Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kaitan Pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah dengan Jama’ah Imaamah

Ali Farkhan Tsani - Jumat, 3 Juli 2026 - 04:13 WIB

Jumat, 3 Juli 2026 - 04:13 WIB

41 Views ㅤ

Ilustrasi: Kubah As-Sakhrakh di Kompleks Al-Aqsha, di Kota Al-Quds, Palestina. (Dok MINA)

DALAM sistem pendidikan Islam yang komprehensif, terdapat dua pelajaran yang saling terkait erat dan membentuk satu kesatuan aqidah yang kokoh: Pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah dan Pelajaran Al-Jama’ah wal Imaamah. Keduanya bertemu pada satu titik, yaitu pembebasan Masjid Al-Aqsha.

Al-Quds wal Maqdisiyah menanamkan aqidah tentang kewajiban memuliakan dan menjaga Al-Aqsha, sementara Al-Jama’ah wal Imaamah menanamkan aqidah tentang kewajiban umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan (imaam) dalam perjuangan, wabil khusus perjuangan pembebasan Al-Aqsha.

Dua aqidah ini tidak bisa dipisahkan. Tanpa keyakinan terhadap keduanya, perjuangan pembebasan Al-Aqsha tidak akan pernah terwujud.

Bagian Pertama: Aqidah Memuliakan dan Menjaga Al-Aqsha

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

  1. Al-Aqsha dalam Aqidah Islam

Pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah menanamkan aqidah yang mendalam tentang kedudukan Masjid Al-Aqsha dalam Islam. Ini bukan sekadar pengetahuan sejarah, tetapi keyakinan (aqidah) yang harus tertanam dalam hati setiap muslim. Allah sendiri yang menegaskan kemuliaan Al-Aqsha dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS Al-Isra [17]: 1).

Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ia adalah dasar aqidah yang mengajarkan bahwa Al-Aqsha adalah tanah yang diberkahi dan dimuliakan oleh Allah. Seorang muslim yang beriman wajib meyakini kemuliaan ini dan menjadikannya sebagai bagian dari keyakinannya. Mengabaikan Al-Aqsha berarti mengabaikan bagian dari aqidah Islam.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

  1. Kewajiban Memuliakan Al-Aqsha

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menegaskan kedudukan Al-Aqsha sebagai salah satu dari tiga masjid paling mulia. Sabda beliau:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidaklah diarahkan (kendaraan untuk) bepergian kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menanamkan aqidah bahwa memuliakan Al-Aqsha adalah bagian dari iman. Ia bukan isu politik, tetapi isu aqidah. Siapa yang meremehkan Al-Aqsha, berarti meremehkan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam muliakan. Siapa yang meninggalkannya, berarti meninggalkan bagian dari ajaran Islam. Inilah yang diajarkan dalam pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah.

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

  1. Kewajiban Menjaga dan Membebaskan Al-Aqsha

Pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah juga mengajarkan bahwa menjaga Al-Aqsha adalah kewajiban aqidah. Allah telah memerintahkan umat Islam untuk menjaga kehormatan masjid-masjid-Nya. Ketika Al-Aqsha dijajah dan dinodai oleh kaum Zionis, maka membebaskannya menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah) atas seluruh umat Islam.

Seperti yang dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali dan para ulama lainnya, membela tanah suci dari penjajahan adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Ini adalah konsekuensi logis dari aqidah bahwa Al-Aqsha adalah milik umat Islam yang tidak boleh diserahkan kepada siapa pun.

  1. Al-Quds dan Umat Terbaik

Pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah juga mengaitkan aqidah memuliakan Al-Aqsha dengan konsep khaira ummah (umat terbaik) dalam Surat Ali Imran. Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar…”
(QS Ali Imran [3]: 110).

Menjadi umat terbaik berarti menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar. Dan salah satu bentuk amar ma’ruf terbesar adalah membela kebenaran dan melawan kezaliman, termasuk kezaliman penjajah Zionis atas Al-Aqsha.

Seorang muslim yang tidak peduli terhadap Al-Aqsha berarti tidak menjalankan misi amar ma’ruf nahi mungkar dengan sempurna.

Bagian Kedua: Persatuan dan Kepemimpinan

Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

  1. Berjama’ah dalam Al-Qur’an

Pelajaran Al-Jama’ah wal Imaamah menanamkan aqidah bahwa hidup berjama’ah adalah bagian dari iman. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 102-103:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ * وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS Ali Imran [3]: 102-103).

Ayat ini mengandung dua perintah penting, yaitu perintah takwa, “Bertakwalah kepada Allah…” Takwa adalah landasan segala amal. Selanjutnya, perintah berjama’ah, “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” Persatuan adalah kunci kekuatan umat Islam.

Baca Juga: Peneliti UIN Ar-Raniry Ungkap Transformasi Otoritas Keagamaan di Era Digital

Dalam konteks pelajaran ini, secara  aqidah berarti keyakinan bahwa umat Islam tidak bisa berjuang sendirian. Mereka harus bersatu dalam satu barisan, satu tujuan, dan satu kepemimpinan. Khususnya dalam perjuangan pembebasan Al-Aqsha, persatuan adalah syarat mutlak. Tanpa persatuan, umat Islam akan lemah dan mudah dipecah-belah oleh musuh.

  1. Lima Kewajiban

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa ada lima kewajiban yang harus dijalankan oleh umat Islam dalam rangka membangun kekuatan kolektif. Sabda beliau:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَالسَّمْعِ، وَالطَّاعَةِ، وَالْهِجْرَةِ، وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Hendaklah kalian (berpegang pada) jama’ah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Baca Juga: Indonesia dan Mesir Perluas Kerja Sama Pendidikan, Beasiswa Hingga Riset

Pelajaran Al-Jama’ah wal Imaamah menanamkan aqidah tentang lima kewajiban ini, yakni berjama’ah, mendengar, taat, hijrah dan jihaad di jalan Allah.

Yang paling penting untuk dipahami adalah puncak jihad tidak bisa dicapai tanpa berjama’ah. Seorang muslim tidak bisa berjihad sendirian untuk membebaskan Al-Aqsha. Ia harus bergabung dalam jama’ah yang terorganisir dan terpimpin. Inilah inti dari pelajaran Al-Jama’ah wal Imaamah bahwa perjuangan individu tanpa organisasi dan kepemimpinan akan sia-sia.

  1. Umat Terbaik Lahir dari Berjama’ah

Puncak dari aqidah ini adalah Surat Ali Imran ayat 110, yang menegaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik karena mereka menjalankan misi amar ma’ruf nahi mungkar. Tetapi untuk menjadi umat terbaik, mereka harus berjama’ah. Tanpa persatuan, mereka akan kehilangan status sebagai umat terbaik dan jatuh dalam kehinaan.

Allah berfirman:

Baca Juga: Mahasiswa KKN STAI Al-Fatah Gelar Talkshow Jurnalisme Santri di Tasikmalaya

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imran [3]: 110).

Umat terbaik tidak akan pernah terwujud jika mereka terpecah-belah. Mereka hanya akan menjadi umat terbaik ketika mereka bersatu, terorganisir, dan terpimpin oleh imaam. Perjuangan pembebasan Al-Aqsha membutuhkan umat terbaik ini, umat yang berani amar ma’ruf dengan membela Al-Aqsha, dan nahi mungkar dengan melawan penjajahan Zionis.

Bagian Ketiga: Keterkaitan Kedua Pelajaran dalam Satu Kesatuan

Baca Juga: Mahasiswa Disabilitas UIN Ar-Raniry Terima Bantuan Motor Modifikasi

  1. Dua Pelajaran, Satu Tujuan

Pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah dan Pelajaran Al-Jama’ah wal Imaamah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya menyatu dalam satu tujuan, yakni membebaskan Masjid Al-Aqsha.

Pelajaran Al-Quds menanamkan aqiidah memuliakan dan menjaga al-Aqsha. Sedangkan Pelajaran Jama’ah menanamkan aqidah Bersatu dan terpimpin dalam perjuangan.

Pelajaran Al-Quds memberi pengetahuan dan motivasi untuk berjuang. Sedangkan Pelajaran Jama’ah memberi sistem dan organisasi untuk berjuang.

Pelajaran Al-Quds menjawab pertanyaan, “Apa yang harus diperjuangkan?” Sedangkan Pelajaran Jama’ah menjawab pertanyaan, “Bagaimana cara memperjuangkannya?

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Tanpa pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah, umat Islam tidak akan memiliki kesadaran dan motivasi untuk berjuang. Tanpa pelajaran Jama’ah Imaamah, perjuangan mereka akan kacau dan tidak efektif. Keduanya harus diajarkan secara bersama-sama.

  1. Perjuangan Pembebasan Al-Aqsha Membutuhkan Jama’ah

Kalau umat Islam di seluruh dunia ikut membela perjuangan Al-Aqsha Palestina, bersatu dalam satu komando Imaam atau Khalifah, maka Umat Islam akan menang.

Pernyataan ini menegaskan bahwa perjuangan Al-Aqsha tidak bisa dilakukan tanpa jama’ah dan imaam. Umat Islam harus menyatukan langkah, mendengarkan pemimpin, mentaatinya, berhijrah dari kelemahan menuju kekuatan, dan berjihad bersama-sama. Ini adalah implementasi dari hadits lima kewajiban: berjama’ah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad.

  1. Tercerai-berai Akibat Meninggalkan Jama’ah

Sebaliknya, kelemahan umat Islam saat ini disebabkan oleh meninggalkan jama’ah dan imaam. Mereka terpecah-belah, saling bermusuhan, dan tidak memiliki kepemimpinan yang menyatukan. Akibatnya, mereka lemah dan tidak mampu membebaskan Al-Aqsha.

Inilah yang dimaksud dalam QS Ali Imran ayat 103:

وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Perpecahan adalah penyebab kehinaan. Persatuan adalah jalan menuju kemenangan. Inilah pelajaran yang diajarkan oleh kedua pelajaran ini.

  1. Jihad Ma’rifi dan Jihad Fisik

Pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah adalah bagian dari Jihad Ma’rifi (jihad pengetahuan), yaitu membangun kesadaran dan pemahaman tentang Al-Aqsha. Sedangkan Pelajaran Jama’ah wal Imaamah adalah bagian dari persiapan jihad fisik, yakni membangun organisasi dan kepemimpinan untuk beraksi.

Keduanya harus berjalan beriringan. Tidak ada jihad fisik tanpa jihad ma’rifi. Dan tidak ada jihad ma’rifi yang berarti tanpa implementasi dalam bentuk jihad fisik yang terorganisir.

Kesimpulan: Menyatukan Aqidah untuk Pembebasan

Pelajaran Al-Quds wal Maqdisiyah dan Pelajaran Al-Jama’ah wal Imaamah adalah dua pilar aqidah yang harus diajarkan bersama-sama. Al-Quds wal Maqdisiyah menanamkan aqidah tentang kewajiban memuliakan dan menjaga Al-Aqsha. Jama’ah wal Imaamah menanamkan aqidah tentang kewajiban umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan dalam perjuangan, wabil khusus perjuangan pembebasan Al-Aqsha.

Keduanya berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Quds wal Maqdisiyah berlandaskan antara lain pada QS Al-Isra: 1, QS Al-Anbiya: 71, QS Al-Maidah: 21, dan QS Ali Imran: 110. Jama’ah wal Imaamah berlandaskan antara lain pada QS Ali Imran: 102-103, QS An-Nisa 59, QS Asy-Syura: 13, QS Al-Bayyinah: 4, dan hadits tentang lima kewajiban: berjama’ah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad.

Puncak dari kedua pelajaran ini adalah terwujudnya umat terbaik (QS Ali Imran: 110) yang mampu menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dengan membebaskan Al-Aqsha dari penjajahan Zionis. Dan itu semua hanya akan tercapai ketika umat Islam berjama’ah, terpimpin, dan berjihad bersama-sama.

“Ya Allah, satukanlah umat Islam dalam satu kepemimpinan untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha. Ampunilah dosa-dosa kami, dan jadikanlah kami sebagai umat terbaik yang Engkau janjikan.”

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda