Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dzulqa’dah, Bulan yang Diagungkan, Pahala yang Dilipatgandakan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 3 Mei 2026 - 13:17 WIB

Ahad, 3 Mei 2026 - 13:17 WIB

95 Views ㅤ

Ilustrasi: Shalat berjamaah di depan Ka'bah, Masjidil Haram (Al Monitor)

WAKTU terus berjalan. Kita baru saja melewati bulan Syawal yang penuh kemenangan, dan kini kaki-kaki langkah kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah 1447 Hijriyah. Di depan mata, menanti bulan yang sarat makna, Dzulhijjah, bulan pelaksanaan ibadah haji, shalat Idul Adha, dan ibadah kurban.

Allah telah mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Di antara dua belas bulan yang berputar dalam setahun, empat di antaranya dimuliakan dan disebut sebagai bulan-bulan haram (Asyhurul Hurum).

Empat bulan haram itu terdiri dari tiga bulan yang berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab, yang terletak di antara Jumadal Akhir dan Sya’ban.

Mengapa disebut Bulan Haram? Karena pada bulan-bulan ini, umat Islam ditekankan untuk tidak bermaksiat, tidak menzalimi orang lain, apalagi bertengkar dan berperang. Maknanya, haram melakukan semua larangan itu. Meskipun pada bulan lain pun perbuatan dosa tetap diharamkan, namun pada bulan-bulan ini larangan lebih ditekankan lagi.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Q.S. At-Taubah [9]: 36)

Pahala yang Dilipatgandakan

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Menurut Syaikh Ali Ash-Shabuni, dinamakan Bulan Haram karena bulan-bulan itu diagungkan, dihormati, dan disucikan. Pahala ketaatan di dalamnya dilipatgandakan, dan berperang diharamkan pada bulan-bulan tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menjelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, sang penerjemah Al-Qur’an, menjelaskan bahwa Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan suci. Maka, melakukan maksiat pada bulan-bulan ini dosanya akan lebih besar. Sebaliknya, amal saleh yang dikerjakan akan menuai pahala yang berlipat ganda.

Bulan Perdamaian

Pada hakikatnya, bulan-bulan haram adalah bulan-bulan perdamaian. Ia adalah gencatan senjata yang menjamin keamanan jiwa dan harta, sebagaimana tanah haram menjamin keselamatan orang yang berlindung di dalamnya. Tujuannya agar manusia dapat menunaikan ibadah dengan khusyuk, terutama ibadah haji, di mana jamaah datang dari seluruh penjuru dunia mulai bulan Dzulqa’dah dan pulang ke tanah air mereka pada bulan Muharram dalam keadaan aman dan nyaman.

Allah berfirman:

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar…'” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 217).

Dan dalam surat Al-Maidah, Allah kembali mengingatkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحِلُّوا۟ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram…” (Q.S. Al-Maidah [5]: 2).

Menghidupkan Ibadah

Jika bulan-bulan haram adalah bulan yang mulia di sisi-Nya, maka sudah sepantasnya kita sebagai hamba yang merindukan rahmat-Nya turut memuliakannya. Bukan dengan pesta dan hura-hura, melainkan dengan memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Di bulan Dzulqa’dah yang penuh berkah ini, mari kita tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita. Baik ibadah mahdhah seperti: Shalat fardhu berjamaah, ditambah dengan shalat sunnah rawatib, dhuha, dan tahajud yang menenangkan jiwa di sepertiga malam. Juga Puasa sunnah, sebagai latihan jiwa dan tameng diri. Memperbanyak tilawah Al-Qur’an, merenungi maknanya, dan menjadikannya petunjuk hidup.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Maupun ibadah yang bernilai sosial kemasyarakatan, seperti: menunaikan zakat, infaq, dan sedekah, membantu sesama yang membutuhkan, menunjukkan solidaritas kemanusiaan, dan menebarkan perdamaian dan kebaikan di tengah masyarakat yang terkadang luka.

Tak lupa, mari kita tingkatkan nilai juang kita demi tegaknya syiar dan dakwah Islam. Baik dengan lisan yang lembut, tulisan yang mencerahkan di berbagai media, maupun perbuatan nyata (bil haal) yang menjadi teladan bagi sekitar.

Harapan

Bulan-bulan haram adalah anugerah waktu yang Allah berikan di tengah kesibukan dunia yang kadang melalaikan. Ia adalah jeda yang sakral. Ia adalah panggilan halus untuk kembali kepada-Nya, untuk saling memaafkan, untuk tidak saling menzalimi, untuk berdamai dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan alam semesta.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Semoga di bulan Dzulqa’dah yang mulia ini, kita dapat memaksimalkan ibadah, amal saleh, dan segala kebaikan.

Semoga Allah menerima setiap gerakan ibadah kita, mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan dengan hati yang rindu, dan mengampuni segala dosa yang pernah kita perbuat.

Semata-mata karena Allah. Aamiin, Ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lam. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Tausiyah
Tausiyah