Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Tipu Daya Iblis dan Orang-Orang yang Selamat darinya

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 1 April 2026 - 21:17 WIB

Rabu, 1 April 2026 - 21:17 WIB

102 Views ㅤ

5 Tipu Daya Iblis dan Orang-Orang yang Selamat darinya
Tipu daya Iblis menggoda manusia (foto: dok MINA)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَاَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ وَعِدْهُمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا ۝٦٤ اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ وَكِيْلًا ۝٦٥ (الاسرآء [١٧]: ٦٤ــ٦٥)

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

“Perdayakanlah (wahai Iblis) siapa saja di antara mereka yang engkau sanggup dengan ajakanmu. Kerahkanlah pasukanmu yang berkuda dan yang berjalan kaki terhadap mereka. Bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, lalu berilah janji kepada mereka.” Setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka. [64] Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung. [65]” (QS Al-Isra [17]: 64-65)

Ayat ini merupakan salah satu penjelasan paling komprehensif dalam Al-Qur’an tentang strategi Iblis dalam menyesatkan manusia. Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah bentuk “izin takdir” dari Allah Ta’ala kepada Iblis untuk menguji manusia, bukan legitimasi (pembenaran) terhadap tindak kejahatan.

Kata “وَٱسْتَفْزِزْ” (Perdayakanlah) menurut tafsir Al-Qurthubi artinya: menggelincirkan dengan kelembutan tipu daya, bukan dengan paksaan. Ini menunjukkan bahwa Iblis tidak memaksa manusia, tetapi memancing, membujuk, dan memperdaya dengan halus, namun terus-menerus.

Sementara Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, memaknai istilah “بِصَوْتِكَ” (dengan suaramu) dengan menukil penjelasan dari Mujahid, yakni sebagai segala bentuk seruan kepada kemaksiatan, termasuk nyanyian yang melalaikan, propaganda kebatilan, bahkan bisikan yang dihembuskan dalam hati.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Dalam konteks modern, para ulama kontemporer seperti Imam Al-Maraghi Rahimahullah mengaitkannya dengan media-media propaganda yang menyebarkan segala informasi, imbauan dan ajakan yang menjauhkan manusia dari mengingat Allah Ta’ala dan mengajak kepada perbuatan maksiat dan kedzaliman.

Adapun frasa “وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ” (Kerahkanlah pasukanmu yang berkuda dan yang berjalan kaki) berarti seluruh kekuatan iblis, baik yang terlihat maupun tidak. Ibnu Abbas Radhiallahu anhu menjelaskan, frasa tersebut sebagai semua jenis pasukan setan, baik dari kalangan jin maupun manusia, dengan berkendara ataupun yang berjalan, yang menjadi pendukung kebatilan.

Sementara itu, ayat 65 menjadi penegasan penting bahwa kekuasaan iblis tidaklah mutlak. Menurut As-Sa’di Rahimahullah, kata “hamba-hamba-Ku” dalam ayat di atas adalah mereka yang memiliki iman, tawakal, dan keikhlasan. Mereka inilah yang dijaga Allah Ta’ala dari tipu daya Iblis, meskipun mereka tetap merasakan penderitaan dan ujian hidup, sebagaimana manusia pada umumnya.

Ini 5 Strategi Tipu daya Iblis

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendefinisikan kata Iblis, “Iblis adalah bapaknya bangsa jin, sebagaimana Adam adalah bapaknya manusia. Ia adalah makhluk yang berakal, memiliki kehendak, diperintah dan dilarang, serta termasuk golongan jin, bukan malaikat.” (Majmu’ al-Fatawa, 4/346).

Iblis diciptakan dari api, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Ia dahulu termasuk makhluk yang taat. Namun kesombongannya membuat dirinya menolak perintah Allah Ta’ala untuk sujud kepada Adam Alaihi Salam. Imam Al-Ghazali Rahimahullah, dalam kitabnya Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa kesombongan Iblis adalah akar dari seluruh penyimpangan dan kemaksiatan di bumi.

Ibnu Taimiyah menegaskan, iblis tidak memiliki kekuatan memaksa manusia. Ia hanya memiliki kemampuan menghias kebatilan dan memperindah dosa dan kemaksiatan sehingga tampak indah dan menarik. Ini menunjukkan bahwa kelemahan manusia sesungguhnya berasal dari dalam dirinya sendiri, bukan semata-mata godaan Iblis.

Adapun kelima strategi yang dipakai Iblis, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas adalah:

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Strategi pertama adalah melalui suara, maksudnya adalah propaganda dan bisikan. Ini mencakup segala bentuk ajakan yang menjauhkan manusia dari kebenaran yang bersumber dari dari Allah Ta’ala (Al-Haq). Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa bisikan ini seringkali masuk kepada hati yang lalai dari dzikir.

Dalam realitas kehidupan modern, “suara” iblis tidak lagi terbatas pada bisikan dalam hati, tetapi hadir dalam berbagai bentuk dan model yang lebih kompleks. Ia bisa muncul melalui narasi media, budaya populer, hingga opini publik yang dibentuk secara sistematis dan masif.

Nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam seringkali dikemas secara menarik, seolah-olah itulah yang menjadi standar kemajuan. Di sinilah manusia diuji: apakah ia mengikuti arus atau tetap berpegang pada prinsip wahyu.

Para ulama menegaskan, bahwa hati yang kosong dari dzikir akan menjadi “ruang gema” bagi suara-suara kebatilan. Sebaliknya, hati yang hidup dengan Al-Qur’an akan mampu memilah mana bisikan kebenaran dan mana godaan setan.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Strategi kedua adalah mobilisasi kekuatan (khail dan rajil). Ini berarti Iblis tidak bekerja sendiri, tetapi ia memiliki jaringan, termasuk manusia-manusia yang menjadi agen keburukan. Dalam konteks sosial, hal itu bisa berupa sistem yang mendorong kemaksiatan secara kolektif dalam masyarakat.

Iblis tidak bekerja sendirian. Ia membangun “ekosistem keburukan” yang melibatkan manusia sebagai perpanjangan tangannya. Dalam skala kecil, ini tampak dalam pergaulan yang buruk. Dalam skala besar, ia bisa menjelma menjadi sistem sosial yang melegitimasi kemaksiatan, bahkan menjadikannya sebagai aturan dan budaya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa godaan iblis bukan sekadar individual. Seseorang bisa terseret bukan karena niat awalnya saja, tetapi karena tekanan lingkungan, ajakan teman, atau terhimpit keadaan, sedangkan ia tidak mampu menemukan jalan keluar yang tepat sesuai syariat dan terbujuk bisikan setan.

Oleh karena itu, memilih lingkungan yang baik menjadi bagian dari strategi keselamatan. Sebagaimana pepatah ulama, “Seseorang berada di atas agama teman dekatnya.”

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Strategi ketiga adalah intervensi dalam harta. Ini mencakup cara memperoleh harta secara haram, penggunaan yang tidak sesuai syariat, serta sikap berlebihan dalam mencintai dunia. Imam Al-Ghazali Rahimahullah menegaskan, bahwa kecintaan kepada dunia adalah pintu utama masuknya setan.

Harta merupakan salah satu pintu paling besar yang digunakan iblis untuk menyesatkan manusia. Ia tidak selalu mendorong manusia untuk mencuri, merampok, atau korupsi, tetapi lebih sering mengarahkan pada hal-hal yang tampak “halal namun melalaikan,” seperti berlebihan dalam konsumsi, riya dalam sedekah, atau lalai dan menunda-nunda menunaikan kewajiban berupa zakat dan infak.

Selain itu, Iblis juga menanamkan rasa takut miskin dan cinta dunia yang berlebihan. Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan dan memerintahkan kepada kebakhilan. Ketika hati sudah terikat pada harta, maka kebenaran pun seringkali dikorbankan demi kepentingan duniawi.

Strategi keempat adalah intervensi dalam anak-anak. Para ulama menafsirkan ini sebagai pendidikan yang salah, penanaman nilai yang menyimpang, serta kelalaian orang tua dalam membimbing anak. Ini relevan dengan krisis pendidikan modern yang sering kehilangan orientasi spiritual.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Serangan Iblis terhadap anak-anak dimulai sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan, sebagaimana diajarkan dalam doa-doa perlindungan dalam Islam.

Dalam konteks pendidikan, intervensi ini tampak pada kurikulum yang sekuler, ditandai dengan minimnya pendidikan agama dan akhlak, serta dominasi nilai-nilai materialistik dalam pendidikan generasi muda.

Lebih dari itu, Iblis juga memanfaatkan kelalaian orang tua. Kesibukan, kurangnya keteladanan, serta minimnya komunikasi spiritual dalam keluarga menjadi celah besar dalam memperdaya anak-anak mereka. Akibatnya, anak tumbuh tanpa fondasi iman yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh arus pemikiran yang menyimpang dan menyesatkan.

Strategi kelima adalah janji-janji palsu. Iblis menjanjikan kenikmatan semu, kebebasan tanpa batas, dan kebahagiaan instan. Padahal semua itu berujung pada kehampaan dan kesengsaraan. Ibnu Qayyim Rahimahullah, dalam kitab Ighāthatul Lahfān min Maṣāyidisy-Syaithān menyebutnya sebagai “fatamorgana spiritual.”

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Janji Iblis selalu tampak indah di awal, namun berujung pada penyesalan. Ia menjanjikan kebebasan, padahal yang terjadi adalah perbudakan hawa nafsu. Ia menjanjikan kebahagiaan, padahal yang didapat adalah kesusahan dan kegelisahan. Inilah yang disebut para ulama sebagai “tipuan bertahap” (tadarruj), yakni manusia diseret perlahan-lahan, tanpa disadari.

Ibnu Qayyim menjelaskan, bahwa salah satu tipu daya terbesar iblis adalah membuat dosa terasa ringan dan menunda taubat. Manusia dibuat merasa masih punya waktu, hingga akhirnya ajal datang tanpa peringatan. Oleh karena itu, kesadaran akan kematian dan akhirat menjadi kunci untuk membongkar ilusi janji-janji palsu tersebut.

Kelima strategi ini menunjukkan bahwa Iblis bekerja secara sistematis: dari individu, keluarga, hingga masyarakat. Ia memanfaatkan kelemahan psikologis manusia: hawa nafsu, ambisi, dan kelalaian.

Namun penting dicatat, sebagaimana ditegaskan Ibnu Taimiyah Rahimahullah, bahwa semua itu hanya efektif jika manusia membuka pintu. Jika pintu ditutup dengan iman dan ilmu, maka iblis tidak memiliki akses untuk menggoda dan menipu manusia

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Orang-Orang yang Selamat dari Tipu Daya Iblis

Allah Ta’ala menegaskan bahwa ada golongan manusia yang tidak bisa dikuasai Iblis, yaitu “hamba-hamba-Ku”. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keikhlasan, sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an.

Menurut Al-Ghazali Rahimahullah, orang yang selamat adalah mereka yang mengenal dirinya dan Tuhannya. Kesadaran spiritual ini membuat mereka tidak mudah tertipu oleh godaan dunia yang fana.

Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah menjelaskan bahwa dzikir adalah benteng utama. Hati yang selalu mengingat Allah Ta’ala tidak akan menjadi tempat bagi setan. Sebaliknya, hati yang kosong akan mudah dimasuki bisikan.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Ulama kontemporer seperti Yusuf Al-Qaradawi Rahimahullah menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal. Tanpa ilmu, seseorang mudah tersesat. Tanpa iman, ia mudah tergoda. Tanpa amal, ia lemah dalam menghadapi ujian.

Selain itu, lingkungan yang baik juga menjadi faktor penting. Dalam banyak nasihat ulama, disebutkan bahwa berteman dengan orang saleh akan memperkuat iman dan menjauhkan dari godaan.

Orang yang bertawakal kepada Allah Ta’ala juga memiliki perlindungan khusus. Tawakal bukan berarti pasif, tetapi aktif dalam meraih kebaikan, sambil menyerahkan hasil kepada Allah Ta’ala.

Kesadaran akan adanya Hari Akhirat, masa ketika semua orang mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya menjadi benteng paling kuat. Orang yang yakin akan hisab dan balasan tidak akan mudah tergoda oleh kenikmatan sesaat.

Pesan Pendidikan dalam Ayat di Atas

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Iblis memiliki strategi yang sistematis, masif dan berlapis dalam menyesatkan manusia. Namun, Allah Ta’ala juga memberikan perlindungan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

Dalam konteks pendidikan, ini menjadi pelajaran penting bahwa pendidikan tidak cukup hanya bersifat intelektual, tetapi juga harus mencakup aspek spiritual. Generasi muda harus dibekali dengan ketahanan iman dan taqwa agar tidak mudah terpengaruh oleh arus negatif yang berujung pada kesengsaraan dan kebinasaan.

Orang tua, guru, dan para pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyelamatkan generasi dari kerusakan dan kehancuran akibat kelalaian dan mengikuti tipu saya Iblis.

Di era modern yang penuh distraksi (segala sesuatu yang mengalihkan perhatian), umat Islam harus meningkatkan kewaspadaan dengan memperkuat iman, ilmu, dan keikhlasan agar selamat dalam meniti kehidupan ini.

Hanya dengan perlindungan dan rahmat Allah Ta’ala lah, manusia bisa selamat dari tipu daya Iblis, yaitu dengan menjadi bagian dari “hamba-hamba-Nya” yang tidak bisa diperdaya. Karena pada akhirnya, kemenangan bukan milik mereka yang kuat, tetapi milik yang istiqamah di jalan kebenaran dan mendapat pertolongan dari Allah Yang Maharahman.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
MINA Sport