Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Kita Berat Menerima Nasehat?

Bahron Ansori Editor : Sri Astuti - Kamis, 14 Mei 2026 - 16:04 WIB

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:04 WIB

55 Views ㅤ

BANYAK orang kuat menghadapi kerja keras, kuat begadang, kuat menghadapi masalah hidup. Tapi ketika dinasehati, hatinya langsung panas.(Foto: ig)
BANYAK orang kuat menghadapi kerja keras, kuat begadang, kuat menghadapi masalah hidup. Tapi ketika dinasehati, hatinya langsung panas. Padahal nasehat itu bukan pukulan. Nasehat adalah bentuk kepedulian. Namun ego sering membuat kita merasa sedang diserang, bukan disayang.

Kadang kita menolak nasehat bukan karena isinya salah, tapi karena yang menyampaikan tidak kita sukai. Padahal kebenaran tidak berubah hanya karena keluar dari mulut siapa. Air tetap menyegarkan walau diberikan oleh orang yang tidak kita kenal. Begitu juga nasehat, selama sesuai syariat maka ia layak didengar.

Ada juga yang sulit menerima nasehat karena merasa dirinya sudah banyak ilmu. Merasa sudah paham agama, sudah lama ngaji, sudah senior. Akhirnya hati menjadi keras tanpa sadar. Padahal semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya. Ulama salaf justru paling takut dengan kesombongan hati meskipun mereka memiliki ilmu yang sangat luas.

Sebagian orang takut dinasehati karena tidak mau merasa bersalah. Mereka lebih nyaman mencari pembenaran daripada perubahan. Padahal rasa bersalah itu sehat jika membawa kita kembali kepada Allah dan memperbaiki diri. Orang yang masih bisa merasa bersalah berarti hatinya belum mati.

Hati yang terlalu cinta pujian biasanya alergi terhadap nasehat. Maunya didengar, dipuji, dihormati, tapi tidak mau dikoreksi. Akhirnya hidup berjalan tanpa evaluasi. Dan orang yang tidak mau dievaluasi pelan-pelan akan jatuh oleh kesalahannya sendiri.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Kadang nasehat terasa berat karena kita tahu itu benar. Justru kebenaran sering paling menusuk. Kalau hati masih hidup, ia akan gelisah ketika diingatkan. Masalahnya, banyak orang lebih memilih mematikan rasa gelisah itu daripada memperbaiki dirinya.

Di zaman media sosial, manusia makin mudah tersinggung. Sedikit dikritik langsung marah, unfollow, blokir, menjauh. Padahal para ulama terdahulu justru senang punya sahabat yang berani menunjukkan kesalahan mereka. Karena mereka tahu, yang selalu memuji belum tentu peduli.

Nasehat sebenarnya hadiah. Tidak semua orang mau meluangkan waktu untuk mengingatkan kita. Banyak orang memilih diam walau melihat kita salah. Maka ketika ada yang menasehati dengan tulus, jangan buru-buru melawan. Bisa jadi itu cara Allah menyelamatkan kita.

Belajarlah membedakan antara harga diri dan gengsi. Harga diri itu baik. Tapi gengsi sering membuat kita sulit berkata, “Iya, saya salah.” Padahal satu kalimat itu bisa menyelamatkan masa depan, hubungan, bahkan agama seseorang.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Kalau hari ini hati kita masih berat menerima nasehat, jangan putus asa. Hati bisa dilatih. Mulailah dengan lebih banyak introspeksi, kurangi merasa paling benar, dan biasakan mendengar sampai selesai sebelum membela diri. Orang bijak tidak sibuk menang debat, tapi sibuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya, manusia yang terus mau menerima nasehat akan terus bertumbuh. Sedangkan orang yang menolak semua masukan akan berhenti berkembang walau usianya bertambah. Hati yang lembut bukan tanda kelemahan. Justru itulah kekuatan yang membuat seseorang dekat dengan hidayah dan mudah berubah menjadi lebih baik.

Dalam Islam, nasehat memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Nabi ﷺ bahkan bersabda, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” Hadis ini menunjukkan bahwa agama tidak akan tegak tanpa saling mengingatkan dalam kebenaran.

Allah juga mengingatkan dalam Al-Qur’an agar manusia tidak sombong ketika diberi peringatan. Tentang orang yang keras kepala, Allah berfirman bahwa ketika dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” justru kesombongannya mendorongnya berbuat dosa lebih banyak. Betapa banyak manusia hari ini seperti itu. Semakin dinasehati, semakin marah. Semakin diingatkan, semakin menjauh dari kebenaran.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Salah satu penyebab berat menerima nasehat adalah karena dosa yang terus dilakukan tanpa taubat. Maksiat yang dianggap kecil lama-lama menghitamkan hati. Awalnya hati terasa tidak nyaman saat berbuat dosa, tapi setelah sering diulang, dosa menjadi biasa. Akhirnya ketika ada nasehat, hati tidak lagi tersentuh. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa dosa-dosa akan menutupi hati hingga menjadi gelap jika manusia terus melakukannya tanpa taubat.

Karena itu, orang yang cerdas bukanlah orang yang selalu terlihat benar di depan manusia. Orang cerdas adalah yang mau mengoreksi dirinya sebelum dikoreksi Allah dengan cara yang lebih keras. Kadang Allah menegur manusia lewat kegagalan, kehilangan, konflik, bahkan kegelisahan hidup. Dan sering kali semua itu bermula karena hati terlalu keras menerima nasehat.

Lihatlah bagaimana para sahabat Nabi رضي الله عنهم memiliki hati yang lembut. Ketika diingatkan ayat Al-Qur’an, mereka menangis. Ketika dinasehati, mereka tidak sibuk mencari alasan. Mereka sadar bahwa keselamatan hidup bukan dengan mempertahankan ego, tapi dengan tunduk kepada kebenaran walaupun pahit.

Menerima nasehat juga tanda tawadhu’. Dan tawadhu’ adalah akhlak mulia yang sangat dicintai Allah. Sebaliknya, kesombongan sekecil apa pun sangat berbahaya. Nabi ﷺ bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi. Kadang kesombongan itu bukan dalam bentuk harta atau jabatan, tapi merasa diri paling benar sehingga tidak mau dinasehati siapa pun.

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Mulai hari ini, biasakan berdoa agar Allah melembutkan hati kita. Jangan sampai kita rajin ibadah tapi keras menerima kebenaran. Jangan sampai kita pandai berbicara agama tapi sulit dinasehati. Karena hati yang lembut lebih mudah mendapatkan hidayah. Dan orang yang mau menerima nasehat dengan ikhlas, insyaAllah akan terus diperbaiki hidupnya oleh Allah sedikit demi sedikit sampai kembali kepada-Nya dalam keadaan hati yang selamat.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Hikmah
Tausiyah
MINA Edu
Tausiyah
Artikel