Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ka’bah dan Hilangnya Sekat Sosial

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 13 Mei 2026 - 20:56 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:56 WIB

80 Views ㅤ

Ka'bah di Masjidil Haram (foto: dok MINA)

oleh Dr. Deni Rahman, S.Sos.I, M.I Kom, Petugas PPIH Arab Saudi 2026, bertugas di Sektor 2 Mekkah

Dihadapan Ka’bah, hilanglah identitas keduniawian manusia. Tidak ada lagi pejabat atau rakyat biasa, orang kaya dan yang hidup sederhana, akademisi, pedagang, petani, atau buruh. Semua bergerak dalam putaran thawaf yang sama, menghadap Rabb yang sama, dengan pakaian ihram yang sama.

Pemandangan itu terasa begitu kuat di pelataran Masjidil Haram. Jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul tanpa sekat ras, warna kulit, bahasa, ataupun status sosial.

Mereka datang membawa latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, tetapi kemudian larut dalam identitas yang sama sebagai hamba Allah. Momentum Haji menjadi ruang besar yang menghapus berbagai simbol kebanggaan dunia yang selama ini sering membatasi hubungan antar manusia.

Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”

Dalam suasana seperti itu, manusia sejatinya diajak kembali memahami asal-usul dan tujuan hidupnya. Bahwa seluruh manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Hal yang membedakan bukanlah simbol duniawi, tetapi kualitas ketakwaan di hadapan Allah SWT. Di titik inilah tersirat salah satu pesan terbesar ibadah haji, bahwa manusia pada hakikatnya setara di hadapan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Baca Juga: Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Perbedaan tentu tetap ada, tetapi tidak menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru keberagaman itu dipertemukan dalam satu ruang spiritual yang sama di sekitar Ka’bah.

Di banyak tempat di dunia, manusia terkadang dinilai berdasarkan atribut sosialnya. Jabatan, kekayaan, pendidikan, bahkan popularitas menjadi ukuran yang membentuk jarak sosial di tengah masyarakat.

Tidak sedikit manusia yang merasa lebih tinggi karena status tertentu, sementara yang lain merasa rendah diri karena keterbatasan yang dimilikinya. Namun di Tanah Suci, seluruh atribut itu perlahan hilang maknanya.

Pakaian ihram menjadi simbol dari hilangnya sekat sosial tersebut. Dua lembar kain putih sederhana yang dikenakan jamaah laki-laki seakan membawa arti tanggal-lah berbagai identitas duniawi yang selama ini melekat pada manusia.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Tidak ada pakaian kemewahan, tidak ada simbol kekuasaan, dan tidak ada tanda status sosial yang mencolok. Semua tampil dalam kesederhanaan yang sama.

Menariknya, haji tidak hanya menghapus sekat sosial secara simbolik, tetapi juga secara praktis dalam kehidupan sehari-hari jamaah. Semua harus antre bersama. Semua berjalan di jalur yang sama.

Semua merasakan panas yang sama. Manusia belajar bahwa kehidupan tidak mungkin dibangun di atas ego pribadi. Haji mendidik manusia untuk hidup bersama, menghormati orang lain, dan memahami bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari jutaan manusia lainnya.

Ketika manusia berdiri di hadapan Ka’bah, seluruh perbedaan sosial yang sering dibanggakan di dunia menjadi kecil dan tidak berarti. Di era modern hari ini sedang menghadapi krisis kesenjangan sosial yang semakin besar. Manusia mudah terpecah karena identitas, kelas sosial, afiliasi politik, bahkan perbedaan ekonomi.

Baca Juga: Bab Al-Mandab: Perebutan Selat Strategis yang Menentukan Harga Minyak Dunia

Tidak sedikit manusia yang membangun tembok sosial di antara sesamanya. Media sosial pun terkadang memperkuat sekat itu. Manusia berlomba menampilkan citra terbaik dirinya, memperlihatkan pencapaian, kekayaan, dan popularitas. Akibatnya, hubungan sosial kemudian berubah menjadi arena persaingan simbolik yang melelahkan.

Namun di hadapan Ka’bah, seluruh simbol itu runtuh. Tidak ada centang biru, tidak ada jabatan, tidak ada gelar yang membuat seseorang lebih dekat kepada Allah dibanding yang lain. Semua datang dengan kebutuhan yang sama yakni memohon ampunan dan rahmat Allah SWT.

Haji sejatinya merupakan pendidikan besar tentang kerendahan hati. Manusia diajak menyadari bahwa sehebat apa pun dirinya di dunia, ia tetap hanyalah seorang hamba di hadapan Allah.

Tidak sedikit jamaah yang merasakan pengalaman spiritual mendalam ketika melihat jutaan manusia thawaf bersama. Yang ada adalah rasa kecil di hadapan kebesaran Allah, sekaligus rasa persaudaraan yang begitu kuat dengan sesama Muslim dari seluruh penjuru dunia.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Ka’bah menjadi simbol persatuan umat manusia dalam penghambaan kepada Allah SWT. Ka’bah menjadi titik yang mempertemukan manusia tanpa memandang latar belakang sosial mereka.

Pelajaran seperti inilah yang seharusnya dibawa pulang oleh jamaah setelah berhaji. Bahwa kehidupan sosial seharusnya dibangun di atas nilai kesetaraan, penghormatan, dan kemanusiaan, bukan kesombongan sosial.

Haji mengajarkan bahwa manusia tidak akan menjadi mulia karena penampilan, kekayaan, atau status sosialnya. Kemuliaan sejati lahir dari ketakwaan, akhlak, dan kemampuannya menghormati sesama manusia.

Manusia baru benar-benar menemukan persaudaraan ketika ia mampu melepaskan sekat-sekat sosial yang selama ini membatasi.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

 

Wallahu a’lam bish showab []

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Indonesia
Indonesia