Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjadi Muslim Prestatif, Menyalakan Kembali Cahaya Peradaban Islam

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 9 Februari 2026 - 20:30 WIB

Senin, 9 Februari 2026 - 20:30 WIB

20 Views ㅤ

Ka'bah di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. (Foto: Qari Asim MBE)

PERADABAN Islam adalah cahaya yang membimbing umat manusia dari belenggu kegelapan menuju kehidupan yang penuh kemajuan. Peradaban Islam berdiri kokoh di atas dua pilar utama: semangat ilmu pengetahuan yang tak pernah padam dan sentuhan akhlak mulia dalam setiap interaksi sosial.

Inilah peradaban yang tidak hanya memuliakan nilai-nilai kemanusiaan universal, tetapi juga memiliki visi jauh ke depan, mengubah wajah dunia dengan keseimbangan spiritual dan intelektual.

Sebagai peradaban ilahiyah, Islam membangun manusia secara holistik. Fondasinya adalah hubungan vertikal yang kuat dengan Allah Sang Pencipta (hablum minallah), yang kemudian memancar ke dalam keharmonisan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannaas), tanpa sekat suku, ras, agama, atau bangsa.

Konsep ini termaktub indah dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 112, yang menegaskan bahwa kekuatan sejati terletak pada berpegang teguh pada tali Allah dan tali perjanjian dengan sesama manusia.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

….. ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا۟ إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ ٱلنَّاسِ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,…..”. (Q.S. Ali Imran [3]: 112).

Nilai-nilai akhlak yang bersumber dari wahyu Ilahi ini bukanlah hiasan, melainkan jiwa yang menghidupkan seluruh aspek peradaban: ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, budaya, hingga perdamaian dan ketahanan bangsa. Akhlak yang lahir dari kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabah) inilah yang menciptakan rasa aman, kepercayaan, dan jaminan kesinambungan sebuah peradaban yang bermartabat.

Rahmat yang Menyelimuti Semesta

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Dengan akhlak sebagai nafasnya, peradaban Islam menenun jaring-jaring kebaikan: saling menghormati, menghargai, dan menopang. Semangatnya adalah rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana misi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diabadikan dalam QS. Al-Anbiya: 107.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 107).

Rahmat ini bukan hanya untuk manusia, tetapi mencakup kebaikan bagi seluruh makhluk, alam, dan lingkungan.

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

Meski sering disalahtafsirkan, cahaya Islam tak pernah redup untuk menginspirasi. Banyak cendekiawan Barat, seperti Adela Redouf Pat dan Uskup Raymond dengan “Sekolah Penerjemah Toledo”-nya, yang justru menjadi jembatan, mentransmisikan khazanah keilmuan Islam ke Eropa.

Melalui terjemahan karya-karya monumental ilmuwan Muslim, seperti Ibnu Sina (kedokteran), Al-Khawarizmi (matematika), Al-Biruni (fisika), dan Al-Haitsam (optika), Eropa mengalami revolusi intelektual yang membangkitkan Renaisans. Ratusan kosakata Arab meresap ke dalam bahasa Eropa, menjadi saksi bisu pengaruh yang mendalam.

Inilah buah dari “The Power of Iqra”, perintah pertama yang turun. Iqra bukan sekadar membaca teks, tetapi sebuah gerbang untuk mengeksplorasi, meneliti (research), menganalisis, dan melahirkan teori-teori baru. Ia adalah manifesto untuk menjadi peradaban pembelajar sepanjang masa.

Komitmen Menjadi yang Terbaik

Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal

Dalam perspektif Prof. Raghib As-Sirjani, keagungan peradaban Islam tak lepas dari kualitas pelakunya: khaira ummah (umat terbaik) yang disebut dalam QS. Ali Imran: 110.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110).

Umat terbaik bukanlah gelar yang pasif, tetapi sebuah tanggung jawab aktif yang ditopang tiga komitmen:

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia

  1. Amar ma’ruf: aktif mengajak pada kebaikan.
  2. Nahi mungkar: berani mencegah kemungkaran.
  3. Iman kepada Allah: fondasi spiritual yang kokoh.

Konsep inilah yang mengubah masyarakat Arab yang terpecah belah menjadi komunitas yang berperadaban, adil, dan disegani dalam waktu singkat. Pedoman hidup mereka adalah Al-Qur’an, yang berfungsi sebagai hudan lil muttaqin (petunjuk bagi orang yang bertakwa) sekaligus hudan lin naas (petunjuk bagi seluruh manusia).

Menjadi Muslim Prestatif

Khaira ummah mewariskan sebuah cetak biru untuk menjadi Muslim Prestatif: pribadi yang unggul, kompeten, berkualitas, dan dapat diandalkan. Ia adalah pribadi yang terdorong untuk menghasilkan karya terbaik, bukan untuk pujian manusia, tetapi karena menyadari bahwa setiap amal akan dilihat oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.

Menjadi Muslim Prestatif berarti menjadi penerus obor peradaban, menggabungkan kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, dan ketajaman intelektual. Ia adalah agen rahmatan lil ‘alamin di bidangnya masing-masing, yang dengan karyanya ikut menyalakan kembali cahaya peradaban yang mencerahkan, membawa kebaikan untuk semua, dan membuktikan bahwa Islam adalah solusi, bukan masalah, bagi masa depan dunia.

Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang

Mari hidupkan warisan ini. Mari menjadi pribadi yang tak hanya mengingat kejayaan masa lalu, tetapi aktif menciptakan prestasi yang berarti hari ini, untuk dunia yang lebih baik di esok hari. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Meski Masih Kondisi Perang, Gaza Kembali Gelar Ujian Sekolah

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat
Tausiyah
MINA Edu
MINA Edu
Tausiyah