KHUTBAH JUMAT kali ini berkaitan dengan peringatan pembakaran Masjidil Aqsa tanggal 21 Agustus 1969 dan berdirinya Organisasi Kemanusiaan Aqsa Working Group (AWG) tanggal 21 Agustus 2008. Topik yang diangkat yaitu “Dari Mimbar Shalahuddin yang Hangus ke Barisan Berjamaah Bebaskan Al-Aqsa,” oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional dan Redaktur Senior MINA News. Berikut naskah selengkapnya.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jama’ah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Zat yang Maha Agung, Maha Pengasuh lagi Maha Penyayang. Zat yang telah memuliakan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dalam satu ayat yang abadi sepanjang masa, hingga mengikat keduanya dalam ikatan suci yang tak pernah putus.
Zat yang telah menjadikan kawasan Al-Aqsa sebagai saksi perjalanan agung hamba-Nya pada malam Isra Mi’raj yang penuh kemuliaan. Zat yang telah memberkahi sekeliling Masjidil Aqsa, menjadikannya tanah pilihan bagi para nabi dan rasul, dan mengalirkan keberkahan-Nya kepada seluruh alam semesta.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah
Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang sangat memperhatikan kondisi Al-Aqsa dan kawasan Baitul Maqdis dengan segenap jiwa dan raganya. Tercermin dalam hadits-hadits mulianya tentang negeri para nabi itu, bahwa ia adalah tanah yang disucikan dan diberkahi, tempat persinggahan Isra Mi’raj, dan poros kebangkitan umat Islam.
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah melupakan Al-Aqsa, bahkan dalam setiap ucapan dan langkahnya, beliau mengarahkan para sahabatnya dan umatnya untuk membebaskan Kawasan Baitul Maqdis dari belenggu kezaliman.
Dan semoga shalawat serta salam tercurah pula kepada keluarganya yang mulia, para sahabatnya yang setia, dan seluruh pengikutnya yang berjuang di jalan kebenaran hingga akhir zaman.
Jama’ah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah
Selanjutnya, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan sebenar-benar takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Takwa adalah benteng yang melindungi seorang hamba di dunia dan akhirat. Takwa adalah sumber kekuatan ketika menghadapi ujian dan cobaan yang menghimpit jiwa. Takwa adalah penolong di saat kesulitan dan kesempitan melanda. Takwa juga adalah cahaya yang menerangi langkah di tengah gelapnya fitnah dan kedzaliman yang merajalela.
Salah satu tanda takwa yang sejati adalah rasa peduli yang dalam terhadap penderitaan sesama manusia, terutama kaum Muslimin yang tertindas, yang rumahnya dihancurkan, anak-anaknya dibantai, dan tanahnya dirampas.
Kepedulian terhadap pembebasan Al-Aqsa dan Palestina yang terjajah bukanlah sekadar isu politik atau kemanusiaan biasa. Akan tetapi ia adalah tanda takwa yang nyata. Mengapa? Karena kepedulian ini adalah bentuk menjalankan perintah Allah, dan salah satu perintah-Nya yang paling agung adalah membebaskan manusia dari penindasan atas manusia lain.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Al-Aqsa bukanlah sekadar bangunan biasa dari batu dan kubah. Al-Aqsa adalah pusat sejarah kenabian, poros perjuangan umat, dan cermin kehormatan Islam. Allah sendiri telah memuliakannya dalam firman-Nya:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ [17]: 1).
Inilah pengakuan Ilahi bahwa Al-Aqsa adalah tempat yang diberkahi. Berkah secara fisik dengan tanahnya yang subur, letaknya yang strategis di antara tiga benua besar, Afrika, Asia dan Eropa, serta sungai-sungai dan aneka barang tambangnya. Berkah secara maknawi yakni sebagai tempat turunnya wahyu dan diutusnya para nabi. Di sana pulalah Nabi Muhammad Shallalalhu ‘Alaihi Wasallam singgah dan menjadi imam bagi seluruh nabi dalam peristiwa Isra Mi’raj yang agung. Menunjukkan kepempimpian umat Islam atas seluruh manusia yang berpusat di Al-Aqsa.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian
Allah juga menegaskan keberkahan ini dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 71:
وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 71).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa negeri yang diberkahi itu adalah negeri Syam, tempat di mana Masjidil Aqsa berdiri. Negeri Syam meliputi apa yang sekarang menjadi negara Palestina, Yordania, Suriah dan Lebanon.
Keberkahannya pun meliputi seluruh alam, bukan hanya untuk satu golongan, tetapi untuk semesta. Inilah tanah para nabi, tempat Nabi Ibrahim, Ishaq, Yaqub, Dawud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, dan Isa berdakwah dan mengabdi kepada Allah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Wilayah yang kini dijajah oleh Zionis Israel yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya, karena mereka tahu bahwa siapa yang memguasai negeri penuh berkah ini, Palestina, mereka akan menguasai hegemoni dunia.
Hadirin kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Mengingat Al-Aqsa begitu mulia di sisi Allah, maka sudah seharusnya kita pun memuliakannya, menjaganya dan membelanya. Dan Allah telah memberikan resep bagaimana umat Islam bisa kuat dan mulia, yaitu dengan Bersatu atau berjamaah. Allah menegaskan di dalam firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
Ayat ini adalah fondasi kehidupan berjamaah. Allah tidak mengatakan “berpeganglah pada tali-Ku” secara perorangan, sendiri-sendiri, melainkan “berpeganglah kamu semuanya secara berjama’ah”, secara kolektif, bersama-sama, dalam satu ikatan persaudaraan yang kokoh. Tali Allah ini adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dalam bingkai jama’ah muslimin yang terpimpin oleh seorang Imaam/Khalifah di muka bumi ini.
Hadirin,
Semangat persatuan ini juga ditegaskan oleh para sahabat. Ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu hendak membebaskan Baitul Maqdis, beliau singgah terlebih dahulu di Jabiyah (kawasan Syam), sebelum memasuki gerbang Kota Al-Quds, untuk bertemu dengan para panglima perangnya. Di sanalah beliau menyampaikan tausiyah yang terkenal, yang di dalamnya beliau berkata:
إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ ، وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ ، وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ
“Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah, dan tidak ada jamaah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.” (Riwayat Ad-Darimi).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Atsar ini, meskipun memiliki kelemahan sanad, maknanya diterima oleh para ulama sebagai prinsip penting dalam kehidupan berjama’ah. Khalifah Umar memahami bahwa pembebasan Baitul Maqdis tidak mungkin tercapai tanpa persatuan dan kepemimpinan yang jelas. Dan benar, dengan persatuan itulah Yerusalem akhirnya terbebas pada tahun 637 M.
Selanjutnya, hadirin yang dirahmati Allah
Dari ruh persatuan itu pulalah kemudian Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis. Panglima Shalahuddin mempersatukan negeri-negeri Kawasan sekitar Baitul Maqdis, sebelum akhirnya berhasil membebaskannya dari cengkeraman Salibis pada tahun 1187 M.
Kemudian, Panglima Shalahuddin meletakkan mimbar yang ikonik sebagai simbol kemenangan Islam, di pengimaman Masjidil Aqsa. Namun pada 21 Agustus 1969, seorang turis Australia bernama Dennis Michael Rohan, atas perlindungan Zionis Israel, masuk ke Masjid Al-Aqsa dan membakarnya. Api melalap lebih dari 1.500 meter persegi, menghanguskan Sebagian besar bangunan masjid, termasuk mimbar peninggalan Shalahuddin yang berusia 900 tahun.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Dan yang lebih menyakitkan, ketika api berkobar, pasukan pendudukan Israel memutus saluran air ke kompleks masjid dan mencegah pemadam kebakaran. Mereka membiarkan api menyala, seolah menguji sejauh mana kepedulian umat Islam terhadap Al-Aqsa.
Bersamaan waktu dengan kejadian itu, Perdana Menteri Israel saat itu, Golda Meir (kelahiran Kiev, Ukraina), terkaget sebentar, dan menampar mukanya sendiri.
Sejenak terhenyak ia berseru, “Ketika Al-Aqsa terbakar, saya tidak bisa tidur malam itu, dan saya pikir Israel akan dihancurkan. Namun ketika pagi tiba, saya menyadari bahwa orang-orang Arab sedang tidur nyenyak.”
Mantan Menteri Kehakiman dan Urusan Agama Israel Yossi Beilin, mengomentari apa yang pernah dikatakan Meir. Bahwa saat ini apa yang dilakukan Israel mengarah ke pembangunan Temple Mount. Menunjukan bahwa pembakaran Al-Aqsa saat itu memang skenario Zionis Israel.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Hadirin,
Mimbar Shalahuddin yang hangus itu bukan sekadar kayu yang terbakar. Ia adalah simbol kemenangan Islam yang dinodai. Ketika ia dibakar, yang terbakar adalah kehormatan umat Islam.
Namun saudaraku, Allah tidak membiarkan hamba-Nya berputus asa. Dari kobaran api itu, Allah menumbuhkan harapan baru.
Pertama, peristiwa pembakaran Al-Aqsa menjadi pemicu lahirnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada 22-25 September 1969 di Rabat, Maroko. KTT yang dihadiri 28 negara Islam ini melahirkan OKI yang kini beranggotakan 57 negara. Ini menjadi organisasi terbesar dunia setelah PBB.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Jadi, tujuan utama lahirnya OKI adalah memang untuk melindungi Masjidil Aqsa dan mendukung perjuangan rakyat Palestina.
Kedua, tepat 39 tahun kemudian setelah pembakaran Al-Aqsa, pada tanggal yang sama, 21 Agustus 2008, lahirlah Aqsa Working Group (AWG) dari Konferensi Internasional “Aksi Nyata Mengembalikan Masjid Al-Aqsa Ke Pangkuan Muslimin” di Jakarta. Pada konferesi tersebut melahirkan “Deklarasi Jakarta untuk Pembebasan Al-Aqsa”, yang isinya mengajak umat Islam untuk “bangkit dan berjama’ah menyatukan langkah dengan segenap dana, jiwa dan seluruh kekuatan untuk membebaskan Al-Aqsa.”
Nama Aqsa Working Group, kemudian ditashih, diperkuat dengan nama yang diberikan oleh para pemuda dari dalam Masjidil Aqsa dengan nama Majmu’ah li ‘Amalil Aqsa.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Begitulah, Masjidil Aqsa bukan milik satu golongan, satu negara, atau satu abad. Ia adalah milik seluruh umat Islam dari generasi ke generasi. Tanggung jawab untuk membelanya adalah tanggung jawab kita bersama.
Maka, ketika Al-Aqsa disakiti, seluruh umat Islam harus ikut merasakan sakitnya. Ketika Palestina dijajah, seluruh umat Islam harus ikut bergerak membebaskannya.
Apa yang Bisa Kita Lakukan? Ya, dengan selalu berdoa untuk saudara-saudara kita di Palestina. Bersuara, membuat narasi, menulis dan menyebarkan kebenaran tentang penjajahan yang terjadi. Berbagi harta untuk membantu rakyat Palestina yang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal.
Yang jelas, semangat pergerakan perjuangan Al-Aqsa dan Palestina itu masih terus menyala, selama api pendudukan masih berlangsung. Api perjuangan itu tidak akan padam selama masih ada kaum Muslimin yang memiliki kepedulian terhadap mereka.
Serta yang paling pokok adalah bersatu, berjama’ah, dalam satu barisan, meninggalkan perpecahan yang hanya menguntungkan musuh. Dengan bersatu kita dapat menggerakkan seluruh potensi yang kita miliki, karena jika kita semua bergerak, Insya Allah pembebasan Al-Aqsa itu akan datang. Karena rumus penjajahan adalah akan berakhir pada masanya, dan rumus perjuangan adalah akan menemui kemerdekaannya, pada waktunya, karena merdeka adalah takdirnya.
Marilah kita terus bergerak secara berjamaah untuk pembebasan Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina. []
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic