Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Islam di Spanyol Mengalami Kemunduran? Pelajaran dari Runtuhnya Andalusia

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 22 Juli 2026 - 14:35 WIB

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:35 WIB

62 Views ㅤ

Istana Alhambra di kawasan benteng Granada, Spanyol. (Nbhawani)

SELAMA hampir delapan abad, Islam pernah menjadi kekuatan besar di Semenanjung Iberia. Dari tanah Andalusia lahir pusat ilmu pengetahuan dunia, seperti Cordova, Sevilla, Toledo, dan Granada.

Para ulama dan ilmuwan seperti Imam Al-Qurthubi, Ibnu Rusyd, Ibnu Hazm, serta banyak cendekiawan lainnya menjadi bukti bahwa Andalusia pernah menjadi mercusuar peradaban dunia.

Namun kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Kekuasaan Islam di Spanyol mengalami kemunduran hingga akhirnya berakhir pada tahun 1492 M dengan jatuhnya Granada, benteng terakhir Muslim di Andalusia.

Kemunduran tersebut bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan perpaduan antara faktor internal dan eksternal.

Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

Faktor Internal: Melemahnya Kekuatan dari Dalam

  1. Perpecahan Politik dan Hilangnya Persatuan

Faktor terbesar kemunduran Andalusia adalah perpecahan politik. Pada masa kejayaan, Andalusia berada di bawah pemerintahan kuat seperti Kekhalifahan Umayyah Cordova. Namun setelah runtuh pada awal abad ke-11, wilayah tersebut terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang disebut Muluk ath-Thawaif.

Setiap kerajaan kecil lebih sibuk mempertahankan kekuasaan masing-masing daripada membangun kekuatan bersama. Akibatnya, musuh dari luar lebih mudah masuk karena umat Islam tidak lagi memiliki satu kekuatan politik yang solid.

  1. Krisis Kepemimpinan

Pada masa awal, Andalusia dipimpin oleh tokoh-tokoh visioner seperti Abdurrahman Ad-Dakhil dan Abdurrahman An-Nashir yang membangun pemerintahan kuat. Namun pada masa berikutnya, muncul pemimpin yang kurang mampu menjaga stabilitas politik.

Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

Sebagian elite lebih sibuk dengan perebutan kekuasaan, konflik istana, dan kepentingan kelompok daripada memperkuat masyarakat. Ketika kepemimpinan melemah, pertahanan pun ikut rapuh.

  1. Konflik Internal dan Fanatisme Kelompok

Masyarakat Andalusia terdiri dari berbagai unsur: Arab, Berber, penduduk lokal Hispania, serta kelompok lainnya.

Pada masa kejayaan, keberagaman ini menjadi kekuatan. Namun ketika kepentingan kelompok lebih dominan daripada persatuan, konflik internal mulai menguras energi umat.

Perbedaan suku, politik, dan kepentingan elite sering menjadi penyebab melemahnya solidaritas.

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

  1. Menurunnya Semangat Ilmu dan Inovasi

Salah satu rahasia kejayaan Andalusia adalah tradisi ilmu. Cordova pernah memiliki perpustakaan besar dan menjadi pusat kajian dunia. Ilmu kedokteran, astronomi, filsafat, matematika, dan tafsir berkembang pesat.

Namun ketika perhatian terhadap ilmu melemah dan sebagian masyarakat lebih terlena dengan kemewahan, kreativitas peradaban ikut menurun.

Sebuah peradaban tidak dapat bertahan hanya dengan kebanggaan terhadap masa lalu, tetapi harus terus melahirkan ilmu dan generasi unggul.

  1. Lemahnya Ekonomi dan Pertahanan

Perpecahan politik menyebabkan sumber daya ekonomi dan militer tidak lagi terkelola secara efektif.

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

Kerajaan-kerajaan kecil Andalusia sering harus membayar upeti kepada kerajaan Kristen di utara demi mempertahankan wilayahnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini melemahkan kemandirian politik dan pertahanan.

Faktor Eksternal: Tekanan dari Luar

  1. Menguatnya Kerajaan-Kerajaan Kristen Eropa

Di sisi lain, kerajaan-kerajaan Kristen di utara Spanyol semakin kuat. Gerakan yang dikenal sebagai Reconquista berlangsung berabad-abad, yaitu upaya kerajaan-kerajaan Kristen untuk merebut kembali wilayah Iberia.

Kerajaan seperti Castilla, Aragon, dan León secara bertahap memperluas wilayahnya.

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

  1. Bersatunya Kekuatan Castilla dan Aragon

Momentum penting terjadi ketika Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella I dari Castilla menikah pada tahun 1469.

Persatuan dua kerajaan besar ini melahirkan kekuatan politik dan militer yang jauh lebih besar.

Mereka kemudian memusatkan perhatian untuk menaklukkan Granada, wilayah Islam terakhir di Spanyol.

  1. Perubahan Politik dan Teknologi Perang

Kerajaan Kristen Eropa mengalami perkembangan dalam organisasi militer, ekonomi, dan teknologi persenjataan.

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

Sementara itu, kerajaan-kerajaan Muslim yang terpecah menghadapi kesulitan mempertahankan wilayahnya.

Jatuhnya Granada, Akhir Sebuah Era

Pada tahun 1492 M, Granada akhirnya menyerah kepada Ferdinand dan Isabella.

Sultan Muhammad XII (Boabdil), penguasa terakhir Granada, menyerahkan kunci kota tersebut. Dengan peristiwa itu, berakhirlah kekuasaan Islam secara politik di Spanyol setelah hampir delapan abad.

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Namun, warisan Islam tidak pernah benar-benar hilang. Bahasa Arab masih memengaruhi bahasa Spanyol, arsitektur Islam tetap berdiri melalui Alhambra, Masjid Cordova, dan berbagai peninggalan lainnya. Karya para ulama Andalusia juga terus dipelajari hingga hari ini.

Pelajaran Besar dari Andalusia

Runtuhnya Andalusia memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia:

Pertama, persatuan adalah fondasi kekuatan. Perpecahan internal sering menjadi awal melemahnya sebuah bangsa.

Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa

Kedua, ilmu adalah sumber kejayaan. Bangsa yang meninggalkan ilmu akan kehilangan daya saing.

Ketiga, kejayaan harus dijaga dengan akhlak dan tanggung jawab. Kemajuan materi tanpa keteguhan nilai dapat membawa kehancuran.

Andalusia mengajarkan bahwa sebuah peradaban tidak runtuh hanya karena serangan musuh dari luar, tetapi sering kali dimulai dari melemahnya kekuatan dari dalam.

Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk menjadi cermin agar generasi hari ini mampu membangun masa depan yang lebih baik. []

Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat
MINA Edu
MINA Edu
MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia