Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sumatra atau Sumatera, Antara Ejaan dan Sejarah

Redaksi Editor : Arif R - Kamis, 25 Desember 2025 - 07:12 WIB

Kamis, 25 Desember 2025 - 07:12 WIB

759 Views ㅤ

Gambar Pulau Sumatera

AKHIR-akhir ini, kata Sumatera atau Sumatra kembali ramai menghiasi ruang publik, terutama dalam laporan bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Menariknya, di balik intensitas penyebutan nama pulau ini, masih kerap muncul pertanyaan sederhana namun mendasar: manakah penulisan yang benar, Sumatra atau Sumatera?

Secara normatif, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) menetapkan Sumatra sebagai bentuk baku dalam bahasa Indonesia.

Ejaan Sumatera dianggap tidak baku, meskipun dalam praktiknya masih sangat luas digunakan, terutama dalam konteks administratif dan penamaan resmi daerah, seperti Provinsi Sumatera Barat atau Sumatera Utara.

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Dengan kata lain, dalam tulisan ilmiah dan bahasa formal dianjurkan menggunakan Sumatra, sementara untuk nama lembaga dan wilayah administratif tetap mengikuti ejaan yang dilegalkan secara hukum.

Persoalan Sumatra tidak berhenti pada urusan ejaan. Nama pulau ini menyimpan jejak panjang peradaban, lintas bahasa, dan lintas budaya.

Ulama dan sastrawan besar Indonesia, Buya Hamka, menelusuri asal-usul nama Sumatra dari kata Samudra, yang merujuk pada Kesultanan Samudera Pasai di pesisir timur Aceh.

Tafsir ini menemukan penguat dalam catatan musafir Maroko abad ke-14, Ibnu Batutah, yang menyebut wilayah tersebut sebagai Shumathra. Pelafalan ini diduga muncul karena keterbatasan Ibnu Batutah dalam membaca istilah beraksara Sanskerta.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Pandangan lain dikemukakan oleh sejarawan Belanda, Nicolaas Johannes Krom, yang menautkan Sumatra dengan istilah Sumatrabhumi, variasi dari Suwarnabhumi atau Suwarnadwipa, yang berarti “tanah emas”.

Istilah ini bukan sekadar mitos, melainkan tercatat dalam berbagai sumber sejarah India, seperti Prasasti Nalanda (abad ke-9 M) dan Prasasti Tanjore (abad ke-11 M), yang mengisahkan hubungan diplomatik dan maritim antara India dan Sumatra, khususnya dengan Kerajaan Sriwijaya.

Nama Suwarnabhumi bahkan telah muncul dalam naskah-naskah India pra-Masehi. Kitab Jataka, salah satu teks Buddha tertua, mencatat perjalanan para pelaut dari wilayah Sungai Gangga, Benares, Champa, dan Vaishali menuju Suwarnabhumi. Dalam epos Ramayana, Sumatra disebut sebagai Suvarna Rupyaka Dvipa, pulau emas dan perak, yang disandingkan dengan Jawa sebagai Yawadwipa.

Tradisi Arab juga mencatat keberadaan Sumatra. Para musafir Arab mengenalnya sebagai Serendib atau Suwarandib. Abu Raihan Al-Biruni, ilmuwan Persia yang hidup pada abad ke-11, menyebut bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Nama ini memperlihatkan bagaimana Sumatra dipahami sebagai simpul penting jaringan perdagangan dan keilmuan dunia Islam awal.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Memasuki era Eropa, penyebutan Sumatra semakin beragam. Peta-peta Portugis, Venesia, dan kartografer Eropa abad ke-16 mencatat variasi nama seperti Siometra, Sumutra, Samudra, Samatra, hingga Sciamuthera.

Variasi ini mencerminkan proses transliterasi lintas bahasa sekaligus keterbatasan fonetik penjelajah Barat dalam merekam istilah lokal.

Dengan demikian, Sumatra bukan sekadar nama geografis. Ia adalah arsip hidup peradaban, tempat bertemunya tradisi lokal, India, Arab, dan Eropa.

Perdebatan Sumatra atau Sumatera pada akhirnya bukan hanya soal ejaan, tetapi tentang bagaimana sejarah panjang sebuah pulau direkam, diterjemahkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. [berbagai sumber]

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda