Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Membangun Generasi Anti Malas, Anti Manja, dan Siap Berjuang

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 12 Mei 2026 - 10:56 WIB

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:56 WIB

56 Views ㅤ

DI ZAMAN hari ini, banyak orang tua dan guru mengeluh tentang satu hal yang sama: anak-anak semakin mudah menyerah, sulit disiplin, cepat bosan, dan tidak tahan menghadapi kesulitan.(Foto: ig)

DI ZAMAN hari ini, banyak orang tua dan guru mengeluh tentang satu hal yang sama: anak-anak semakin mudah menyerah, sulit disiplin, cepat bosan, dan tidak tahan menghadapi kesulitan. Sedikit tekanan membuat mereka stres, sedikit aturan membuat mereka memberontak, sedikit kegagalan membuat mereka putus asa.

Fenomena ini terjadi di rumah, di sekolah, bahkan di sebagian lembaga pendidikan Islam. Padahal umat ini dahulu pernah melahirkan generasi yang kuat jiwanya, tajam pikirannya, lembut hatinya, namun keras dalam perjuangan. Mereka bukan generasi pemalas, bukan generasi manja, dan bukan generasi yang hidup hanya mengejar kenyamanan dunia.

Inilah tantangan besar bagi setiap orang tua, guru, ustaz, dan pengasuh pesantren: bagaimana mencetak generasi yang tangguh, tahan banting, cinta ilmu, disiplin, dan siap memikul amanah dakwah serta kehidupan?

Menariknya, walaupun hari ini banyak seminar parenting dan pendidikan modern bermunculan, ternyata Rasulullah ﷺ sudah jauh-jauh hari berhasil membangun generasi anti malas, anti manja, dan siap berjuang. Lihatlah para sahabat. Mereka hidup sederhana namun memiliki mental luar biasa. Di usia muda mereka sudah memimpin pasukan, berdagang, berdakwah, menjaga Al-Qur’an, bahkan rela mengorbankan jiwa demi agama Allah.

Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”

Pertanyaannya bukan lagi “apakah itu mungkin?”, tetapi “apakah kita mau kembali belajar dari metode Nabi ﷺ?”

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr)

Baca Juga: Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan sejatinya adalah perjuangan. Tidak ada kemuliaan tanpa kesabaran. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Dan tidak ada generasi hebat tanpa pembiasaan menghadapi tantangan.

Penelitian psikologi modern pun menguatkan hal ini. Profesor Angela Duckworth dari University of Pennsylvania dalam risetnya tentang grit menjelaskan bahwa faktor terbesar keberhasilan seseorang bukan hanya kecerdasan, tetapi ketangguhan mental, konsistensi, dan daya juang menghadapi kesulitan. Sementara banyak penelitian pendidikan menunjukkan bahwa anak yang terlalu dimanjakan cenderung lebih mudah cemas, kurang mandiri, dan sulit mengambil keputusan saat dewasa. Islam telah mengajarkan itu sejak 14 abad lalu, berikut hal-hal yang harus diperhatikan

1. Tanamkan Aqidah dan Tujuan Hidup Sejak Dini

Generasi pemalas lahir ketika hidup hanya berisi kesenangan. Anak yang tidak memiliki tujuan besar akan mudah tenggelam dalam hiburan dan kemalasan. Karena itu Rasulullah ﷺ pertama kali membangun iman sebelum membangun kemampuan.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Anak harus memahami bahwa hidup bukan sekadar makan, sekolah, lalu mencari uang. Mereka diciptakan untuk menjadi hamba Allah dan pejuang kebaikan. Ketika tujuan hidup tinggi, mental pun menjadi kuat. Anak yang sadar dirinya membawa amanah Allah akan lebih siap berjuang dibanding anak yang hanya diajarkan mengejar kenyamanan.

Baca Juga: Bab Al-Mandab: Perebutan Selat Strategis yang Menentukan Harga Minyak Dunia

2. Biasakan Hidup Sederhana dan Tidak Berlebihan

Kemanjaan sering lahir dari terlalu banyak fasilitas. Semua disediakan, semua dimudahkan, semua dituruti. Akibatnya anak tidak mengenal perjuangan.

Padahal Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat dengan kesederhanaan. Mereka lapar, berjalan jauh, tidur di atas tikar kasar, namun hati mereka penuh cahaya iman.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا

“Ya Allah, hidupkan aku dalam kesederhanaan dan wafatkan aku dalam kesederhanaan.” (HR. Tirmidzi)

Bukan berarti Islam mengajarkan kemiskinan, tetapi Islam melatih jiwa agar tidak diperbudak kenyamanan. Anak yang terbiasa hidup sederhana akan lebih kuat menghadapi kerasnya kehidupan.

Di rumah dan pesantren, anak perlu dibiasakan membantu pekerjaan, membersihkan tempat tidur, mencuci perlengkapan sendiri, disiplin waktu, dan tidak selalu bergantung kepada orang lain.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

3. Didik dengan Tanggung Jawab, Bukan Hanya Nasihat

Banyak anak mendengar ceramah setiap hari, tetapi sedikit diberi tanggung jawab nyata. Padahal tanggung jawab adalah sekolah kedewasaan.

Rasulullah ﷺ memberi tugas kepada para sahabat muda. Usamah bin Zaid memimpin pasukan di usia belia. Abdullah bin Abbas dididik menjadi ahli ilmu sejak muda. Mu’adz bin Jabal dikirim berdakwah ke Yaman ketika masih sangat muda.

Nabi ﷺ bersabda:

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anak yang diberi amanah akan belajar disiplin, berpikir, dan bertanggung jawab. Jangan terlalu sering meremehkan kemampuan mereka. Terkadang yang membuat anak lemah bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak pernah dipercaya.

4. Bangun Mental Tahan Susah dan Tidak Mudah Mengeluh

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Salah satu penyakit generasi hari ini adalah sedikit-sedikit mengeluh. Padahal perjuangan tidak pernah lepas dari kesulitan.

Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Anak harus diajarkan bahwa lelah itu biasa, gagal itu biasa, ditegur itu biasa, dan jatuh itu bagian dari proses belajar. Jangan setiap kesulitan langsung disingkirkan dari hidup mereka. Justru kesulitan yang terukur akan membentuk kekuatan mental.

Psikolog menyebutnya sebagai resilience, yaitu kemampuan bangkit setelah tekanan. Dalam Islam, itu disebut sabar dan jihadun nafs.

5. Jauhkan dari Budaya Instan dan Ketergantungan Gadget

Hari ini banyak anak kehilangan fokus karena hidup dalam budaya instan. Semua serba cepat, serba hiburan, serba mudah. Akibatnya daya tahan belajar menurun drastis.

Baca Juga: Satu Layar, Seribu Fitnah

Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat mengurangi kemampuan fokus, meningkatkan impulsivitas, dan membuat anak sulit menikmati proses panjang.

Karena itu orang tua dan guru harus berani membuat aturan. Batasi hiburan yang berlebihan. Biasakan membaca buku, olahraga, hafalan Al-Qur’an, diskusi ilmu, kerja lapangan, dan aktivitas fisik yang melatih ketahanan.

Umar bin Khattab ra pernah berkata, “Didiklah anak-anak kalian dengan kehidupan yang keras, karena sesungguhnya kenikmatan hidup tidak selamanya.” Kalimat ini sangat dalam maknanya. Anak yang terlalu nyaman sering kali rapuh ketika dewasa.

6. Berikan Teladan, Bukan Sekadar Perintah

Mustahil melahirkan generasi disiplin jika orang tua malas. Mustahil melahirkan generasi pejuang jika guru mudah menyerah. Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar.

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbesar. Beliau ikut menggali parit, ikut memikul batu, ikut merasakan lapar, dan paling dahulu berkorban di jalan Allah.

Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ketika guru rajin, anak akan belajar rajin. Ketika ayah disiplin shalat berjamaah, anak akan lebih mudah disiplin. Ketika ibu sabar dan kuat menghadapi ujian hidup, anak akan belajar keteguhan.

7. Tanamkan Ruh Jihad, Dakwah, dan Pengorbanan

Generasi besar tidak lahir dari cinta dunia, tetapi dari cita-cita besar untuk agama Allah. Para sahabat tumbuh dengan semangat dakwah, pengorbanan, dan perjuangan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

Kekuatan di sini bukan hanya fisik, tetapi juga mental, ilmu, iman, ekonomi, dan daya juang. Anak harus dibiasakan memiliki misi hidup: membela Islam, menolong sesama, menjaga Al-Qur’an, dan menjadi manusia yang bermanfaat.

Jika generasi hanya diajarkan mencari pekerjaan tanpa diajarkan memperjuangkan agama, maka mereka akan tumbuh cerdas tetapi rapuh, pintar tetapi mudah menyerah, kaya tetapi miskin makna hidup.

Membangun generasi anti malas, anti manja, dan siap berjuang memang bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan kesabaran panjang, keteladanan nyata, aturan yang tegas, cinta yang benar, dan pendidikan ruhiyah yang mendalam. Namun sejarah telah membuktikan: Rasulullah ﷺ berhasil melakukannya.

Hari ini umat tidak kekurangan teknologi, tetapi kekurangan ketangguhan. Tidak kekurangan sekolah, tetapi kekurangan pembinaan jiwa. Tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan keteladanan.

Karena itu sudah saatnya rumah, sekolah, dan pesantren kembali mengambil cahaya tarbiyah Nabi ﷺ. Sebab dari sanalah lahir generasi yang bukan hanya pintar berpikir, tetapi juga kuat berjuang. Generasi yang tidak takut lelah demi kebenaran. Generasi yang hidupnya menjadi kabar gembira bagi umat dan peringatan dari kerusakan zaman — basyira wa nadzira.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Waspada! Penyakit yang Tak Terlihat Namun Mematikan
Tausiyah
Tausiyah