Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Doa Nabi Ayub, Mohon Kesembuhan untuk Beribadah dan Beraktivitas

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 25 Juni 2026 - 11:38 WIB

Kamis, 25 Juni 2026 - 11:38 WIB

39 Views ㅤ

Ilustrasi: Berdoa. (Foto: NHS Employers)

KESEHATAN adalah mahkota di atas kepala orang sehat. Kita baru merasakan betapa berharganya nikmat ini ketika ia mulai menghilang. Ada ungkapan yang sangat tepat menggambarkan realita ini, “Orang sehat semua ingin. Orang sakit hanya ingin satu, sehat.”

Betapa benar. Ketika tubuh masih bugar, keinginan kita bermacam-macam. Ingin harta yang banyak, ingin makan aneka kuliner, ingin jalan-jalan liburan, dsb. Tapi ketika sakit melanda, ketika tubuh terasa tak berdaya, semua keinginan itu menyusut menjadi satu, hanya ingin sembuh. Hanya itu.

Tidak ada yang lebih penting dari sekadar bisa bangun dari tempat tidur, bisa bernapas lega, dan bisa kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Terkait ingin sembuh dari sakit yang menahun, sakit parah yang tak kunjung sembuh. Kisah Nabi Ayub ‘Alaihis Salam adalah pelajaran berharga tentang sakit dan kesembuhan.

Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

Ayub adalah Nabi yang diuji dengan cobaan luar biasa, berupa kehilangan harta, kehilangan anak-anak, dan akhirnya menderita penyakit berat selama bertahun-tahun. Dalam ujiannya yang panjang, beliau dijauhi oleh keluarga dekat maupun jauh, hanya, menyisakan istrinya yang setia.

Namun dalam kesabarannya, Nabi Ayub tidak pernah mengeluh kepada Allah. Beliau justru mengingatkan istrinya bahwa sebelum sakit, Allah telah memberinya kesehatan dan kemakmuran berpuluh-puluh tahun lamanya. Sikap inilah yang membuatnya menjadi teladan kesabaran, bahkan Allah menyebutnya sebagai “sebaik-baik hamba” dan “amat taat kepada Tuhan-nya” (QS. Shad: 44).

Doa Nabi Ayub

Di tengah kepayahan yang mendera, Nabi Ayub memanjatkan doa yang diabadikan Allah dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 83:

Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

رَبِّ إِنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Robbi innii massaniyadh-dhurru wa anta arhamur-roohimiin

Artinya: “Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Doa ini singkat, tetapi mengandung makna yang sangat dalam.

Pertama, Nabi Ayub mengakui kelemahannya: “Aku telah ditimpa penyakit.” Ini bukan keluhan, melainkan pengakuan jujur di hadapan Allah bahwa dirinya sedang dalam keadaan sulit.

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

Kedua, Nabi Ayub memuji Allah sebagai “Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Ini adalah bentuk optimisme dan keyakinan bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan mutlak untuk menyembuhkan.

Kemudian Allah pun mengabulkan doa Nabi Ayub. Dalam firman-Nya:

“Maka Kami perkenankan doa permohonannya, lalu Kami hapuskan penyakit yang menimpanya, serta Kami kurniakan kepadanya: keluarganya, dengan seganda lagi ramainya, sebagai satu rahmat dari Kami dan sebagai satu peringatan bagi orang-orang yang taat kepada Kami (supaya bersabar dan mendapat balasan baik).” (QS. Al-Anbiya: 83-84).

Proses kesembuhannya diajarkan Allah melalui cara yang mengandung hikmah besar. Nabi Ayub diperintahkan untuk menghentakkan kakinya ke tanah, lalu memancarlah mata air yang dingin dan jernih. Beliau diperintahkan untuk mandi dan meminum air tersebut, dan seketika itu juga seluruh penyakit yang melekat di tubuhnya lenyap.

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

Mengapa Allah tidak langsung menyembuhkan tanpa perantaraan? Inilah pelajaran penting bahwa kesembuhan tetap memerlukan ikhtiar. Dalam hal ini, Nabi Ayub harus berusaha dulu dengan menghentakkan kaki, mandi, dan minum.

Ini mengajarkan kita bahwa berdoa saja tidak cukup; kita harus diiringi dengan usaha nyata, yaitu berobat, minum obat, menjaga pola makan, pola pikir, pola kegiatan dan istirahat yang cukup. Tawakal adalah berserah diri kepada Allah diselingi dengan upaya.

Maka, bagi kita yang mendapatklan karunia sehat, marilah kita gunakan semaksimal mungkin untuk beribadah, beramal shalih dan berkegiatan positif.

Ada kabar gembira bagi orang yang terbiasa beribadah dalam keadaan sehat, kemudian ia sakit dan tidak mampu melakukannya. Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan amalnya ketika dalam keadaan sehat dan tidak bepergian.” (H.R. Bukhari).

Ini adalah karunia luar biasa dari Allah. Orang yang terbiasa melaksanakan shalat berjamaah di masjid ketika sehat, kemudian ia sakit dan tidak mampu datang ke masjid, maka ia tetap mendapatkan pahala shalat berjamaah seperti biasanya. Mengapa? Karena seandainya ia tidak sakit, ia pasti akan tetap melaksanakannya. Niat dan kebiasaan baiknya itu dicatat oleh Allah sebagai amal yang terus mengalir.

Bayangkan betapa besar rahmat Allah. Ketika sehat, kita rutin melaksanakan shalat berjamaah ke masjid, shalat malam, puasa sunnah, mengaji Al-Quran, dan berbagai amalan kebaikan lainnya. Lalu ketika sakit, kita tidak bisa melakukannya. Namun, Allah tidak menyia-nyiakan kebiasaan baik kita. Pahala dari amalan yang biasa kita lakukan tetap dicatat, seolah-olah kita masih melakukannya .

Inilah yang disebut dengan istimrar (kontinuitas) dalam kebaikan. Rasulullah mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dikerjakan, meskipun sedikit. Maka jangan pernah meremehkan kebiasaan baik yang kecil. Karena ketika suatu hari kita tidak mampu melakukannya karena sakit, Allah tetap mencatatnya sebagai pahala bagi kita.

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

Doa Nabi Ayub ‘Alaihis Salam bisa kita amalkan ketika kita sedang sakit, baik sakit ringan maupun berat. Cara membacanya adalah dengan penuh keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa untuk menyembuhkan.

Kisah Nabi Ayub adalah pengingat bahwa di balik setiap penyakit, ada kesembuhan. Di balik setiap kesulitan, ada kemudahan. Sebesar apa pun ujian yang menimpa, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Kesehatan adalah nikmat yang paling berharga setelah iman. Dengannya kita bisa beribadah, berkarya, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Dan ingatlah selalu: orang sehat semua pengin. Orang sakit hanya pengin satu, sehat. Maka syukurilah nikmat sehat dengan menjaganya, menggunakannya untuk kebaikan, memperbanyak amalan yang kontinu, dan tidak pernah lupa bersyukur kepada Allah yang telah memberikannya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Rekomendasi untuk Anda