Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Ramadhan ke Syawal, Ini 10 Amal Ibadah yang Disunnahkan

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 22 Maret 2026 - 15:19 WIB

Ahad, 22 Maret 2026 - 15:19 WIB

26 Views ㅤ

Suasana Idul Fitri dan silaturahmi (foto: MINA)

MEMASUKI bulan Syawal, umat Islam tidak hanya merayakan kemenangan setelah Ramadhan, tetapi juga dianjurkan melanjutkan berbagai amalan sunnah sebagai bentuk menjaga keimanan dan ketakwaan.

Momentum ini menjadi penting, karena keberhasilan Ramadhan sejatinya diukur dari konsistensi ibadah setelahnya. Syawal hadir sebagai ladang amal yang memperkuat nilai-nilai spiritual yang telah dibangun selama sebulan penuh.

Para ulama menegaskan, amalan yang terus berlanjut setelah Ramadan menjadi tanda diterimanya ibadah. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam juga mengajarkan berbagai ibadah sunnah di bulan Syawal yang dapat diamalkan umat Islam.

Berikut 10 ibadah yang disunnahkan di bulan Syawal:

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

1. Puasa Enam Hari Syawal
Puasa ini merupakan amalan yang sangat dianjurkan setelah Idul Fitri. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim).

Puasa ini dapat dilakukan secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal. Keutamaannya menunjukkan kesinambungan ibadah dan kecintaan kepada Allah SWT.

Selain pahala besar, puasa ini juga menjadi bentuk syukur atas keberhasilan menunaikan ibadah Ramadan.

2. Puasa Senin dan Kamis
Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam rutin berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Beliau bersabda, yang artinya: “Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Tirmidzi).

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Melanjutkan puasa sunnah ini di bulan Syawal membantu menjaga kedekatan spiritual dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selain itu, puasa ini juga melatih disiplin dan pengendalian diri sebagaimana di bulan Ramadan.

3. Menjaga Silaturahmi
Syawal identik dengan tradisi saling berkunjung dan bermaafan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi.” (QS. An-Nisa: 1).

Silaturahmi menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah dan menghapus dosa.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Hubungan yang baik antar sesama menjadi kunci terciptanya masyarakat yang harmonis.

4. Memperbanyak Sedekah
Sedekah tidak hanya dilakukan di Ramadan, tetapi juga dianjurkan terus di bulan Syawal. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda, yang artinya “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Dengan bersedekah, seseorang dapat membantu sesama sekaligus membersihkan harta.

Amalan ini juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

5. Menjaga Salat Wajib Berjamaah
Salat wajib tetap menjadi prioritas utama setelah Ramadan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 43).

Menjaga salat berjamaah di masjid menjadi tanda kuatnya keimanan.

Konsistensi ini mencerminkan keberhasilan pendidikan spiritual selama Ramadhan.

6. Memperbanyak Salat Sunnah
Salat sunnah seperti dhuha dan tahajud dianjurkan untuk terus dilakukan. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim).

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Amalan ini mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menambah pahala.

Salat sunnah juga menjadi penutup kekurangan dalam salat wajib.

7. Berdzikir dan Berdoa
Dzikir merupakan amalan ringan namun bernilai besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152).

Dengan berdzikir, hati menjadi tenang dan tenteram.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Doa yang terus dipanjatkan juga menjadi bukti ketergantungan hamba kepada Tuhannya.

8. Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an tidak hanya di Ramadhan, tetapi sepanjang waktu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4).

Melanjutkan tilawah di bulan Syawal membantu menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an.

Al-Qur’an menjadi petunjuk hidup bagi umat Islam dalam setiap aspek kehidupan.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

9. Menyegerakan Qadha Puasa
Bagi yang memiliki utang puasa Ramadhan, dianjurkan segera menggantinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Menyegerakan qadha menunjukkan kesungguhan dalam beribadah.

Hal ini juga menjadi bentuk tanggung jawab seorang Muslim terhadap kewajiban yang belum tertunaikan.

10. Menjaga Akhlak Mulia
Akhlak adalah inti dari ajaran Islam. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Menjaga sikap sabar, jujur, dan rendah hati harus terus dilakukan setelah Ramadhan.

Akhlak yang baik menjadi cerminan keimanan dan kunci keberhasilan hidup di dunia dan akhirat.

Dengan menjalankan amalan-amalan tersebut, bulan Syawal dapat menjadi awal perjalanan istiqamah dalam beribadah, bukan sekadar penutup dari Ramadhan. Umat Islam diharapkan mampu menjaga semangat kebaikan sepanjang tahun.

Dengan menjalankan amalan-amalan tersebut, bulan Syawal dapat menjadi awal perjalanan istiqamah dalam beribadah, bukan sekadar penutup dari Ramadhan. Umat Islam diharapkan mampu menjaga semangat kebaikan sepanjang tahun.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Ramadhan mungkin telah berlalu, namun nilai-nilai yang ditanamkan di dalamnya tidak seharusnya ikut pergi. Justru di bulan Syawal inilah seorang Muslim diuji, apakah ia hanya rajin beribadah karena suasana, atau karena kesadaran dan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keistiqamahan, meski dalam amalan yang sederhana, adalah tanda hati yang hidup dan iman yang terjaga.

Perjalanan menuju ketakwaan adalah proses panjang yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Tidak semua orang mampu mempertahankan ritme ibadah seperti di bulan Ramadhan, namun yang terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah mereka yang terus berusaha, meski perlahan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, walaupun sedikit.

Karena itu, mari jadikan Syawal sebagai titik awal, bukan garis akhir. Awal untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperluas manfaat bagi sesama. Dengan semangat yang terus menyala, seorang Muslim akan mampu melangkah lebih dekat menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, hingga kelak dipertemukan kembali dengan Ramadhan dalam keadaan yang lebih baik. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Rekomendasi untuk Anda