Doha, MINA – Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Republik Islam Iran meluncurkan serangan balasan besar‑besaran terhadap Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di sejumlah negara Teluk, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait dan Bahrain.
Gelombang rudal serta drone Iran menyebabkan sirene peringatan udara berbunyi di beberapa wilayah, memaksa negara‑negara tetangga bersiap menghadapi eskalasi konflik yang semakin luas. Al-Jazeera melaporkan, Sabtu (28/2).
Serangan rudal dari Iran menyebabkan ledakan terdengar di ibu kota Doha, Abu Dhabi serta Manama, sementara sistem pertahanan udara di Qatar berhasil mencegat beberapa proyektil yang masuk.
Otoritas Qatar memperingatkan warga lewat pesan darurat untuk berlindung dan menghindari area militer, khususnya dekat pangkalan Al Udeid yang menjadi markas utama AS di kawasan.
Baca Juga: Militer Yaman Klaim Lumpuhkan 1.747 Personel Houthi
Otoritas UEA melaporkan bahwa satu warga tewas akibat serpihan rudal yang berhasil dijatuhkan sistem pertahanan. Meski demikian, pemerintah mengatakan dampak terhadap infrastruktur sipil masih terbatas dan menegaskan kesiapan militer untuk menghadapi ancaman lanjutan.
Negara lain seperti Kuwait dan Jordan juga mengaktifkan sistem pertahanan udara setelah sirene peringatan serangan terdengar di sejumlah wilayah mereka.
Penutupan atau pembatasan ruang udara diberlakukan oleh beberapa negara Teluk sebagai langkah keselamatan, termasuk penutupan total di Israel dan pembatasan di UEA serta Qatar.
Akibatnya, banyak maskapai besar seperti Emirates, Qatar Airways dan lainnya menunda, membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan di wilayah Timur Tengah, yang berimbas pada gangguan lalu lintas udara global.
Baca Juga: Suriah Peringatkan Serangan Israel ke Wilayahnya Ancam Keamanan dan Stabilitas Kawasan
Serangan Iran ini merupakan respons terhadap operasi militer bersama yang dilancarkan AS dan Israel terhadap target‑target strategis di Iran pada hari yang sama.
Washington menyebut serangan itu sebagai upaya “menghadapi ancaman nuklir dan rudal” dari Teheran, sementara Iran mengklaim tindakannya adalah bentuk pembelaan diri terhadap agresi terhadap kedaulatan mereka.
Reaksi internasional atas eskalasi ini sangat beragam: negara‑negara Arab tetangga mengecam keras aksi militer yang berpotensi menyeret wilayah mereka ke konflik, sementara PBB serta kekuatan global lainnya menyerukan penahanan diri dan kembalinya semua pihak ke meja negosiasi untuk meredakan ketegangan.
Ketegangan antara Iran dengan Israel dan sekutu AS bermula dari perselisihan panjang terkait program nuklir Teheran, pengembangan rudal balistik serta dukungan Iran terhadap berbagai milisi di kawasan yang menentang Israel.
Baca Juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup hingga AS Penuhi Tujuh Syarat
Ketegangan ini sering memicu serangan langsung maupun tidak langsung, termasuk konflik besar yang terjadi pada Juni 2025, ketika Iran meluncurkan rudal ke pangkalan Al Udeid di Qatar sebagai balasan terhadap serangan AS dan Israel sebelumnya.
Upaya diplomatik beberapa kali dilakukan untuk meredakan krisis, namun dinamika geopolitik terus menambah risiko ketidakstabilan regional. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Mantan PM Israel Tuduh Netanyahu Siapkan Perang untuk Tunda Pemilu
















Mina Indonesia
Mina Arabic