Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SHALAT DAN BERKURBAN SEBAGAI WUJUD SYUKUR

Rendi Setiawan - Jumat, 12 September 2014 - 06:39 WIB

Jumat, 12 September 2014 - 06:39 WIB

25 Views ㅤ

Ilustrasi (Foto: Alwadi)
Ilustrasi (Foto: Alwadi)

Ilustrasi (Foto: Alwadi)

Oleh: Rendi Setiawan

Surat Al-Kautsar adalah surat Alquran yang sering kita baca dan dengar,  surat ini berisi tentang penjelasan akan nikmat yang banyak yang telah dianugerahkan pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berisi pula perintah untuk shalat dan berqurban hanya untuk Allah dan akibat dari orang yang membenci Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Artinya:“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar [108]:1-3).

Makna Al-Kautsar

Allah Ta’ala telah menyebutkan sebagian nikmat yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Artinya:“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”.(Q.S. Al-Kautsar [108]: 1)

Maksudnya, Allah telah menganugrahkan nikmat kepada Muhammad dan juga Allah telah memberikan kepada Muhammad Al Kautsar yaitu berupa sungai di surga yang dijanjikan untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan sungai itu adalah telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Terdapat hadits dalam shahih Muslim, dari Anas bin Malik, ia berkata, suatu saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda,“Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Artinya:“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (Q.S. Al Kautsar [108]: 1-3).

Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al-Kautsar itu?”, kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ

Artinya:“Sesungguhnya Al Kautsar itu adalah sungai yang dijanjikan oleh Tuhanku ‘Azza Wa Jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut.  Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (H.R. Muslim).

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memberi penjelasan tentang surat Al-Kautsar ini, beliau berkata,“Kebanyakan ahli qiroah berdalil dari sini bahwa surat Al-Kautsar adalah surat Madaniyah. Dan kebanyakan dari fuqaha memandang bahwa basmalah adalah bagian dari surat ini karena ia turun bersamanya”.

Namun Abul Farraj Ibnu Jauzi mengatakan bahwa jumhur ulama termasuk Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah.

Ibnu Jauzi merinci ada enam pendapat mengenai makna Al Kautsar:

  1. Al Kautsar adalah sungai di surga.
  2. Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan pada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas.
  3. Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri.
  4. Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian), sebagaimana pendapat ‘Ikrimah.
  5. Al Kautsar adalah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak manusia mendatanginya. Demikian kata ‘Atho’.
  6. Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin ‘Iyasy.

Ibnu Jarir At-Thabari mengatakan, pendapat yang paling utama menurutku adalah pendapat orang yang mengatakan Al-Kautsar adalah nama sungai di surga yang dianugerahkan Rasulullah di surga kelak. Allah menyebutkan ciri khasnya dengan sifat katsrah (melimpah ruah) sebagai pertanda ketinggian kedudukannya.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Nikmat Dibalas Syukur

Musthafa Al ‘Adawy mengatakan, orang yang masih berada dalam fitrah yang selamat, tentu ketika diberi nikmat akan dibalas dengan syukur. Maka kebaikan yang banyak yang telah diberi ini dibalas dengan,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya:“Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah.”(Q.S. Al-Kautsar [108]: 2)

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Ibnu Jarir Ath-Thabari mengemukakan, yang benar dalam hal ini ialah pendapat ulama yang menyatakan, makna ayat tersebut ialah jadikanlah shalatmu seluruhnya untuk Tuhanmu dengan mengerjakan secara ikhlas untuk -Nya semata tidak dikotori dengan menujukan kepada selain-Nya dari tandingan-tandingan Allah Subhanahu Wa Ta’alla.

Begitu pula dalam sembelihanmu, peruntukanlah hanya untuk Allah jangan sampai ditujukan pada berhala dan patung, dalam rangka mewujudkan rasa syukur kepada -Nya atas karunia nikmat yang telah dikaruniakan padamu dari pemuliaan dan kebaikan yang tidak ada bandingannya.

Dan dikhususkan dalam ayat penyebutan dua ibadah agung ini, dikarenakan keduanya merupakan ibadah yang paling utama dan bentuk pendekatan diri pada Allah Shubhanahu wa ta’alla yang paling besar.

Allah Ta’ala berfirman,

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

Artinya:“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Q.S. Al An’am [6] :162-163)

Ibnu Qatadah berpendapat bahwa yang dimaksud shalat di sini adalah shalat Idul ‘Adha. Adapun maksud ‘naher’ adalah penyembelihan pada hari Idul Adha sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, Mujahid dan mayoritas ulama.

Ayat terakhir,

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

Artinya:“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (Q.S. Al Kautsar [108]: 1-3).

Musthafa Al-Adawy mengatakan, yang dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang yang membenci dan memusuhi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akhirnya yang terputus dan tidak ada lagi penyebutan (pujian) untuknya setelah matinya. Orang-orang Quraisy menyatakan demikian karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak lagi memiliki keturunan laki-laki (semuanya meninggal dunia sewaktu kecil).

Maka Allah pun membalasnya dengan meninggikan pujian bagi beliau. Beliau dipuji oleh orang terdahulu dan belakangan di tempat yang tinggai hingga hari pembalasan. Sedangkan yang memusuhi beliau, itulah yang terputus di belakang.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, yang dimaksud “al-abtar” adalah jika seseorang meninggal dunia, maka ia tidak akan lagi disebut-sebut (disanjung-sanjung).

Inilah kebodohan orang-orang musyrik. Mereka sangka bahwa jika anak laki-laki seseorang mati, maka ia pun tidak akan disanjung-sanjung lagi. Padahal tidak demikian, bahkan beliaulah yang tetap disanjung-sanjung dari para tuan yang lain. Syari’at beliau tetap berlaku selamanya, hingga hari kiamat saat manusia dikumpulkan dan kembali.

Ibnu ‘Utsaimin mengatakan tentang surah ini bahwa didalamnya berisi penjelasan mengenai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu dengan dikaruniakan kebaikan yang banyak.

Kemudian di dalamnya berisi perintah untuk mengerjakan shalat dan berqurban juga ibadah lainnya atas dasar ikhlas karena Allah. Kemudian terakhir dijelaskan bahwa siapa yang membenci Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenci satu saja dari ajaran beliau, merekalah yang nantinya terputus yaitu tidak mendapatkan kebaikan dan barokah. Wallahu a’lam bis showaab. (P011/R11)

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia