Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Takwa dan Jamaah, Dua Kewajiban yang Tak Terpisahkan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 4 Mei 2026 - 18:30 WIB

Senin, 4 Mei 2026 - 18:30 WIB

58 Views ㅤ

Ilustrasi: Shalat berjamaah di depan Ka'bah, Masjidil Haram (Al Monitor)

SALAH SATU wujud tertinggi dari ketakwaan kepada Allah adalah terwujudnya kehidupan berjamaah di antara kaum Muslimin. Hidup dalam kebersamaan, jauh dari perpecahan dan pertikaian. Sebab takwa tidak pernah bisa berdiri sendiri. Ia selalu mengajak kepada persatuan.

Allah dengan sempurna mengaitkan antara takwa dan perintah berjamaah dalam dua rangkaian ayat yang berurutan. Sebuah susunan yang bukan kebetulan, tetapi petunjuk yang terang.

Ayat Pertama: Panggilan untuk Bertakwa.

Allah berfirman:

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (Q.S. Ali Imran [3]: 102).

Inilah panggilan pertama. Sebuah seruan untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak setengah-setengah. Takwa yang meresap hingga ke relung jiwa, hingga ajal menjemput pun kita masih dalam keadaan berserah diri kepada-Nya.

Ayat Kedua: Jalan Menuju Takwa adalah Jamaah.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Lalu, tanpa jeda, Allah menyambung:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103).

Ayat pertama berbicara tentang takwa. Ayat kedua berbicara tentang berpegang teguh pada tali Allah secara berjamaah. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Sebab, bagaimana mungkin seseorang mengaku bertakwa, tetapi ia sibuk memecah belah umat?

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan bahwa dua ayat ini mengandung anjuran Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mewujudkan syukur atas nikmat-nikmat-Nya yang besar. Caranya adalah dengan bertakwa kepada-Nya sebenar-benarnya, ikhlas dalam ketaatan, dan meninggalkan kemaksiatan.

Namun, takwa tidak akan tegak jika tidak disertai dengan berpegang teguh kepada tali Allah secara berjamaah. Tali Allah itu adalah agama-Nya dan kitab-Nya, yang menjadi penghubung antara hamba dengan Penciptanya.

Allah menghendaki orang-orang yang beriman dan bertakwa itu bersatu, berpedoman pada agama dan kitab-Nya, tidak saling bercerai-berai. Dan mereka harus konsisten di atas jalan ini hingga ajal menjemput.

Maka, cerminan takwa yang sesungguhnya adalah ketika ia tersambung dengan umat Islam sebagai satu kesatuan. Umat yang tidak bisa dipecah-belah oleh kepentingan duniawi mana pun.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Umat yang Satu, Tuhan yang Satu

Allah kembali menegaskan dalam firman-Nya yang lain:

إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 92).

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Ya, itulah umat yang satu, dengan Tuhan yang satu, dengan kitab yang satu, dan dengan kiblat yang satu.

Karena itu, hakikatnya kita semua, sesama Muslim, adalah saudara. Seiman, seaqidah, sehaluan. Maka wajib bagi kita untuk saling membantu, saling menguatkan, saling memaafkan, saling menghargai, dan saling membawa rahmat bagi seluruh alam.

Allah berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 10).

Maka, Allah mewajibkan kepada mereka yang mampu untuk membantu yang kurang mampu. Yang berada menolong yang kekurangan. Yang berkelapangan memberi kepada yang berkesempitan. Bukan sebaliknya.

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam sabdanya:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

“Barang siapa melepaskan kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim).

Begitulah, kita semua, sesama mukmin, adalah umat yang satu. Allah kita satu. Agama kita satu, Islam. Kiblat kita dulu adalah Masjidil Aqsa, lalu dipindahkan ke Masjidil Haram. Dan panutan kita juga satu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Maka, jangan pernah biarkan perbedaan kecil memecah belah kita. Jangan biarkan kepentingan sesaat merusak persaudaraan yang telah lama Allah bangun dengan kasih sayang-Nya.

Karena takwa tidak pernah berbisik dalam kesendirian. Ia selalu bergema dalam kebersamaan. Ia selalu tumbuh subur di tengah jamaah yang rukun, yang saling mengasihi, dan yang bahu-membahu menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Semoga kita dapat mengaitkan hubungan antara takwa dan hidup berjamaah, di mana keduanya adalah dua kewajiban yang tak terpisahkan. Aamiin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Rekomendasi untuk Anda

Khadijah
Hikmah
Tausiyah
Khutbah Jumat