ADA rasa yang sulit dijelaskan melihat antusiasme para peserta Daurah Baitul Maqdis yang digagas oleh Komunitas Muslimah Jepara Peduli Palestina (KMJPP), Ahad, 25 Januari 2026.
Para peserta bukan sekadar merasakan bertambahnya pengetahuan, tetapi ada sesuatu yang menetap di hati, seperti ukiran yang pelan-pelan masuk ke dalam jiwa, lalu enggan pergi.
Baitul Maqdis, Al-Aqsha, Palestina. Ya, nama-nama itu yang selama ini mungkin sering didengar lewat berita, poster donasi, atau potongan video yang lalu begitu saja di layar ponsel. Kadang membuat sedih, kadang membuat marah, lalu tenggelam kembali di tengah kesibukan rumah, anak-anak, dan rutinitas harian.
Namun daurah kali ini menghadirkan makna Baitul Maqdis lebih dekat, lebih personal, dan lebih terasa milik semua umat Islam. Termasuk umat Islam Jepara.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Dalam Daurah Sehari Bersama Baitul Maqdis itu para peserta belajar bahwa Al-Aqsha bukan hanya masjid jauh di sana, tapi bagian dari iman, justru dekat di jiwa.
Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama, tempat Isra’ Mi’raj, sekaligus negeri yang diberkahi (Ardhul Mubarakah). Al-Aqsa berada di wilayah Baitul Maqdis, tanah para nabi utusan Allah. Karena itu dikatakan juga negeri yang disucikan (Ardhul Muqaddasah). Itulah tanah yang hari ini menjerit karena penjajahan, tetapi tetap berdiri karena doa-doa umat Islam dari seluruh penjuru negeri yang tak pernah putus.
Di ruang daurah yang dihadiri 60-an peserta, kebanyakan kaum ibu-ibu itu, mereka tampak duduk menyimak dengan mata yang penuh semangat. Bukan karena tidak tahu sama sekali, tapi Penulis yakini karena baru benar-benar tersentuh. Seolah ada kesadaran baru, “Ternyata Al-Aqsha menjadi benang merah sejak jaman Nabi Adam Alahis Salam hingga Yaumul Kiyamah. Bahkan sampai Padang Mahsyar.
Dan mungkin inilah yang paling penting, Daurah ini tidak berhenti pada rasa sedih di ruangan. Tapi berlanjut hingga usai pembelajaran. Seperti dikemukakan dalam presentasi hasil diskusi kelompok.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Ada kelompok diskusi ibu-ibu yang bertekad akan membudayakan perihal Baitul Maqdis di lingkungan keluarga masing-masing. Ada kelompok pengusaha yang ingin mengadakan temu pebisnis untuk menyokong kegiatan solidaritas Palestina. Ada juga thaifah dakwah yang berencana menyelenggarakan berbagai mimbar keumatan dengan mengusung tema Al-Aqsha, Baitul Maqdis dan Palestina. Terakhir Generasi Zet (Gen-Z) yang ingin memasifkan isu negeri penuh berkah di berbagai akun media sosial mereka.
Masya-Allah. Dari Kota Jepara, kota ukiran, kota tangan-tangan pengrajin yang terampil, muncul kesadaran bersama bahwa perjuangan harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan, ketelatenan dan keteladanan. Seperti mengukir kayu, narasi pun diukir perlahan, sabar, dan konsisten. Sedikit demi sedikit, lama-lama membukit. Satu berkas demi satu berkas, lama-lama membekas.
Bagi para ibu rumah tangga, mengukir narasi Baitul Maqdis bisa dimulai dari rumah: dari cerita sederhana kepada anak, dari doa-doa kecil yang diselipkan selepas shalat, dari pilihan tontonan dan bacaan, dan dari kepedulian yang diajarkan tanpa harus berteriak.
Bagi para generasi muda, narasi itu bisa hidup lewat tulisan, media sosial, majelis ilmu, dan obrolan sehari-hari. Mengoreksi narasi yang keliru. Menyebarkan kabar yang benar. Menghadirkan Palestina bukan sebagai isu yang jauh, tapi sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan, wujud syahadat tauhid, yang menumbuhkan kepedulian pada sesama saudaranya yang tertindas.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Tentu saja tidak semua orang harus berada di garis depan, di medan juang atau di jajaran penggerak komunitas. Ada yang berjuang dengan suara, ada yang dengan dana, ada yang dengan ilmu, ada yang dengan doa yang tak pernah putus. Yang dikhawatirkan bukanlah keterbatasan, tetapi ketidakpedulian.
Ya, Daurah Baitul Maqdis seperti mengetuk hati kita pelan-pelan, bahwa jika bukan kita yang menjaga narasi ini, lalu siapa lagi? Jika bukan sekarang kita bergerak peduli bukan di waktu sisa, lalu mau sampai kapan lagi?
Kota Jepara mungkin jauh dari Kota Al-Quds tempat Masjid Al-Aqsha berada. Namun, hati tidak mengenal jarak.
Dari kota kecil Jepara di ujung utara Jawa Tengah, mulai tumbuh komunitas yang ikut menyulam harapan, mengukir narasi yang lurus dan menjaga ingatan umat. Menjadi umat yang tidak apatis pada luka saudaranya. Bukan dengan kemarahan tanpa arah, tetapi dengan kesadaran, ilmu, dan aksi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Karena Al-Aqsha tidak hanya menunggu pembebasan tanah, tetapi juga pembebasan hati umatnya dari lupa dan abai.
Daurah ini insya-Allah bukan akhir dari perjuangan. Justru ini adalah awal dari ukiran panjang, yang semoga kelak Allah terima sebagai bagian kecil dari pembelaan kita kepada Baitul Maqdis yang mulia. Allahu Akbar!
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
















Mina Indonesia
Mina Arabic