UPAYA para donatur untuk mengirim bantuan ke Jalur Gaza menghadapi hambatan keuangan yang semakin meningkat. Bahkan donasi kecil yang dikirim langsung ke keluarga Palestina sering diblokir oleh bank dan perusahaan pembayaran, dengan dalih bahwa dana tersebut dapat sampai ke pejuang Palestina.
Media Haaretz mengungkapkan bahwa pada awal perang di Gaza, wilayah yang diblokade tersebut secara efektif ditetapkan sebagai “wilayah musuh” oleh sistem perbankan Israel dan sebagian jaringan keuangan internasional. Transfer langsung antara rekening bank Israel dan Gaza menjadi tidak mungkin.
Beberapa donatur kemudian mencoba jalan pintas melalui bank-bank Tepi Barat, mengirimkan sejumlah kecil uang melalui kontak tepercaya.
Namun, penerima sering menghadapi biaya hingga 50% untuk mengakses dana karena runtuhnya sistem perbankan Gaza dan kekurangan uang tunai yang parah.
Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang
Doatur beralih ke mata uang kripto
Donatur Israel di luar wilayah pendudukan telah mencari jalur alternatif.
Adva Barkai-Ronayne, seorang dokter hewan Israel yang tinggal di Kanada, mendirikan sebuah organisasi nirlaba untuk mengumpulkan donasi dan menyalurkannya kepada keluarga-keluarga di Gaza. Meskipun dilakukan pelacakan dan transparansi yang cermat, bank-bank Kanada memberlakukan persyaratan ketat, termasuk alamat lengkap bagi penerima yang terpaksa tinggal di tenda.
Haaretz mencatat bahwa bahkan ketika dana melewati rekening asing, hambatan tetap ada, termasuk rekening yang dibekukan dan penolakan oleh perusahaan kartu kredit, seperti perusahaan jasa keuangan Israel Isracard.
Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi
Mata uang kripto telah muncul sebagai solusi yang lebih cepat, memungkinkan dana untuk sampai ke keluarga hampir secara instan. Para sukarelawan memperingatkan bahwa bantuan tersebut dipantau secara ketat. Hanya keluarga yang terus berhubungan yang menerima bantuan, dan pembelian didokumentasikan untuk memastikan uang tersebut digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan perlengkapan medis.
Kelompok-kelompok kemanusiaan yang sudah mapan menghadapi tantangan serupa.
Organisasi non-pemerintah (LSM) Israel juga kesulitan mengirimkan bantuan.
Misalnya, Physicians for Human Rights menghadapi penolakan berulang dari bank ketika mencoba mendanai pasokan medis untuk rumah sakit di Gaza. Transfer diblokir, rekening diancam akan dibekukan, dan hambatan birokrasi diberlakukan, meskipun telah mendapat izin dari otoritas Israel yang mengawasi koordinasi kemanusiaan.
Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah
Haaretz menyoroti bahwa bank dan perusahaan kartu kredit mengeklaim bahwa tindakan mereka sesuai dengan peraturan anti pencucian uang dan pendanaan kontra terorisme, dengan alasan risiko hukum jika dana tersebut sampai ke Perlawanan Palestina. Isracard menyatakan bahwa Gaza didefinisikan sebagai wilayah yang bermusuhan dan transfer dilarang di bawah sistem keuangan Israel.
Terlepas dari hambatan-hambatan ini, para donatur terus menemukan cara-cara kreatif untuk memberikan bantuan. Beberapa aktivis Palestina yang tinggal di wilayah pendudukan ’48 hanya mentransfer sejumlah kecil uang kepada perempuan di Gaza.
Sementara yang lainnya menggunakan aplikasi mata uang kripto atau kerangka kerja nirlaba internasional untuk mengirimkan pasokan penting untuk musim dingin, makanan, dan kebutuhan medis.
Pembatasan bantuan keuangan ini terjadi di tengah pembunuhan setidaknya 420 warga Palestina sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai pada bulan Oktober. Pasukan pendudukan Israel telah melanggar kesepakatan tersebut lebih dari 1.000 kali. []
Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic