Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karhutla di Jateng 232 Kejadian, Meningkat 700 persen Dibanding Tahun Sebelumnya

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:50 WIB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:50 WIB

29 Views ㅤ

Wakil Gubernur Jateng Gus Yasin ((foto: PPID Jateng)

Semarang, MINA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah melonjak hingga 700 persen sepanjang 2026. Hingga 23 Agustus, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mencatat 232 kejadian karhutla, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan di tengah puncak musim kemarau.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan dengan vegetasi yang mengering. Ia secara khusus meminta warga tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dapat memicu api dan meluas dengan cepat.

Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan menyebut 232 kejadian tersebut merupakan bagian dari 547 peristiwa kebakaran yang tercatat di Jawa Tengah hingga Agustus. Selain karhutla, terdapat 315 kebakaran yang terjadi di permukiman maupun gedung.

Dari 232 kejadian karhutla, kebakaran tersebar di berbagai wilayah Jawa Tengah. Klaten tercatat sebagai daerah dengan kejadian terbanyak, yakni 31 kasus, disusul Sragen 30 kasus, Sukoharjo 18 kasus, Wonogiri 17 kasus dan Boyolali 16 kasus. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain seperti Blora, Kabupaten Semarang, Banyumas, Kudus dan Kota Tegal.

Baca Juga: MK Tolak Gugatan Ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka

BPBD Jateng mencatat dampak kebakaran mencapai sekitar 194 hektare lahan, 213 hektare kawasan hutan dan 2,17 hektare tempat pembuangan akhir (TPA). Total kerugian akibat berbagai kejadian kebakaran tersebut diperkirakan mencapai Rp23 miliar.

Kebakaran lahan disebut banyak terjadi di area pertanian, khususnya lahan tebu dan semak belukar, dengan sebagian kasus diduga berkaitan dengan kelalaian manusia.

Lonjakan karhutla berlangsung bersamaan dengan puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juni hingga Agustus. Kondisi tersebut membuat material vegetasi lebih mudah terbakar.

Pemerintah daerah pun perlu memperkuat pencegahan dan respons dini, sementara masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat

Secara nasional, data SiPongi Kementerian Kehutanan juga menunjukkan luas indikatif karhutla Januari-Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare, meningkat 366 persen dibanding periode yang sama pada 2025. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat

Rekomendasi untuk Anda

Info MINA
Info MINA
Info MINA
Indonesia
Satgas Karhutla Jambi Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kebakaran Musim Kemarau
Info MINA