PARA PEMBEBAS KOTA SUCI AL QUDS

Uray-Helwan
Uray-Helwan
Uray-Helwan

Oleh: Uray Helwan Rusli, Majelis Kutab Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Kalimantan Barat.

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَـغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله ِمِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا  وَ مِنْ سَـيِّـَئاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,  أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيرًا بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ, مَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَـقَدْ رَشَدَ, وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَاِنَّهُ لَا يَضُرُّ اِلَّا نَفْسَهُ وَلَا يَضُرُّ اللهَ شَيْءً  أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ  مُسْلِمُونَ  اَللَّهُمَّ صَلِّ وّسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ  وَ التـَّابِعِيْنَ  وَاتَّـابِعُ التـَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِ حْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ.

فَـإِنّ  أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ , وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِىالنَّارِ

Para hamba Allah, sidang Jum’at rahimakumullah.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, khotib berwasiyat kepada dirinya dan kaum muslimin yang hadir pada majlis ini, dengan wasiyat taqwa, sebagaimana firman Allah yang telah dibacakan tadi yang artinya:  “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kalian mati melainkan  dalam keadaan muslim”.

Selanjutnya marilah kita membuka lembaran sejarah. Kita menggali pelajaran dari generasi sholih terdahulu, dan memetik hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.

Para hamba Allah sekalian, sungguh sangat banyak pelajaran bagi kita, serta seluruh manusia yang hidup diakhir zaman seperti sekarang ini. Berbagai peristiwa besar atau kecil, silih berganti penguasa, rotasi kemenangan dan kekalahan, tertoreh pada lembaran-lembaran sejarah kehidupan. Terhadap semua itu,  Allah nyatakan dalam Al-Qur’an,

فَاعْتَبِرُوْا يـَآاُوْلِى اْلاَبْصَارِ

“….maka ambillah sebagai I’tibar, wahai orang-orang yang memiliki pandangan”. (QS. Al Hasyr: 2).

Para hamba Allah, sidang Jum’at rahimakumullah,

Sungguh, semenjak dahulu kala, kota suci Al Quds, Allah taqdirkan menjadi muara dari berbagai peristiwa. Di sana adalah sejarah awal kehidupan manusia, namun juga insya Allah sekaligus menjadi penutup dari kisah jagad bumi ini. Di sana adalah tanah para Nabi, namun juga, atas izin-Nya bercokol manusia-manusia pengkhianat yang merubah kitab suci dan membunuh para Nabi. Di sana, Allah teguhkan bangunan suci tempat ibadah para Nabi dan manusia-manusia setelahnya, namun juga Allah kehendaki kedudukan para penguasa tiran yang meratakan dengan tanah bangunan-bangunan suci tersebut.  Di sana, dengan firman-Nya yang mulia, Allah nyatakan sebagai tanah yang diberkahi dan disucikan, namun juga atas kehendak-Nya, senantiasa terjadi kemelut besar yang melibatkan segenap manusia penghuni bumi. Di sana adalah muara dari millah Nabi Ibrahim, yang dikemudian hari menjadi  tiga agama besar  dunia, yakni: Islam, Nasrani dan Yahudi. Di sana, dari zaman dulu hingga sekarang, senantiasa menjadi pusat perhatian dunia, baik karena situs-situs sejarahnya, maupun karena  situasi keamanan yang tak kunjung usai dari berbagai kemelut.

Para hamba Allah, sidang Jum’at rahimakumullah,

Hampir semua penguasa di muka bumi ini dari masa ke masa, pernah berkuasa atas tanah suci al-Quds. Selama masa kekuasaan itu terus silih berganti antara kondisi keamanan dan takut mencekam karena peperangan. Atau situasi tenang merdeka menjadi penjajahan dan pertumpahan darah, begitupula dari situasi pengayoman para Nabi dan sholihin menjadi pengkhiatan para generasi penerus yang berperangai buruk. Para hamba Allah sekalian, kita mulai dengan kemakmuran dan masa keemasan pada masa Nabi Daud alaihissalam, kemudian dilanjutkan dengan putra beliau, Nabi Sulaiman alaihissalam. Kondisi bumi Al-Quds aman tentram, hamba-hamba Allah tenang beribadah di Masjid Al-Aqsha. Ketentraman, kedamaian dan ketauhidan pada masa itu tidak hanya dirasakan oleh para manusia, namun juga makhluk-makhluk selainnya, seperti binatang dan golongan jin. Bahkan  pada masa Nabi Sulaiman alaihisallam, beliau dianugerahkan mu’jizat untuk menghimpun bala tentara dari golongan jin, manusia,  dan burung. Hal itu, Allah abadikan dalam Al Qur’an:

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Kewajiban Menjaga Tempat-tempat Mulia

وَحُشِرَلِسُلَيْمَانِ جُنُدُهُ مِنَ اْلجِنِّ وَاْلِانْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوْ زَعُوْنَ

Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka bernaris tertib.(QS. An Naml: 17)

Namun masa berikutnya adalah situasi fitnah, yakni masa-masa perpecahan dan pertumpahan darah yang menimpa Bani Israel. Kekuasaan yang Allah limpahkan kepada Nabi Daud dan Sulaiman, berubah menjadi perang saudara yang memecah belah Bani Israel menjadi dua kerajaan, yakni Samaria di sebelah utara dan Yehuda di selatan. Nasib bumi Al-Quds di ujung tanduk, Bani Israel yang semestinya pewaris kesholehan para Nabi sebelumnya dan menjadi tameng bagi kedamaian bumi Al-Quds, justru menjadi generasi buruk yang memperturutkan hawa nafsu demi kenikmatan duniawi.

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Maka setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi taurat, yang mengambil harta benda duniawi yang rendah ini. Lalu mereka berkata: ‘Kami akan diberi ampun’. Dan kelak jika harta benda dunia dating kepada mereka sebanyak itu, niscaya mereka akan mengambilnya (juga).  Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan  terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka  yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu mengerti?”. (QS. Al A’raf: 169).

Para hamba Allah kaum muslimin jama’ah sholat Jum’at rahimakumullah,

Akibat pengkhianatan Bani Israil tersebut, bumi Al-Quds menjadi incaran penguasa-penguasa tiran. Hal ini karena Baitul Maqdis dan sekitarnya sebagai tanah yang diberkahi, memang menjadi daya tarik yang luar biasa pada waktu itu, bahkan hingga kini. Sejarah mencatat bumi Al-Quds atau biasa dikenal dengan nama Yerusalem, telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai sebanyak 44 kali. Para hamba Allah sekalian, penghancuran pertama ketika diserang oleh penguasa Babilonia, raja Nebukadnezar, Masjid Al-Aqsha diratakan dengan tanah, dan orang-orang Yahudi kemudian diusir dari Yerusalem dan digiring ke Babilonia sebagai budak atau manusia kasta rendah. Kemudian penghancuran kedua terjadi setelah lebih dari 5 ratus tahun kemudian, kali ini serangan dari panglima  Romawi. Lagi-lagi Masjid al-Aqsho diratakan dengan tanah untuk yang kedua kalinya.

Para hamba Allah sekalian, sampailah pada masa Islam. Ketika Allah memerintahkan kepada Nabi akhir zaman, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, untuk menginjakkan kaki di Baitul Maqdis dalam sebuah perjalanan suci pada persitiwa Isra Mi’raj. Beliau kemudian shalat di Masjid Al-Aqsha, dan Allah perjalankan beliau ke langit untuk mi’raj di Sidratul Muntaha. Pada saat bersamaan turunlah ayat-ayat Al-Quran surah Al-Isra ayat 1 sampai 8, yang menggambarkan secara jelas tentang kerusakan dan kesombongan yang dilakukan oleh Bani Israel, serta masa kehancuran mereka oleh hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan yang besar.

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Kewajiban Menjaga Tempat-tempat Mulia

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Isra: 1)

Para hamba Allah sekalian, peristiwa Isra Mi’raj yang melibatkan Masjid al-Aqsha, yang kemudian satu paket dengan turunnya Quran surah Al-Isra, ayat 1 sampai 8, adalah menjadi pesan kuat bagi kaum muslimin untuk membebaskan Baitul Maqdis dari ke-tirani-an, pelecehan tempat suci dan penyesatan aqidah, yang selama ini telah terjadi turun temurun. Pesan ini kemudian ditangkap oleh kaum muslimin setelah masa Rasulullah. Mulai dari Khalifah Abu Bakar, yang merintis jalan dengan membebaskan daerah-daerah sekitar Palestina dan Syiria. Puncaknya pada masa Khalifah Umar ibnul Khoththob, setelah pengepungan sepanjang musim dingin, kota suci Yerusalem diserahkan dengan damai kepada kaum muslimin. Uniknya, penyerahan ini dengan tiga syarat yang diajukan pihak Romawi: pertama, Gencatan senjata; kedua, Kota suci Yerusalem hanya akan diserahkan kepada pimpinan tertinggi kaum muslimin; dan yang ketiga, sisa pasukan Roma diijinkan berangkat dengan damai keluar dari Yerusalem menuju Mesir.

Para hamba Allah sekalian, inilah pertama kalinya dalam sejarah kota Yerusalem yang dibebaskan secara damai, tidak ada pertumpahan darah yang terjadi di dalam kota, bahkan sisa pasukan musuh yang jelas-jelas lawan dalam pertempuran pun secara damai  keluar dari medan peperangan. Inilah yang membuat pendeta kota Yerusalem yang bernama Sopronius, takjub. Ketika dia menyerahkan kunci gerbang Kota Yerusalem, dia mendapati bahwa sosok pimpinan tertinggi ummat Islam adalah seorang manusia dengan pakaian sederhana yang datang hanya didampingi seorang khodim dengan kendaraan seekor keledai. Sopronius bertambah takjub menyaksikan kaum muslimin Sholat Zhuhur berjama’ah di sekitar reruntuhan mesjid Al Aqsha, ia berkata: “Saya tidak pernah menyesali menyerahkan kota suci, karena saya telah menyerahkannya kepada umat terbaik”.

Kondisi kedamaian terus berlangsung selama kaum muslimin memegang kendali terhadap kota suci Yerusalem. Sepeninggal Khalifah Umar, kemudian dilanjutkan Khalifah Utsman, Ali bin Abi Thalib, serta  masa-masa setelahnya. Damai tidak hanya milik kaum muslimin saja, namun bagi seluruh pemeluk agama. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak dilarang untuk menjalankan aktivitas keagamaan mereka.

Para hamba Allah sekalian, kalau bicara tentang komitmen kedamaian, mari kita lihat apa yang diwasiyatkan oleh Khalifah Abu Bakar ketika beliau melepas pasukan perang menuju wilayah sekitar Syam, beliau berkata: “Kamu akan menjumpai kelompok-kelompok manusia yang berlindung dalam rumah-rumah ibadah. Jangan ganggu mereka, biarkan mereka berlindung di situ”.

Para hamba Allah kaum muslimin rahimakumullah,

Waktu terus berputar, kota suci Yerusalem, Allah kuasakan kembali kepada ummat selain Muslimin. Ketika pasukan Salib menguasai Yerusalem, apa yang terjadi? Pembantaian besar-besaran. Masjid Al-Aqsha dipenuhi darah kaum muslimin. Tidak hanya kaum muslimin yang mereka bantai, termasuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak sepaham dengan pasukan Salib. Terhitung lebih dari 30 ribu orang yang dibantai dalam waktu yang singkat. Peristiwa memilukan ini mengandung hikmah, bahwa jika Yerusalem dikuasai oleh manusia-manusia yang tidak tunduk kepada Allah, maka akan terjadi penistaan kemanusiaan hingga pada titik yang terendah, seperti yang telah dipertontonkan pasukan Salib. Namun masa mereka tidak begitu lama. Setengah abad kemudian, Allah mengutus Shalahuddin Al Ayyubi, yang berhasil menggalang kekuatan untuk mengepung Kota Yerusalem dan berhasil membebaskannya dengan damai. Lagi-lagi untuk kedua kalinya, Yerusalem dibebaskan dengan tanpa pertumpahan darah, dan ini sekaligus menunjukkan hanya kaum muslimin  yang berhasil memperlihatkan kemuliaan akhlak meski dalam kancah peperangan. Dan hanya kaum muslimin yang berhak atas bumi Yerusalem, karena merekalah yang mampu menjaga kemuliaannya dan membebaskannya dengan cara damai. Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam Al-Quran:

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Kewajiban Menjaga Tempat-tempat Mulia

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiya: 107).

Para hamba Allah Kaum Muslimin rahimakumullah,

Kini tibalah masa kita. Ummat Islam akhir zaman, yang hidup di belahan bumi timur dan barat. Kezaliman kembali terjadi di bumi Al-Quds. Masjid Al-Aqsha dilecehkan dan terancam dirobohkan. Umat Islam tidak bisa leluasa beribadah di sana. Kaum muslimin di Palestina, hak asasi mereka dirampas. Mereka diusir dari tanah kelahiranya, dibunuh, rumah mereka dirobohkan, perkebunan diambil paksa, celakanya lagi ketika mereka berjuang untuk mempertahankannya, mereka disebut teroris. Ironisnya pelaku tindak kezaliman ini justru dilakukan oleh kaum yang dulunya Allah serahi amanah untuk menjaga tanah suci Yerusalem, yakni Yahudi.

Para hamba Allah, pesan pembebasan Al-Aqsha kini bergulir ke tangan kita. Ayat-ayat suci telah Allah turunkan, Rasulullah pun telah menggariskan manhaj dengan peristiwa Isra Mi’raj dan berbagai Sunnah qouliyah beliau tentang istimewanya Masjid Al-Aqsha, selanjutnya para khalifah terdahulu pun telah membebaskannya pertama kali kemudian dilanjutkan dengan pembebasan kedua oleh Sholahuddin Al-Ayyubi.

Para hamba Allah, Marilah kita sambut pesan mulia ini, pesan pembebasan Al-Aqsha dengan segenap kekuatan dan kemampuan kita. Agar kita tidak malu mengaku ummat Muhammad Shallallhu ‘Alaihi Wasallam.

بَا رَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيْمِ  وَنَفَعَنِي وَاِيَا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلَا يَا تِ وَذِّكْرِالْحَكِيْم اَقُوْلُ قَوْلِي هَاذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْم لِي وَلَكُمْ وَلِسَا ءِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَا سْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِلُزُمِ الْجَمَاعَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍالَّذِىْ اَرْسَلَهُ اللهُ

إِلَى جَمِيْعِ الْأُمَّةِ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَانِ لْأُ مًّةِ. اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّااللهُ

وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِـيَّ بَعْدَهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وّسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ

وَالتَّا بِعِيْنَ وَاتَّـابِعُ التـَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِ حْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Para ikhwan pada khutbah yang kedua ini marilah kita munajat kepada Allah.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَارَبَّيَانَا صِغَارًا وَلِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ.

اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ اْلأَحْزَابِ إِهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ , اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيْعَ الْحِسَابِ اِهْزِمِ اْلاَحْزَابِ اَللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

 اَللَّهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لنَاَ ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْعنَاَّ سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلاَبْرَارِ,

 رَبَّنَا اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ اْلكَافِرِيْنَ ,

 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ,

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفيِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ,

 وَاَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ مَعَ اْلاَبْرَارِ يَاعَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ,

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

 (P004/R03)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Wartawan: Admin

Editor: Widi Kusnadi

Comments: 0