oleh Dr. Deni Rahman, S.Sos, I, M.I Kom, petugas PPIH Arab Saudi 2026, bertugas di sektor 2 Mekkah
JIKA dicermati, Ibadah haji dari masa ke masa terus mengalami perubahan. Konon dahulu, haji identik dengan perjalanan panjang yang penuh keterbatasan dan pengorbanan. Kini haji hadir dalam wajah yang jauh lebih modern, nyaman, dan terorganisir.
Transportasi semakin mudah, hotel-hotel berdiri megah di sekitar Tanah Suci, makanan tersedia dengan sistem katering, pendingin ruangan tersedia hampir di setiap pemondokan, bahkan komunikasi dengan keluarga di tanah air dapat dilakukan kapan saja melalui telepon genggam.
Namun di tengah berbagai kemudahan itu, muncul satu fenomena yang menarik sekaligus mengundang refleksi, mengapa sebagian jamaah haji modern justru lebih banyak mengeluhkan fasilitas dibanding substansi ibadahnya?
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Fenomena ini tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh jamaah. Masih sangat banyak jamaah yang tulus, sabar, dan fokus pada ibadah. Namun dalam berbagai situasi, tidak dapat dipungkiri bahwa keluhan jamaah hari ini sering kali lebih berkaitan dengan persoalan fasilitas, seperti jarak hotel, menu makanan, kualitas pendingin ruangan, sinyal internet, kenyamanan kasur, atau lamanya antrean bus.
Padahal jika dibandingkan dengan jamaah haji pada masa lalu, kondisi hari ini sesungguhnya jauh lebih nyaman. Generasi jamaah dahulu berangkat haji dengan perjuangan yang sangat berat.
Banyak jamaah Indonesia harus menempuh perjalanan laut selama berbulan-bulan. Mereka membawa sendiri beras, alat masak, tikar, kasur sederhana, bahkan perlengkapan hidup untuk jangka waktu panjang. Tidak ada hotel mewah, pendingin ruangan, katering teratur, ataupun fasilitas komunikasi modern.
Namun yang sering mereka khawatirkan bukan soal kenyamanan fasilitas, melainkan bagaimana ibadah mereka dapat terlaksana dengan baik. Mereka lebih takut tidak bisa wukuf, khawatir thawafnya tidak sempurna, atau takut tidak mampu menyelesaikan manasik dengan benar.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Haji pada masa itu benar-benar dipandang sebagai perjalanan spiritual dan pengorbanan besar. Bahkan banyak orang dahulu berpamitan kepada keluarga seolah tidak akan kembali lagi, karena perjalanan haji penuh risiko dan ketidakpastian.
Sementara hari ini, ketika fasilitas haji berkembang sangat pesat, orientasi sebagian jamaah tampak mulai bergeser. Haji modern dalam beberapa situasi tidak lagi dipandang semata sebagai perjalanan ibadah, melainkan pengalaman layanan yang diharapkan serba nyaman.
Tentu keinginan mendapatkan pelayanan yang baik bukan sesuatu yang salah. Jamaah memang memiliki hak memperoleh pelayanan yang layak, apalagi penyelenggaraan haji modern melibatkan biaya besar dan sistem pelayanan profesional.
Saran positf terhadap pelayanan juga penting sebagai bagian dari evaluasi. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika perhatian terhadap fasilitas mulai mengalahkan perhatian terhadap ruh ibadah itu sendiri.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Kadang-kadang seseorang begitu mudah kecewa karena makanan tidak sesuai selera, tetapi tidak terlalu gelisah ketika shalatnya mulai kurang khusyuk. Ada yang sangat sensitif terhadap pendingin ruangan yang kurang dingin, tetapi kurang peduli terhadap lisannya yang mudah marah dan mengeluh selama berhaji.
Fenomena ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Hal ini berkaitan erat dengan perubahan budaya manusia modern yang semakin terbiasa hidup dalam kenyamanan dan budaya instan. Hari ini manusia hidup di zaman ketika hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi dengan cepat. Akibatnya, daya tahan terhadap ketidaknyamanan perlahan menurun.
Padahal haji sejak awal merupakan ibadah yang mengandung unsur mujahadah, yaitu perjuangan dan pengorbanan diri. Dalam haji, manusia memang diajak keluar dari zona nyaman, menghadapi panas, berjalan jauh, antre, hidup bersama jutaan orang, dan belajar sabar dalam berbagai situasi.
Karena itu, ketidaknyamanan tertentu dalam haji sesungguhnya bukan sekadar masalah teknis, tetapi bagian dari pendidikan spiritual. Allah SWT berfirman:
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Maka tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam haji.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Salah satu inti haji adalah kemampuan mengendalikan diri. Artinya, ukuran keberhasilan haji bukan hanya seberapa nyaman fasilitas yang diperoleh, tetapi bagaimana seseorang menjaga kesabaran dan akhlaknya selama menjalani ibadah.
Di sisi lain, perkembangan media sosial juga ikut mempengaruhi cara sebagian jamaah memandang haji. Pengalaman haji sering dibandingkan secara visual, hotel siapa yang lebih dekat, makanan siapa yang lebih baik, fasilitas siapa yang lebih nyaman.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Akibatnya, orientasi spiritual perlahan dapat bergeser menjadi orientasi pengalaman dan kenyamanan. Padahal hakikat haji bukanlah soal kemewahan fasilitas, melainkan bagiamana ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW sendiri menjalankan haji dengan penuh kesederhanaan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau berhaji dengan kendaraan sederhana dan tidak menunjukkan kemewahan dalam perjalanan hajinya. Bahkan dalam beberapa praktek hajinya dilakukan dengan berjalan kaki.
Fenomena banyaknya keluhan terhadap fasilitas harus menjadi bahan refleksi bersama. Jangan sampai modernisasi pelayanan haji justru membuat manusia kehilangan semangat kesederhanaan dan pengorbanan yang dahulu sangat kuat dalam perjalanan haji.
Bukan berarti jamaah harus menerima semua kekurangan tanpa perbaikan. Tetapi perbaikan terhadap fasilitas seharusnya tetap ditempatkan secara proporsional dan tidak menghilangkan fokus utama ibadah. Sebab yang akan dinilai Allah adalah seberapa tulus hati dan seberapa baik akhlaknya selama berhaji.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Barangkali inilah salah satu tantangan besar ibadah haji modern, bagaimana menikmati kemudahan fasilitas tanpa kehilangan ruh penghambaan. Sebab boleh jadi, semakin modern fasilitas haji, semakin besar pula tantangan manusia untuk menjaga keikhlasan, kesabaran, dan fokus terhadap substansi ibadah.
Semoga para hujjaj diberikan kekuatan menjaga keikhlasan. Amiin.
Wallahu a’lam bish showab []
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
















Mina Indonesia
Mina Arabic