Oleh Nia Kurniati Nurlaila
Di dunia yang penuh hiruk-pikuk ini, manusia sering kali menyembunyikan luka di balik senyuman. Ada hati yang tampak kuat, tetapi diam-diam memikul beban yang sangat berat. Ujian datang silih berganti kepada setiap hamba yang menanti ridha sang Ilahi. Tidak ada satu makhluk pun yang tahu luka masih sangat basah, tetapi terlihat kering di luar. Ada jiwa yang terlihat tenang, tetapi sebenarnya sedang mencari tempat untuk pulang, mencari rasa aman sekedar bersandar mengadukan luka yang begitu dalam terpendam hanya kepada keheningan malam sang Ilahi. Namun sering kali, tempat pulang itu ditemukan ketika seseorang membuka menemukan kata demi kata yang terangkai di dalam lembar demi lembar Al-Qur’an.
Tidak sedikit orang yang bertanya, “Mengapa seseorang sangat mudah menangis saat membaca Al-Qur’an?” Bahkan ada yang merasa tak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa sebab yang jelas ketika ayat-ayat Allah dibacakan. Padahal sebelumnya ia mampu menahan tangis di hadapan manusia, di khalayak umum ataupun dalam berbagai situasi kehidupan dunia.
Baca Juga: Ini Alasan Mojtaba Khamenei Tak Hadiri Upacaya Penghormatan Terakhir Sang Ayah
Sesungguhnya, tangisan ketika membaca Al-Qur’an bukanlah tanda kelemahan ataupun kesombongan. Justru ia adalah tanda bahwa hati masih hidup.
Al-Qur’an menyentuh hati orang-orang yang beriman
Al-Qur’an bukan sekadar rangkaian huruf dan kata. Ia adalah kalam Allah yang diturunkan sebagai petunjuk, penawar, dan cahaya bagi manusia.
Allah berfirman:
Baca Juga: Ustadz Hidayaturrahman: Lima Langkah Mentadaburi Al-Qur’an Dengan Metode Tathbiqi
اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِۗ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang; gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah….” (QS. Az-Zumar: 23)
Ayat ini menggambarkan bagaimana Al-Qur’an menyentuh manusia bukan hanya melalui akal, tetapi juga melalui hati. Ketika seorang hamba membuka lembar demi lembar ayat tentang rahmat Allah, ia teringat betapa banyak nikmat yang telah diterimanya. Ketika membaca ayat tentang dosa dan pengampunan, ia teringat kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Ketika membaca kisah para nabi, ia menemukan cermin bagi perjalanan kehidupan. Di situlah air mata sering kali menemukan cara dan jalannya.
Tangisan karena merasakan kedekatan dengan Allah
Ada kalanya seseorang menangis bukan karena sedih, melainkan karena merasa selama ini Allah Maha Baik, merasa pertolongan Allah sesungguhnya sangat dekat, dan kedekatan yang luar biasa dengan Allah.
Baca Juga: Islam Memuliakan Kaum Perempuan, Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur
Hatinya merasa seolah sedang diajak berbicara langsung oleh Rabb semesta alam. Setiap ayat terasa menjawab beban yang selama ini ia pikul, setiap ayat menjawab kegundahan dan kegelisahan yang selama ini tidak mampu diungkapkan kepada siapa pun, hanya air mata yang keluar menetes tanpa sepatah kata. Di tengah kesibukan dunia, manusia sering merasa sendirian. Namun ketika membaca Al-Qur’an, ia menemukan bahwa Allah mengetahui seluruh isi hatinya, bahkan sebelum ia mengucapkannya. Perasaan inilah yang terkadang membuat dada sesak oleh haru dan mata dipenuhi air mata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu (Muahamad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku deket. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa Kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah: 186)
Tangisan karena kesadaran akan dosa
Baca Juga: Ketika Umat Islam Diberi Anugerah Kekuasaan Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur
Salah satu sebab paling umum seseorang menangis saat membaca Al-Qur’an adalah karena ia teringat akan dosa-dosanya. Ayat-ayat Allah bagaikan cermin yang menunjukkan keadaan diri yang sebenarnya. Kesombongan yang selama ini tersembunyi, kelalaian yang selama ini Allah tutupi, ucapan yang menyakiti hati, hingga waktu yang terbuang tak terkendali, semua tiba-tiba hadir dalam ingatan.
Namun, tangisan seperti ini bukanlah sesuatu yang buruk. Justru Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa air mata yang keluar karena takut kepada Allah memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللهِ
“Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Baca Juga: Shalat Tahajud Penyebab Kemenangan dalam Jihad Melawan Musuh
Tangisan takut kepada Pencipta adalah tanda bahwa hati masih mampu merasakan penyesalan dan masih ingin kembali kepada Allah.
Tangisan karena hati yang lembut
Tidak semua orang diberi kemampuan untuk mudah tersentuh oleh kebenaran. Ada hati yang begitu keras sehingga ayat-ayat Allah berlalu tanpa meninggalkan bekas atau goresan. Sebaliknya, ada hati yang lembut yang ketika satu ayat saja mampu membuatnya menangis, bersyukur betapa Allah Maha Baiknya memberikan segala nikmat, luka maupun ujian yang selama ini ai mampu bejalan di kehidupannya.
Allah menggambarkan keadaan orang-orang beriman:
Baca Juga: Urgensi Tulisan, Alat Tulis dan Penulis dalam Peradaban, Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur
وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا
“Dan mereka menyungkur wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isra’: 109)
Tangisan ini lahir dari keimanan yang meresap ke dalam hati. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran-Nya. Tangisan karena Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang asing bagi seorang yang beriman. Semakin dalam seorang mengenal Tuhannya, semakin mudah hatinya bergetar. Bahkan para sahabt Nabi SAW dikenal sebagai orang-orang yang mudah menangis ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an.
Ketika air mata menjadi bahasa jiwa
Ada perasaan yang tidak mampu diterjemahkan oleh kata-kata. Ada luka yang tidak bisa dijelaskan kepada manusia. Ada kerinduan yang tidak dapat ditulis dalam kalimat. Ketika seseorang membaca Al-Qur’an, seluruh perasaan itu terkadang meleleh menjadi air mata. Mungkin berisi penyesalan, mungkin berisi harapan atau mungkin hanya ungkapan kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya. Allah yang menciptakan hati manusia tentu mengetahui seluruh isi tangisan tersebut, bahkan ketika bibir tidak mengucapkan satu kata pun.
Baca Juga: Meneladani Kepribadian Rasulullah dengan Mengikuti Sunnahnya, Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur
Mulai saat ini, jika suatu hari air mata jatuh saat membaca Al-Qur’an, jangan merasa aneh, jangan pula merasa malu. Karena bisa jadi itu adalah tanda bahwa hati sedang disentuh oleh rahmat Allah. Bisa jadi itu adalah panggilan lembut agar Anda lebih dekat kepada-Nya. Dan bisa jadi, di antara tetesan air mata itu adalah Allah sedang menenangkan hati dari beban-beban yang selama ini tidak terlihat oleh siapa pun.
Karena sesungguhnya, bukan semua mata yang mampu menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Namun, hati yang hidup akan selalu bergetar ketika mendengar firman-Nya. Sebab terkadang, satu ayat yang dibaca dengan penuh keikhlasan mampu mengubah arah hidup seseorang untuk selamanya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic