Cinta tidak lahir di ruang kosong. Ia tumbuh karena sesuatu atau seseorang memiliki keutamaan. Jika kepada manusia, cinta bisa bersemi karena fisik yang menawan, harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi, atau karena pribadinya yang mulia.
Jika kepada benda atau tempat, cinta hadir karena manfaatnya, keindahannya, atau keunikannya. Semakin banyak keutamaan yang melekat, semakin besar pula rasa cinta yang menggelora di dada.
Lalu, bagaimana dengan Masjidil Aqsa? Sebuah tempat yang keutamaannya tidak usang dimakan zaman, tidak lekang oleh tekanan, dan tidak bisa dihapus oleh kekuatan apa pun. Keutamaannya langsung disampaikan oleh Allah Yang Maha Penyayang dan dipertegas oleh Rasul-Nya yang mencintai karena Allah.
Allah berfirman dalam surat Al-Isra:
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra [17]: 1).
Perhatikanlah. Dalam satu ayat yang mulia ini, Allah menyebut Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa secara beriringan, sejajar dalam kedudukan, sama-sama diberkahi sekelilingnya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pernyataan tegas bahwa keduanya adalah dua tempat suci yang sangat istimewa di hati kaum Muslimin.
Mengesampingkan salah satunya, berarti menyepelekan yang lain. Meremehkan Al-Aqsa, berarti meremehkan apa yang Allah muliakan.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Pahala Shalat di Al-Aqsa
Keberkahan di sekitar Masjidil Aqsa tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual. Rasulullah ﷺ telah memberitakan kepada kita bahwa shalat di Masjidil Aqsa memiliki keutamaan yang luar biasa lebih utama dibandingkan masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Di dalam hadits disebutkan bahwa pahala shalat di Masjidil Aqsa mencapai: 250 kali lipat, 500 kali lipat bahkan 1.000 kali lipat.
Perbedaan angka ini bukanlah pertentangan, melainkan tingkatan yang saling melengkapi. Semuanya menandakan satu kebenaran: betapa mulianya tempat ini di sisi Allah.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Bayangkan, satu rakaat shalat di sana nilainya bisa seribu rakaat di tempat lain. Sungguh, ini adalah keberkahan yang tidak bisa ditawar.
Bahkan untuk sekadar mengunjunginya, Islam memberikan perhatian istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Tidaklah seseorang mengerahkan perjalanan (khusus untuk ibadah) kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsa.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Maka, berkunjung ke Masjidil Aqsa bukanlah sekadar perjalanan wisata atau rekreasi. Ia adalah ziarah. Ia adalah perjalanan hati menuju tanah yang diberkahi. Ia adalah bentuk cinta yang diwujudkan dalam langkah kaki yang bersujud, dalam doa yang dipanjatkan di pelataran yang suci.
Dan di sanalah, di tanah yang penuh berkah itu, saudara-saudara kita, para pejuang dan murabithun (orang-orang yang berjaga), terus berdiri tegak. Mereka tidak menunggu perhatian kita. Mereka tidak bergantung pada simpati dunia. Mereka berjuang karena cinta. Cinta yang murni kepada Masjidil Aqsa, kepada tanah yang diwasiatkan oleh para nabi.
Putra-putri terbaik Palestina terus mengukir nama di barisan para syuhada. Mereka pergi dengan senyum di bibir, keyakinan di hati, dan harapan bahwa suatu saat nanti, Masjidil Aqsa akan bebas dari penjajahan.
Maka jangan pernah bertanya, “Mengapa mereka begitu teguh?” Sebab cinta sejati tidak pernah meminta alasan. Ia hanya tahu cara mengorbankan segalanya.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Al-Aqsa Bagian dari Iman
Al-Aqsa bukan sekadar bangunan batu dan kubah yang megah. Ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman kita. Ia adalah komponen penting dari rasa kepedulian dan kecintaan seorang Muslim kepada agamanya.
Jika kita tidak bisa berangkat ke sana dengan fisik, setidaknya berangkatlah dengan doa. Jika kita tidak bisa berjihad di sana dengan harta dan jiwa, setidaknya jihadilah hati kita agar tidak pernah melupakan tanah yang diberkahi itu.
Karena suatu saat nanti, ketika kaki-kaki ini diizinkan melangkah ke pelataran Al-Aqsa yang suci, kita akan menangis. Bukan karena kita tidak pernah ke sana, tetapi karena kita terlalu lama membiarkannya sendiri, terblokade, tertindas, dan terluka.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Begitulah, cinta kepada Masjidil Aqsa bukanlah sekadar perasaan yang hangat di dada. Ia adalah kewajiban yang harus diwujudkan. Ia adalah tanda iman yang harus terus dipupuk. Ia adalah amanah yang harus diwariskan dari generasi ke generasi.
Semoga Allah menanamkan dalam hati kita cinta yang tulus kepada Masjidil Aqsa dan para pejuangnya. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Al-Aqsa dalam keadaan bebas, merdeka, dan gemilang. Dan semoga Allah menerima setiap doa, setiap tetes air mata, dan setiap langkah kecil kita untuk membelanya.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
















Mina Indonesia
Mina Arabic