Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keutamaan Ilmu dan Janji Derajat Tinggi dari Allah

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 13 Mei 2026 - 22:48 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 - 22:48 WIB

32 Views ㅤ

Kegiatan menuntut ilmu di kelas (foto: ig)

FIRMAN Allah Su bahanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan (bagimu). Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah. Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban bahwa pada suatu hari Jumat, Rasulullah ﷺ berada di Shuffah—serambi Masjid Nabawi yang menjadi tempat belajar para sahabat—mengadakan pertemuan di tempat yang sempit. Pertemuan itu membahas tentang penghormatan terhadap para pahlawan Perang Badar.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Beberapa pahlawan Badar ternyata terlambat datang, di antaranya Syabit dan Qais. Mereka terpaksa berdiri di luar Shuffah. Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh Nabi serta para sahabat, mereka tetap berdiri menunggu tempat yang disediakan. Namun tidak ada yang memperdulikan mereka.

Melihat kejadian tersebut, Rasulullah ﷺ menjadi kecewa. Beliau lalu menyuruh orang-orang yang duduk di dekatnya untuk berdiri memberikan tempat. Beberapa orang berdiri, tetapi rasa keengganan tampak jelas di wajah mereka. Apalagi orang-orang munafik saat itu memberikan reaksi dengan maksud mencela Nabi, sambil memprotes:

“Demi Allah, Muhammad tidak adil! Ada orang yang datang lebih dahulu mendapatkan tempat duduk, tetapi disuruh berdiri untuk diberikan kepada orang yang datang terlambat.”

Maka turunlah ayat ini sebagai petunjuk dan teguran.

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Ayat ini berbicara tentang akhlak dalam pertemuan (majelis). Para sahabat biasa duduk bersama mengelilingi Nabi untuk mendengarkan ajaran-ajaran dan hikmah yang beliau sampaikan. Tentu ada yang datang lebih dahulu sehingga tempat duduk menjadi sempit. Mereka yang datang kemudian tidak lagi mendapat tempat.

Rasulullah ﷺ menganjurkan agar yang telah duduk lebih dahulu melapangkan tempat bagi yang datang kemudian. Sebab pada hakikatnya, tempat itu belum sesempit yang kita sangka. Masih ada ruang, masih ada celah. Yang sempit bukanlah tempat, melainkan hati.

Tabiat mementingkan diri sendiri adalah kesan pertama yang sering muncul dalam diri manusia: enggan memberikan tempat kepada yang baru datang. Padahal jika hati dilapangkan, tempat yang tampak sempit akan terasa luas. Inilah esensi dari perintah Allah: lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan bagimu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu diukur dengan banyaknya harta dunia. Namun kekayaan sejati adalah kaya hati (selalu merasa cukup).” (HR Bukhari dan Muslim).

Syaikh Ibnu Baththol menjelaskan bahwa hakikat kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta. Betapa banyak orang yang dilapangkan rezeki oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas. Ia selalu berusaha keras menambah harta, tanpa peduli dari mana harta itu berasal—halal, syubhat, atau haram. Ia seakan-akan miskin karena usaha kerasnya yang tak pernah berhenti.

Sebaliknya, kaya hati adalah ketika seseorang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu qana’ah (puas) dengan yang diperoleh, dan selalu ridha atas ketentuan Allah. Ia tidak tamak, tidak letih mencari harta tanpa kebutuhan, dan tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Inilah kekayaan sejati.

Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal

Ibnu Hajar Al-Atsqalani menambahkan bahwa orang yang kaya hati adalah yang selalu qana’ah dengan rezeki yang Allah beri, tidak tamak tanpa kebutuhan, dan senantiasa ridha dengan pembagian Allah yang Maha Adil.

Allah Angkat Derajat Orang Berilmu

Pada bagian akhir ayat, Allah menegaskan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Ada dua kelompok yang dijanjikan ketinggian derajat:

  1. Orang-orang yang beriman — karena iman mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Orang-orang yang diberi ilmu — karena mereka memberikan manfaat (maslahat) kepada orang lain.

Ilmu di sini tidak terbatas pada ilmu agama saja seperti akidah, tafsir, fikih, dan hadits. Ia mencakup pula ilmu-ilmu keduniaan seperti geografi, fisika, teknik, kedokteran, dan sebagainya. Sebab semua ilmu pengetahuan pada hakikatnya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat) itu hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.'” (Q.S. Al-Mulk [67]: 26).

Karena itulah, sebelum menuntut ilmu atau ketika sedang mencarinya, kita diajarkan untuk memohon kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat. Allah sendiri mengajarkan doa ini:

Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku ilmu.'” (Q.S. Thaha [20]: 114).

Dan Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَارْزُقْنِي عِلْمًا تَنْفَعُنِي بِهِ

Baca Juga: Meski Masih Kondisi Perang, Gaza Kembali Gelar Ujian Sekolah

“Ya Allah, berilah aku manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat bagiku, dan anugerahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat bagiku.” (HR An-Nasa’i).

Ilmu Menambah Takwa

Manakala seorang mukmin mendapatkan ilmu, atau kemudian memperoleh kedudukan dan keuntungan dengan ilmunya, hal itu bukanlah tujuan akhir, dan tidak pantas baginya untuk sombong atau merasa lebih baik dari orang lain. Tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal.

Seseorang mungkin hebat dalam ilmu tafsir Al-Qur’an, tetapi ketika ia membutuhkan pakaian, ia memerlukan orang yang ahli menjahit. Ia mungkin seorang profesor kedokteran, tetapi ketika ia hendak membangun rumah, ia memerlukan tukang yang ahli dalam konstruksi. Ini mengajarkan kita untuk saling menghargai, menjunjung tinggi persaudaraan (ukhuwah Islamiyah), hidup berjamaah, dan saling mendamaikan.

Baca Juga: BAZNAS dan Kemdiktisaintek Siapkan Beasiswa S2 bagi 200 Mahasiswa Palestina

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 10).

Ilmu yang Bermanfaat, Warisan Terindah

Baca Juga: Memakmurkan Masjid di Era Digital untuk Pembebasan Al-Aqsa

Orang beriman yang dianugerahi ilmu akan mengamalkannya dengan cara menshadaqahkannya kepada orang lain yang membutuhkan. Dengan demikian, ilmunya menjadi bermanfaat dan mengalirkan pahala baginya, bahkan setelah ia meninggal dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Baca Juga: Delegasi Universitas Malikussaleh Raih Dua Penghargaan di Indonesian Youth Exchange Malaysia dan Singapura

Ilmu yang bermanfaat adalah warisan paling berharga yang akan terus mengalirkan pahala kepada pemiliknya, melintasi batas waktu dan kematian.

Ilmu Menambah Rasa Takut kepada Allah

Dengan ilmunya, seorang mukmin akan semakin bertambah rasa takutnya kepada Allah dan semakin meningkat ibadahnya. Inilah ciri orang yang benar-benar berilmu—bukan sekadar pandai berbicara atau gemar berdebat, tetapi hatinya dipenuhi dengan rasa takut kepada Sang Pencipta.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Fathir [35]: 28)

Pada akhir ayat 11 Surat Al-Mujadilah, Allah berfirman:

وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ujung ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya iman yang mengiringi ilmu. Iman tanpa ilmu dapat membawa seseorang terperosok mengerjakan amal yang disangka menyembah Allah, padahal tidak. Sementara ilmu tanpa iman menjadikan pelakunya jauh dari Allah—pandai secara intelektual, tetapi hampa dari nilai-nilai ketuhanan.

Maka sempurnalah sebuah kehidupan ketika iman dan ilmu bersatu dalam diri seorang hamba. Ia akan melapangkan majelisnya, mengangkat derajat saudaranya, dan pada akhirnya Allah akan mengangkat derajatnya di dunia dan di akhirat.

Wallahu a’lam. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda