Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuan Puasa Ramadhan adalah Takwa

Rudi Hendrik Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 20 Februari 2026 - 17:35 WIB

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:35 WIB

85 Views ㅤ

Ilustrasi: dua pria Muslim sedang duduk di pantai menunggu waktu berbuka puasa. (Gambar: Dreamina)

PUASA Ramadhan merupakan salah satu ibadah wajib bagi umat Islam yang memiliki makna sangat dalam, tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana pembinaan spiritual.

Tujuan utama dari puasa Ramadhan adalah untuk mencapai derajat takwa, yaitu kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa tujuan diwajibkannya puasa adalah “la’allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Takwa di sini mencakup sikap menjaga diri dari perbuatan dosa, meningkatkan ketaatan, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Makna Takwa dalam Puasa

Takwa bukan hanya tentang takut kepada Allah, tetapi juga tentang menjalankan perintah-Nya dengan ikhlas, menjauhi larangan-Nya, mengendalikan hawa nafsu dan memperbaiki akhlak dan perilaku.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Puasa melatih semua aspek tersebut. Ketika seseorang mampu menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal (makan dan minum) di siang hari, maka ia akan lebih mampu meninggalkan hal-hal yang haram.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan fisik, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku. Tanpa itu, tujuan takwa tidak akan tercapai.

Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Puasa menjadi perisai dari dosa dan api neraka, yang menunjukkan bahwa puasa berfungsi sebagai sarana pembentukan takwa dalam diri seorang Muslim.

Pengertian Takwa Menurut Sahabat dan Ulama

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa takwa adalah menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan rasa takut kepada-Nya. Takwa juga mencakup harapan akan pahala serta takut terhadap azab Allah. Jadi, bukan hanya takut, tetapi juga disertai harapan (raja’) kepada Allah.

Menurut Al-Tabari, takwa berarti menjaga diri dari murka Allah dengan cara menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Makna “menjaga diri” di sini seperti membuat pelindung antara diri dan azab Allah melalui amal saleh.

Al-Qurtubi menyebutkan bahwa takwa adalah menjadikan antara diri dan apa yang ditakuti (azab Allah) suatu pelindung, yaitu dengan ketaatan.

Beliau juga menambahkan bahwa takwa mencakup aspek lahir (amal) dan batin (niat dan hati).

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, takwa adalah kesadaran penuh akan kehadiran Allah yang mendorong seseorang untuk selalu berhati-hati dalam bertindak.

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Takwa bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sosial dan moral sehari-hari.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu merangkum takwa dengan sangat indah. “Takwa adalah takut kepada Allah, mengamalkan Al-Qur’an, merasa cukup dengan yang sedikit, dan bersiap untuk hari akhir.”

Hikmah Puasa dalam Mencapai Takwa

Beberapa hikmah puasa yang mendukung terbentuknya takwa antara lain: melatih kesabaran, meningkatkan keikhlasan karena ibadah ini bersifat tersembunyi, menumbuhkan empati kepada sesama, mengendalikan hawa nafsu, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah tambahan.

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Puasa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi merupakan sarana pembentukan karakter seorang Muslim agar menjadi pribadi yang bertakwa. Dengan menjalankan puasa secara benar—menjaga niat, perilaku, dan hati—maka tujuan utama puasa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an akan tercapai.

Semoga kita termasuk orang-orang yang meraih derajat takwa melalui ibadah puasa Ramadhan. Aamiin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa

Rekomendasi untuk Anda