Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Kapal-Kapal Itu Dicegat

Redaksi Editor : Arief Rahman - Selasa, 19 Mei 2026 - 22:16 WIB

Selasa, 19 Mei 2026 - 22:16 WIB

51 Views ㅤ

Delegasi Indonesia untuk Global Sumud Flotilla [Foto: GPCI/MINA]

LAUT Mediterania, 19 Mei 2026, sebanyak 332 aktivis kemanusiaan dan jurnalis internasional yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) ditangkap dan ditahan oleh tentara Israel dalam operasi pencegatan besar-besaran. Misi yang semuanya diikuti oleh warga sipil itu bertolak dari Barcelona, Spanyol, pada 12 April 2026, membawa bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza yang diblokade.

Dari 57 kapal peserta misi, sekitar 40 berhasil dicegat Israel. Pencegatan pertama terjadi di perairan Yunani. Meski lebih dari 170 peserta sempat ditangkap, sebagian relawan tidak menyerah,  mereka melanjutkan perjalanan dari Marmaris, Turki, menggunakan kapal lain. Dan kembali dicegat.

Di antara yang ditahan terdapat lima warga negara Indonesia, tiga di antaranya adalah jurnalis yang selama ini aktif meliput isu kemanusiaan dan Palestina: Bambang Noroyono, Thoudy Badai, dan Andre Prasetyo Nugroho.

Nama misi ini, yaitu Global Sumud Flotilla bukan kebetulan. Ia adalah pernyataan ideologis. Ketika Israel mencegat kapal-kapal itu, mereka tidak hanya menangkap manusia. Mereka sedang mencoba mencegat sebuah gagasan yang terus mengalir di pikiran masyarakat internasional, tidak bisa ditahan.

Baca Juga: Ketulusan Cinta Indonesia-Palestina, Makna Ciuman Kening Dubes Palestina kepada Imaam Yakhsyallah Mansur

Sumud, Lebih dari Sekadar Kata

صمود — Sumud. Dalam bahasa Arab, kata ini berarti teguh, pantang menyerah, bertahan dengan kepala tegak. Namun dalam konteks Palestina, sumud telah berkembang menjadi sebuah konsep perlawanan yang jauh lebih kaya maknanya.

Riset Hammad & Tribe mengidentifikasi sumud sebagai strategi koping utama warga Gaza bukan sekadar keteguhan pasif, melainkan resistensi aktif yang bermartabat: tetap tinggal di tanah sendiri, tetap membangun di atas reruntuhan, tetap berkarya di tengah kehancuran, tetap melahirkan generasi baru di bawah bombardir.

Untuk memahami ini, ada satu istilah psikologi yang perlu diketahui: koping,  yaitu cara seseorang menghadapi tekanan, kesulitan, atau situasi yang menyakitkan secara psikologis. Bukan sekadar “bersabar” atau “menahan diri”, melainkan seluruh strategi mental, emosional, dan tindakan nyata agar seseorang tetap berdiri dan bermakna di tengah kondisi yang sangat berat.

“Sumud adalah menanam pohon zaitun meski tahu kamu mungkin tidak akan memanen buahnya. Sumud adalah membuka sekolah di tenda pengungsian. Sumud adalah tetap tersenyum di depan kamera meski baru saja kehilangan rumah.”

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

Kembali ke Laut Mediterania. Para aktivis dan jurnalis yang berlayar dalam Global Sumud Flotilla 2.0 tidak sekadar membawa bantuan kemanusiaan. Mereka sedang menghidupkan sumud, bukan sebagai konsep abstrak di ruang kuliah, melainkan sebagai tindakan nyata di atas gelombang laut.

Jurnalis Bagian dari Keteguhan

Tiga jurnalis Indonesia yang kini ditahan: Bambang Noroyono, Thoudy Badai, dan Andre Prasetyo Nugroho memilih untuk hadir langsung di misi ini. Bukan karena tugas semata. Tapi karena mereka memahami bahwa pena dan kamera adalah salah satu bentuk sumud yang paling kuat.

Riset Hammad & Tribe menegaskan bahwa salah satu fungsi sumud adalah menjaga narasi,  memastikan dunia tidak lupa bahwa di balik blokade ada manusia, ada kehidupan, ada kemanusiaan yang sedang berjuang. Jurnalis yang meliput Gaza bukan sekadar menyampaikan informasi. Mereka sedang membantu mempertahankan eksistensi psikologis sebuah bangsa di hadapan dunia.

Ketika Israel menangkap para jurnalis ini, mereka justru membuktikan betapa besarnya ancaman yang dirasakan dari sebuah kamera dan sebuah pena. Kekuatan yang sungguh tidak bisa dicegat dengan senapan.

Mengapa Sumud Tidak Bisa Dicegat?

Ada paradoks yang ironis dalam setiap operasi Israel melawan Flotilla. Setiap kali sebuah kapal dicegat, namanya justru semakin dikenal. Setiap kali seorang aktivis ditangkap, wajahnya justru tersebar ke seluruh dunia. Setiap kali seorang jurnalis dipenjara, beritanya justru menjadi headline global.

Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Ini bukan kebetulan. Ini adalah logika sumud yang sudah dipahami para peneliti kesehatan jiwa: ketahanan berbasis iman dan identitas kolektif tidak bisa dihancurkan oleh kekuatan eksternal,  ia justru menguat ketika ditekan.

“Memahami cara warga sipil bertahan dan mengidentifikasi sumber ketahanan mereka dapat mempromosikan pemahaman tentang bagaimana populasi menghadapi adversitas, serta membantu melindungi kesehatan mental dan kesejahteraan warga sipil.” — Hammad & Tribe, International Review of Psychiatry, 2020

Sumud bukan tentang menang dalam satu pertempuran. Ia adalah tentang tetap ada, tetap berdiri, tetap bermakna — melampaui setiap upaya pemusnahan, baik fisik maupun psikologis.

Sumud Bukan Milik Gaza Saja

Para aktivis yang berlayar di atas kapal GSF 2.0, jurnalis Indonesia yang kini mendekam dalam tahanan Israel, PM Anwar Ibrahim yang berteriak ‘dunia tak boleh diam’  semua sedang mengucapkan satu kata yang sama dengan cara yang berbeda-beda: Sumud.

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

Sumud kini tidak lagi hanya milik warga Palestina. Ia telah menjadi warisan global umat manusia yang masih percaya pada keadilan. Ia hadir di Barcelona saat kapal pertama berlayar, ia hadir di Yunani saat pencegatan pertama terjadi, ia hadir di Turki saat para relawan tidak menyerah, dan ia hadir di sel-sel penahanan Israel saat para jurnalis kita masih memegang prinsip mereka.

Dan sejarah mencatat: belum pernah ada blokade, penjara, atau kapal perang yang berhasil mencegat sebuah gagasan yang hidup. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Rekomendasi untuk Anda