjaga hak-hak kaum mukmin, sementara hak Allah sendiri tidak mereka jaga sebagaimana mestinya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Nahkoda Baru PBNU: Akankah Gus Kikin dan Cak Imin Bersatu?
















Mina Indonesia
Mina Arabic