Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mensyukuri Rezki dari Allah dengan Berqurban

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 23 April 2026 - 17:31 WIB

Kamis, 23 April 2026 - 17:31 WIB

68 Views ㅤ

Ilustrasi: Hewan Qurban (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

SAAT INI, kita sedang melangkah di bulan Dzulqa’dah, salah satu dari empat bulan yang dimuliakan.

Perlahan, namun pasti, kita akan segera memasuki gerbang Dzulhijjah, bulan yang penuh keutamaan, bulan di mana rahmat dan pengampunan-Nya terbuka lebar.

Pada bulan Dzulhijjah nanti, ada tiga puncak ibadah yang dinanti-nantikan oleh hati orang-orang beriman, yaitu Shalat Idul Adha, Ibadah Haji dan Ibadah Qurban.

Khususnya ibadah qurban, yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Inilah saat di mana darah hewan qurban mengalir sebagai bukti bahwa hati hamba-Nya masih berdetak untuk Allah semata.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Allah berfirman dalam QS. Al-Kautsar [108]: 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”

Ayat ini turun sebagai kelanjutan dari kabar gembira tentang al-Kautsar, nikmat yang melimpah ruah. Lalu, apa balasan kita atas nikmat yang tak terhitung itu? Bukan dengan kesombongan, bukan dengan kelalaian, melainkan dengan shalat dan qurban.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Kata “lirobbika” (karena Tuhanmu). Shalat kita, baik yang wajib maupun shalat Id, haruslah semata-mata karena Allah. Demikian pula qurban kita, jangan sampai ternodai oleh riya’ atau kebiasaan jahiliyah, di mana mereka menyembelih untuk berhala-berhala mereka. Maka, jadikanlah qurban sebagai pelajaran bahwa sembelihan kita adalah untuk Allah, bukan untuk gengsi atau tradisi semata.

Allah dengan tegas menegaskan dalam Surat Al-An’am ayat 162-163:

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

لَا شَرِيْكَ لَهٗۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

Begitulah, hidup dan mati kita pun untuk-Nya. Maka layaklah qurban yang kita lakukan menjadi cerminan ketundukan total kepada Sang Pencipta.

Dua Ibadah Agung: Shalat dan Qurban

Syaikhul Islam Ibnu Tammiyah dalam Majmu’ Fatawa mengungkapkan sebuah rahasia besar, Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk mengumpulkan dua ibadah mulia di hari yang sama, yaitu shalat (Idul Adha) dan Qurban.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Keduanya adalah simbol Taqarrub (mendekatkan diri), Tawadhu’ (rendah hati), Tasyakur (rasa syukur yang meledak-ledak), Husnudzan (berbaik sangka kepada Allah) dan Keyakinan yang kokoh serta ketenangan jiwa.

Beliau menambahkan, “Ibadah harta yang paling mulia pada Hari Raya Idul Adha adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat Idul Adha.”

Subhanallah, seorang mukmin mengerahkan jiwa dan hartanya hanya untuk menggapai keridhaan-Nya.

Selanjutnya, yang akan diterima oleh Allah bukanlah daging dan bukan darah qurban, tapi ketakwaannya.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Allah mengingatkan di dalam Surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Maka jangan pernah merasa cukup hanya dengan membeli hewan terbesar atau mengalirkan darah terbanyak. Hati yang bertakwa, niat yang ikhlas, dan rasa syukur yang mendalam, itulah yang sampai ke langit. Dengan kurban, ketakwaan kita meningkat, dan Allah pun melipatgandakan rezeki atas rasa syukur itu.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Namun, jika Allah telah melapangkan rezeki, lalu kita masih berpaling dari ibadah kurban, renungkanlah sabat Nabi ﷺ, “Barangsiapa memiliki kelapangan (rezeki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (H.R. Ibnu Majah, dari Abu Hurairah).

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kuatnya perhatian syariat terhadap qurban, sehingga beliau berpendapat bahwa kurban itu wajib bagi yang mampu.

Maka, marilah kita sambut Dzulhijjah dengan hati yang penuh syukur. Jika Allah telah mempercayakan harta kepada kita, marilah kita gunakan sebagiannya untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui qurban. Sebab qurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan nafas syukur seorang hamba yang tahu bahwa semua nikmat datangnya dari Allah.

Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk melaksanakan qurban tahun ini, karena-Nya semata. Aamiin, Ya Rabbal ‘Alamin. []

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia