Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jihad Pembebasan Al-Aqsa sebagai Puncak Perjuangan Berjama’ah

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 13 Juli 2026 - 09:06 WIB

Senin, 13 Juli 2026 - 09:06 WIB

53 Views ㅤ

Kompleks Masjid Al-Aqsa. (Mosoah)

MASJID AL-AQSHA, kiblat pertama umat Islam dan tanah para nabi, dan negeri Palestina, terus menggeliat di bawah belenggu penjajahan Zionis Israel. Pertanyaan yang harus kita jawab bersama adalah, “Mengapa umat Islam belum mampu membebaskan Al-Aqsha?”

Jawabannya tegas: Karena umat Islam masih terpecah belah dan tidak memiliki imaam yang memimpin mereka dalam satu barisan. Perjuangan besar, apalagi sebesar perjuangan membebaskan Al-Aqsha dan Palestina dari penjajahan, tidak ada cara lain kecuali dengan berjama’ah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan lima kewajiban yang saling terkait dalam sabdanya:

أَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ أَللهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ : بِالْجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللهِ

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

“Aku perintahkan kepada kamu sekalian lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu, yakni (berpegang pada) Al-Jama’ah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Hadits ini mengajarkan bahwa puncak dari segala perjuangan adalah jihad, dan jihad tidak mungkin dicapai tanpa berjama’ah. Urutannya logis: berjama’ah dulu, mendengar, taat, hijrah, dan barulah jihad. Inilah yang menjadi ruh perjuangan pembebasan Al-Aqsha. Tidak mungkin melompati langkah-langkah ini.

Sejarah mencatat dengan jelas bahwa pembebasan Al-Quds terjadi ketika umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan yang kuat. Yakni ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab membebaskan wilayah Baitul Maqdis, Kota Al-Quds, dan Masjid Al-Aqsha di dalamnya pada tahun 638 M.

Saat berada di Jabiyah, sebuah tempat dekat Kota Al-Quds, beliau menyampaikan pesan yang sangat penting:

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

“Sesungguhnya tidak ada Islam (yang tegak) kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya kepemimpinan (imamah), dan tidak ada (gunanya) kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.”

Di Jabiyah itulah Umar mengorganisir administrasi militer dan menentukan kebijakan-kebijakan strategis sebelum memasuki gerbang Al-Quds.

Shalahuddin Al-Ayyubi melanjutkan jejak ini. Ia membebaskan Baitul Maqdis pada tahun 1187 M setelah mempersatukan potensi umat Islam dari berbagai wilayah, Mesir, Suriah, Mesopotamia, dan sekitarnya. Beliau tidak serta-merta menyerang Al-Quds. Ia terlebih dahulu memahami geopolitik dan menguasai wilayah-wilayah penyangga.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Beliau juga mempersatukan hati pasukannya, menjauhkan mereka dari penyakit hati seperti dengki dan iri, serta tidak pernah lupa menunaikan shalat tahajud.

Allah menggambarkan kelemahan musuh berupa penyakit hati yang berpecah belah, dalam Surat Al-Hasyr ayat 14:

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

“Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antar sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira bahwa mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah.” (QS Al-Hasyr [59]: 14).

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Ayat ini menggambarkan kelemahan musuh, yaitu bahwa mereka berpecah belah dan tidak bersatu. Hati mereka sebenarnya terpecah belah, penuh permusuhan internal. Inilah celah yang harus dimanfaatkan umat Islam. Jangan sampai sifat ini justru menimpa kaum Muslimin. Jika umat Islam juga berpecah belah, maka mereka akan mengalami kehinaan yang sama.

Jihad Puncak Berjama’ah

Jihad pembebasan Al-Aqsha adalah puncak perjuangan berjama’ah. Tidak ada cara lain. Sejarah telah membuktikan bahwa kemenangan hanya datang ketika umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan yang jelas. Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi adalah bukti nyata.

Di sisi lain, perpecahan adalah senjata musuh. Al-Quds jatuh ke tangan Tentara Salib dan Zionis Israel ketika umat Islam berpecah belah. Firman Allah dalam Al-Hasyr 14 menjadi peringatan bagi kita semua: jangan sampai sifat berpecah belah menimpa kaum Muslimin.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Demikianlah, pembebasan Al-Aqsha adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) atas seluruh umat Islam. Kewajiban ini hanya bisa dilaksanakan secara maksimal jika umat Islam berjama’ah, yakni bersatu dalam satu barisan, satu kepemimpinan seorang Imaam.

Kemudian mendengar, yakni mendengarkan arahan pemimpin, menaati pemimpin dalam kebaikan, hijrah keluar dari kelemahan menuju kekuatan. Dan puncaknya, jihad,b erjuang bersama-sama di jalan Allah.

“Ya Allah, persatukanlah hati umat Islam, satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran, tolonglah mereka atas musuh-musuh mereka, dan bebaskanlah Masjid Al-Aqsha dari kezaliman para penjajah.” []

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda