DI TENGAH hiruk-pikuk dunia akhir zaman, manusia semakin mudah berkumpul namun semakin sulit bersatu. Media sosial mempertemukan jutaan orang, tetapi hati justru saling berjauhan. Banyak yang mengaku cinta Islam, rajin ibadah, aktif berdakwah, namun enggan menetapi jama’ah. Padahal dalam Islam, keselamatan iman bukan hanya soal benar secara pribadi, melainkan benar dan bersama. Inilah realitas yang sering luput dari kesadaran umat: menetapi jama’ah adalah perintah langit, bukan sekadar pilihan bumi.
Islam tidak pernah mendidik umatnya menjadi individualis spiritual. Sejak awal, Islam hadir sebagai agama jama’ah. Shalat paling utama adalah shalat berjama’ah. Ibadah haji adalah puncak peribadatan kolektif. Bahkan dakwah Nabi SAW pun dibangun di atas pembinaan jama’ah, bukan tokoh tunggal. Namun ironisnya, di zaman ini, banyak yang merasa cukup dengan “aku dan Tuhanku”, seakan jama’ah adalah pelengkap, bukan kebutuhan iman.
Allah SWT dengan tegas memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan. Firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Perintah ini bersifat kolektif (جميعًا), bukan individual. Para mufassir menjelaskan bahwa hablullah adalah Al-Qur’an, Islam, dan jama’ah kaum muslimin. Artinya, berpegang pada agama Allah tidak sah jika dilakukan dengan cara memisahkan diri dari jama’ah kaum beriman.
Rasulullah SAW bahkan menjadikan jama’ah sebagai standar keselamatan umat. Dalam hadits yang sangat masyhur, beliau bersabda,
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah bersama jama’ah.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini singkat namun sangat dalam. Para ulama menjelaskan bahwa “tangan Allah” adalah simbol penjagaan, pertolongan, dan taufik. Maka siapa yang ingin dijaga imannya, ditolong urusannya, dan ditenangkan hatinya, jalannya adalah bersama jama’ah.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Lebih dari itu, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang memisahkan diri dari jama’ah. Dalam hadits shahih, beliau bersabda,
مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ
“Barang siapa memisahkan diri dari jama’ah walau sejengkal, maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Hadits ini tidak sedang berbicara tentang perbedaan pendapat biasa, tetapi tentang sikap mental dan pilihan hidup yang menjauh dari keterikatan jama’ah. Imam Al-Khaththabi menjelaskan bahwa maksudnya adalah keluar dari ketaatan dan kebersamaan kaum muslimin yang dipimpin dengan syariat.
Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa menetapi jama’ah hukumnya wajib, sesuai kadar kemampuan dan kondisi. Imam An-Nawawi رحمه الله menegaskan,
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
“Jama’ah yang dimaksud dalam hadits-hadits ini adalah kaum muslimin dan kesepakatan mereka, dan berpisah dari mereka adalah keharaman yang nyata.”
Ibnu Taimiyah رحمه الله bahkan menyatakan dengan sangat tegas:
“Enam puluh tahun bersama pemimpin yang zalim lebih baik daripada satu malam tanpa jama’ah dan kepemimpinan.”
Pernyataan ini menunjukkan betapa bahayanya hidup tanpa jama’ah. Sebab tanpa jama’ah, agama mudah dipahami secara serampangan, ego pribadi lebih dominan, dan hawa nafsu sering disangka sebagai kebenaran.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Realitas hari ini membuktikan kebenaran para ulama. Banyak orang pintar agama, fasih bicara dalil, rajin kajian, namun mudah meremehkan ukhuwah, gampang menyalahkan saudara seiman, dan enggan tunduk pada disiplin jama’ah. Padahal jama’ah bukan tempat orang yang sudah sempurna, melainkan tempat orang berproses menjadi benar.
Menetapi jama’ah bukan berarti mematikan akal atau menghilangkan kritik. Justru dalam jama’ah, perbedaan dikelola dengan adab, bukan emosi. Kesalahan diselesaikan dengan musyawarah, bukan pembelotan. Loyalitas dijaga, bukan demi manusia, tetapi demi agama Allah.
Rasulullah SAW menggambarkan bahaya hidup sendirian dalam agama dengan perumpamaan yang sangat indah:
إِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الْغَنَمِ الْقَاصِيَةَ
“Sesungguhnya serigala hanya akan memangsa kambing yang terpisah dari kawanannya.” (HR. Abu Dawud)
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Syaitan adalah serigala iman. Ia tidak mudah memangsa orang yang hidup dalam jama’ah, saling menasihati, dan saling menjaga. Namun ia sangat mudah menyesatkan orang yang merasa cukup sendiri, merasa paling lurus, dan alergi pada kebersamaan.
Imam Al-Barbahari رحمه الله berkata, “Jika engkau melihat seseorang meremehkan jama’ah, maka ketahuilah ia sedang mengikuti hawa nafsunya.”
Maka menetapi jama’ah sejatinya adalah bentuk kerendahan hati. Mengakui bahwa kita butuh nasihat, butuh saudara, dan butuh sistem yang menjaga iman. Jama’ah adalah pagar, bukan penjara. Jama’ah adalah perahu keselamatan, bukan beban perjalanan.
Di akhir zaman yang penuh fitnah, Rasulullah SAW telah memberikan resep keselamatan,
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ
“Maka wajib atas kalian untuk bersama jama’ah.” (HR. Ibnu Majah)
Perintah ini sederhana, namun berat untuk mereka yang terbiasa hidup tanpa komitmen. Menetapi jama’ah menuntut kesabaran, pengorbanan ego, dan kesiapan taat dalam kebaikan. Tetapi justru di situlah kematangan iman diuji.
Akhirnya, menetapi jama’ah bukan soal logo, bukan soal nama, bukan pula soal fanatisme kelompok. Ia adalah soal ketaatan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Selama jama’ah itu menegakkan shalat, menghidupkan sunnah, menjaga ukhuwah, dan berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah, maka menetap bersamanya adalah bagian dari menjaga iman.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang tidak hanya benar secara pribadi, tetapi juga istiqamah dalam kebersamaan. Sebab keselamatan di dunia dan akhirat tidak dijanjikan bagi yang berjalan sendiri, melainkan bagi mereka yang menetapi jama’ah hingga akhir hayat.[]
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic