Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernikahan di Tengah Genosida Gaza, Baju Pengantin Palestina Berlumur Darah

Arina Islami Editor : Arif R - Rabu, 24 Desember 2025 - 20:37 WIB

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:37 WIB

15 Views ㅤ

Foto dari sesi foto pernikahan Mustafa dan Nesma, hanya beberapa jam sebelum tempat perlindungan mereka dibom. (Foto: al Jazeera)

Gaza, MINA – Genosida Zionis Israel di Gaza kembali merenggut momen paling sakral dalam kehidupan warga Palestina. Pernikahan Mustafa dan Nesma al-Borsh, yang digelar secara sederhana di tengah genosida Zionis Israel di Gaza, berubah menjadi tragedi setelah serangan Zionis Israel menghantam bangunan di dekat tempat mereka merayakan hari bahagia.

Dengan kondisi genosida Zionis Israel di Gaza yang masih berlangsung, pesta pernikahan Mustafa dan Nesma dilakukan secara sederhana. Nesma menyewa gaun putih, pergi ke salon kecantikan, dan berfoto singkat bersama Mustafa. Upacara dan pesta digelar di sebuah tenda di lingkungan Tuffah, Gaza timur, dengan hanya sekitar 40 orang yang hadir.

“Saya tidak akan mengatakan ini adalah hari pernikahan yang selalu saya impikan. Namun, di tengah kondisi keras yang kami jalani, kami mencoba mencuri beberapa momen bahagia,” kata Nesma kepada Al Jazeera, dikutip pada Rabu (24/12).

Setelah gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, Mustafa dan keluarganya pindah dari kehidupan tenda ke sebuah tempat penampungan di lingkungan Tuffah. Lokasi itu berjarak sekitar setengah kilometer dari apa yang disebut “garis kuning”, wilayah yang dibuat Zionis Israel untuk mempertahankan kendali militernya di Gaza.

Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur

“Kami ingin keluar dari kehidupan di tenda selama musim dingin, jadi kami memutuskan pindah ke sekolah meskipun khawatir karena dekat dengan garis kuning,” ujar Mustafa kepada Al Jazeera.

Bangunan tersebut merupakan fasilitas pendidikan milik Kementerian Pendidikan Gaza yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan akibat genosida Zionis Israel di Gaza. Lokasi itu berada di wilayah yang sebelumnya telah ditinggalkan pasukan Zionis Israel sesuai kesepakatan gencatan senjata.

Setelah diskusi keluarga, kedua belah pihak sepakat menggelar pernikahan pada 19 Desember 2025. Perayaannya sederhana, dilakukan di tenda yang berdiri berdampingan dengan tempat penampungan.

“Setelah tanggal ditetapkan, saya menyiapkan apa yang saya bisa. Keluarga pengungsi lain membantu, mereka bahkan menyediakan ruang kelas untuk kami. Semuanya tampak berjalan baik,” kata Mustafa.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Hari Bahagia Berubah Jadi Tragedi

Namun, genosida Zionis Israel di Gaza kembali mencuri kebahagiaan itu. Saat perayaan berakhir pada Jumat lalu, serangan penjajah Israel menghantam sebuah bangunan di sebelah tenda pernikahan. Api membubung tinggi, debu dan asap menyelimuti area, disertai jeritan warga.

“Saya segera meraih tangan istri saya dan mengirimnya bersama kerabat perempuan. Saya melepas jas pengantin dan berlari bersama pria lain untuk menyelamatkan orang-orang di dalam gedung,” ujar Mustafa.

Penembakan Zionis Israel menghantam lantai dua bangunan tempat keluarga Mustafa dan para pengungsi berlindung. Serangan itu juga menghantam ruang kelas yang telah disiapkan untuk pasangan tersebut tinggal setelah menikah. Seluruh persiapan pernikahan mereka hangus terbakar.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

“Saya membantu mengangkat jenazah dan menyelamatkan korban luka. Saya menarik keluar keponakan saya yang terluka parah,” kata Mustafa.

Delapan orang syahid dalam serangan tersebut. Seluruh korban merupakan tetangga dan kerabat keluarga Mustafa yang berlindung di lantai dua bangunan.

Baju Pengantin Berlumur Darah

Keponakan Mustafa, Mohammad, bocah berusia delapan tahun, meninggal dua hari kemudian akibat luka-lukanya. Saat diwawancarai Al Jazeera, Mustafa masih mengenakan setelan pengantin yang ia pakai pada hari pernikahan.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

“Ada noda darah milik keponakan saya, Mohammad,” ujarnya, menunjuk kemeja putih dan celana panjangnya.

Ambulans sempat dipanggil, namun kru medis membutuhkan koordinasi Zionis Israel untuk memasuki wilayah tersebut. Mustafa dan Nesma menunggu lebih dari dua jam di bawah ancaman serangan lanjutan.

“Kami bisa mendengar penembakan di sekitar kami. Situasinya sangat menakutkan,” kata Nesma.

Pernikahan Sempat Tertunda Karena Agresi Zionis Israel

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Mustafa dan Nesma bertunangan beberapa bulan sebelum genosida Zionis Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Pernikahan mereka seharusnya berlangsung pada bulan itu. Apartemen mereka di Jabalia, Gaza utara, telah siap sepenuhnya—kamar tidur, sofa, hingga dapur—namun kemudian dihancurkan dalam serangan Zionis Israel.

Sejak itu, pasangan ini mengalami pemboman, kelaparan, dan pengungsian berulang kali. Gagasan untuk menikah sempat mereka tunda karena merasa tidak pantas merayakan kebahagiaan di tengah kehancuran.

“Kami sering bertanya bagaimana bisa menikah di tengah agresi genosida dan pengungsian,” kata Nesma.

Namun, akhirnya mereka bisa melangsungkan pernikahan pada 19 Desember 2025. Meski demikian, kebahagiaan itu hanya sesaat karena Zionis Israel kembali melancarkan serangan militer.

Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

Gencatan Senjata yang Rapuh

Mustafa mengatakan ia tidak pernah menyangka tempat penampungan tersebut akan menjadi sasaran serangan, mengingat bangunan itu menampung banyak keluarga, berada di lingkungan padat penduduk, dan terletak di luar garis kuning.

Namun, meski gencatan senjata diumumkan, ratusan pelanggaran Zionis Israel tercatat. Lebih dari 400 warga Palestina dilaporkan syahid dalam serangan lanjutan selama beberapa bulan terakhir.

Setelah serangan itu, keluarga Mustafa kembali mengungsi, meninggalkan seluruh barang yang tersisa. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru justru berubah menjadi simbol kehilangan—sebuah kisah tentang cinta yang harus bertahan di tengah genosida Zionis Israel di Gaza.[]

Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda