DUA pekan bukanlah waktu yang panjang. Namun ketika dua pekan itu diisi dengan langkah-langkah dakwah, perjalanan dari desa ke desa, dari kampung dekat pantai hingga lereng pegunungan, maka dua pekan terasa seperti sebuah kisah yang dalam.
Kami Tim Safari Ramadhan 1447 Aqsa Working Group (AWG) berjalan bersama. Menapaki jalan tanah yang berdebu. Kadang naik mobil, sesekali naik motor. Yang dekat-dekat cukup jalan kaki. Melewati udara pagi yang dingin di lereng pegunungan kaki Gunung Rinjani, hingga menelusuri Pantai Sedayu, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Masyarakat desa dan kota di Pulau Lombok yang dikenal sebagai Kota Seribu Masjid, sambutan walau sederhana namun hangat dan akrab. Seolah telah berkenalan lama. Padahal baru sebentar bertemu.
Duduk bersama di masjid usai tarawih, berbagi nasihat dalam kuliah tarawih dan kuliah subuh, juga kajian siang dan menjelang bukber. Isi nasihat mengingatkan tentang hakikat ibadah kepada Allah, tentang akhirat yang Allah janjikan, tentang harapan bagi umat akan pembebasan Masjidil Aqsha dan kemerdekaan Palestina.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Ada malam-malam panjang yang diisi dengan diskusi, ngobrol ringan, diselingi tawa, dan tadarus Al-Quran. Seperti ketika ngeriung bersama Pak Kades, Pak Mohsin, di Kecamatan Lembar, Lombok Barat. Ada kelelahan yang terasa ringan karena dijalani bersama. Ada persaudaraan yang tumbuh bukan karena kepentingan dunia, tetapi karena satu tujuan, yaitu menyampaikan kebaikan.
Masyarakat dari kalangan anak-anak, remaja, orang tua dan para lansia, masih bersemangat datang ke masjid, walau sudah di pertengahan Ramadhan. Tak bisa dibayangkan, orang-orang lanjut usia datang ke masjid untuk shalat Subuh berjama’ah, di lereng pegunungan yang dingin itu.
Di Gondang, Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU), NTB, tim Safari Ramadhan singgah di rumah sepasang kakek nenek, yang sedang menyiapkan makanan untuk berbuka. Pak Haji Sugiyanto namanya.
Kami duduk di saung halaman yang luas, dekat musholla keluarga. Tak terlihat anak-anak kecil. Hanya mereka berdua.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
“Anak-anak kami dan cucu kami, semua mondok Ustadz, jadi tinggal kami berdua. Sebentar lagi, akhir Ramadhan pulang, barulah ramai,” ujar Bu Hajjah.
Tim kami juga sempat menyambangi beberapa Lembaga Pendidikan, di antaranya SMAN 1 Gerung, Pesantren Aunul Ibad, dan Pesantren Darul Wahdah, semua di Lombok Barat. Agendanya adalah “Bedah Buku Masjidil Aqsa Tanggung Jawa Seluruh Umat Islam” karya Imaam Yakhsyallah Mansur dan Ali Farkhan Tsani.
Tak ketinggalan kami bersilaturrahim dari masjid ke masjid, musholla ke musholla, dan dari rumah ke rumah, untuk menjalin persaudaraan dan saling mengingatkan untuk istiqamah di jalan Allah.
Perpisahan Dakwah ke Dakwah Berikutnya
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Dan setelah dua pekan, sampailah perjalanan kami mencapai ujungnya.
Hari itu, Selasa, 10 Maret 2026, tibalah saat itu. Setelah ke NTB sejak 24 Februari. Saat langkah-langkah yang selama dua pekan berjalan bersama harus kembali ke arah masing-masing.
Tas-tas mulai dirapikan. Pelukan persaudaraan terasa lebih lama dari biasanya. Ucapan salam terasa lebih dalam maknanya.
Tak ada tangisan yang pecah. Hanya terlihat mata-mata itu berbicara. Berkaca-kaca.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Ada haru yang sulit dijelaskan. Seakan hati berkata, “Baru saja kita dipertemukan, mengapa sudah harus berpisah?”
Tetapi beginilah jalan dakwah. Kadang kita dipertemukan oleh Allah di suatu tempat yang jauh dari rumah. Dipertemukan oleh tujuan yang sama. Disatukan oleh niat yang sama: untuk hidup berjama’ah, taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lalu ketika waktunya selesai, kita kembali ke rumah masing-masing. Kembali ke keluarga masing-masing. Kembali ke medan dakwah yang lain.
Namun tentu perpisahan ini bukanlah akhir. Ia hanyalah persimpangan jalan. Sebab orang-orang yang dipertemukan oleh dakwah tidak pernah benar-benar berpisah. Mereka tetap terhubung oleh doa. Terikat oleh niat yang sama. Dan dipertemukan kembali dalam perjalanan-perjalanan berikutnya.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Barangkali nanti kita akan kembali berjalan bersama di desa lain. Di masjid lain. Di pegunungan yang lain.
Atau mungkin suatu hari Allah mempertemukan kita kembali dalam majelis yang lebih indah, di tempat yang tidak ada lagi perpisahan. Di surga-Nya. Aamiin.
Karena itu hari ini kita berpisah dengan satu harapan: Semoga langkah-langkah kecil yang kita tempuh selama dua pekan ini menjadi saksi di hadapan Allah.
Semoga setiap kata dakwah yang disampaikan menjadi cahaya bagi orang lain. Dan semoga perjalanan ini bukan perjalanan terakhir.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Semoga dakwah ini terus berlanjut. Dari desa ke desa. Dari kota ke kota. Dari rumah ke rumah. Dari hati ke hati.
Dan semoga suatu hari nanti kita dipertemukan Kembali, bukan hanya sebagai teman perjalanan di dunia, tetapi sebagai saudara yang berkumpul di bawah naungan rahmat Allah.
Aamiin. Yaa Robbal ‘Aalamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
















Mina Indonesia
Mina Arabic