DI AKHIR zaman, fitnah datang silih berganti. Salah satu yang paling halus namun paling mematikan adalah fitnah harta. Ia tidak datang dengan wajah buruk, justru sering tampil manis, menjanjikan kenyamanan dan keamanan. Namun tanpa disadari, harta perlahan menguasai hati, menggantikan nilai, dan menggeser iman. Banyak orang jatuh bukan karena kekurangan, tetapi karena terlalu sibuk mengumpulkan.
Pertama: Retaknya Persaudaraan
Ketika harta menjadi ukuran segalanya, persaudaraan menjadi korban pertama. Saudara kandung saling curiga, sahabat berubah menjadi pesaing, bahkan hubungan yang dulu hangat menjadi dingin karena warisan, bisnis, atau hutang. Yang dulunya saling mendoakan, kini saling menjatuhkan. Harta yang seharusnya menjadi sarana kebaikan justru menjadi sebab permusuhan yang panjang dan menyakitkan.
Kedua: Putusnya Ikatan Orang Tua dan Anak
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Fitnah harta juga merusak ikatan paling suci: hubungan orang tua dan anak. Anak sibuk mengejar dunia hingga lupa berbakti, lupa menyapa, lupa mendoakan. Orang tua pun kadang terjebak menilai anak dari keberhasilan materi, bukan akhlak dan ketaatan. Cinta yang seharusnya tulus berubah menjadi tuntutan dan kekecewaan. Padahal, ridha Allah terletak pada ridha orang tua, bukan pada tebalnya harta.
Ketiga: Hilangnya Ukuran Nilai Manusia
Saat harta menjadi standar, manusia tidak lagi dinilai dari iman dan akhlaknya, tetapi dari apa yang ia miliki. Yang kaya dihormati meski zalim, yang miskin direndahkan meski jujur dan bertakwa. Ukuran kebenaran pun bergeser: benar jika menguntungkan, salah jika merugikan. Hati menjadi kering, nurani tumpul, dan keadilan dikorbankan demi keuntungan.
Yang lebih mengerikan, fitnah harta sering tidak disadari. Ia masuk perlahan, membungkus diri dengan alasan “demi keluarga”, “demi masa depan”, atau “sekadar mencari aman”. Padahal sedikit demi sedikit, harta mengambil alih waktu, pikiran, dan doa. Shalat ditunda, silaturahmi diabaikan, dan kebaikan dikalkulasi untung-ruginya.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Islam tidak melarang harta, tetapi memperingatkan bahayanya ketika ia menguasai hati. Harta adalah amanah, bukan tujuan. Ia ujian, bukan ukuran kemuliaan. Jika harta mendekatkan kita pada Allah dan menguatkan persaudaraan, ia adalah nikmat. Namun jika ia menjauhkan kita dari keluarga, merusak hubungan, dan melalaikan akhirat, maka itulah fitnah yang sesungguhnya.
Di tengah derasnya fitnah harta di akhir zaman, mari kita jaga hati agar tetap merdeka. Jangan biarkan harta memutus silaturahmi, merobek bakti, dan mengaburkan nilai kebenaran. Karena ketika semua yang kita kejar ditinggalkan saat ajal tiba, hanya iman, amal, dan hubungan yang dijaga karena Allah yang akan menyelamatkan kita.
Rasulullah SAW sejak awal telah memperingatkan umat ini tentang bahaya fitnah harta. Beliau bersabda, “Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih). Hadis ini menegaskan bahwa harta bukan sekadar ujian biasa, melainkan ujian paling dominan yang dapat menjerumuskan siapa saja, bahkan orang beriman, jika tidak waspada. Fitnah ini tidak memilih—ia menimpa yang kaya maupun yang sedang mengejar kekayaan.
Al-Qur’an juga menegur dengan sangat tegas, “Ketahuilah bahwa harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28). Ayat ini meluruskan cara pandang manusia. Harta dan anak bukan tanda cinta Allah, melainkan alat ujian untuk melihat siapa yang tetap taat dan siapa yang tergelincir. Banyak orang gagal bukan karena tak punya, tetapi karena lupa bahwa semua hanyalah titipan.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Tentang rusaknya persaudaraan karena harta, Allah mengingatkan, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10). Namun realitas akhir zaman memperlihatkan betapa mudah persaudaraan itu runtuh ketika berhadapan dengan uang. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim). Harta sering menjadi sebab putusnya silaturahmi yang justru diharamkan oleh syariat.
Dalam hubungan orang tua dan anak, fitnah harta juga sangat berbahaya. Allah berfirman, “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23). Namun demi pekerjaan, bisnis, dan ambisi materi, banyak anak menunda bakti. Rasulullah SAW mengingatkan, “Celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup namun tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim). Betapa ruginya jika harta justru menjadi penghalang menuju surga.
Tentang hilangnya ukuran nilai manusia, Allah menegaskan standar yang tidak pernah berubah, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menghancurkan standar dunia yang menilai manusia dari saldo dan jabatan. Ketika masyarakat lebih memuliakan yang kaya daripada yang bertakwa, saat itulah fitnah harta bekerja dengan sempurna, membalikkan nilai yang hak menjadi batil.
Rasulullah SAW bahkan menggambarkan kedahsyatan fitnah dunia dengan perumpamaan yang sangat menakutkan, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba seperti mereka berlomba, dan dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dunia—termasuk harta—tidak membunuh secara fisik, tetapi membinasakan iman dan hati.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Karena itu, jalan selamat dari fitnah harta adalah menempatkannya di tangan, bukan di hati. Allah mengingatkan, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah itulah yang kekal.” (QS. An-Nahl: 96). Harta akan habis, persaudaraan akan dipertanyakan, bakti akan dimintai pertanggungjawaban. Maka berbahagialah orang yang menjadikan hartanya sebagai wasilah taat, bukan tujuan hidup, karena hanya hati yang bersih dari fitnah dunia yang akan selamat di akhirat.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic