Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

9 Cara Ayah Menanamkan Tauhid Sejak Dini

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 15 April 2026 - 16:30 WIB

Rabu, 15 April 2026 - 16:30 WIB

30 Views ㅤ

Di balik lahirnya para ulama, pemimpin, pejuang, dan orang-orang saleh, hampir selalu ada sosok ibu yang berperan besar dalam membentuk kepribadian mereka.(Foto: ig)

MENANAMKAN tauhid pada anak bukan sekadar mengajarkan kata-kata “Allah itu Esa.” Ia adalah proses halus, penuh cinta, dan konsisten—seperti menanam benih di tanah yang lembut. Seorang ayah punya peran yang sangat kuat. Bukan hanya sebagai pencari nafkah, tapi sebagai penanam keyakinan paling dalam dalam jiwa anak.

Tauhid yang tertanam sejak kecil akan menjadi kompas hidupnya. Saat dunia menggoda, saat manusia mengecewakan, ia tetap punya pegangan: Allah. Berikut 9 cara ayah menanamkan tauhid sejak dini, dengan pendekatan yang lembut namun membekas.

  1. Memperdengarkan Nama Allah Sejak Awal Kehidupan

Sejak anak lahir, bahkan sejak ia belum memahami kata, biasakan lisannya mendengar nama Allah. Ucapkan “Bismillah”, “Alhamdulillah”, “MasyaAllah” dalam keseharian. Anak itu seperti perekam. Ia menyerap suasana, bukan hanya kata.

Suatu hari, tanpa disadari, lisannya akan mengikuti. Hatinya pun perlahan mengenal Rabb-nya.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

  1. Mengenalkan Allah Lewat Rasa Aman

Saat anak takut, dekaplah sambil berkata, “Tenang, ada Allah yang menjaga kita.”
Saat ia sedih, bisikkan, “Allah sayang sama kamu.”

Tauhid bukan hanya logika, tapi rasa. Jika sejak kecil ia mengaitkan ketenangan dengan Allah, maka kelak ia akan kembali kepada-Nya setiap kali hidup terasa berat.

  1. Menjadi Contoh Nyata, Bukan Hanya Perintah

Anak tidak belajar dari apa yang ayah katakan, tapi dari apa yang ayah lakukan.
Ketika ayah shalat tepat waktu, berdoa dengan khusyuk, dan menyebut Allah dalam setiap keputusan, anak melihat itu sebagai “cara hidup”.

Tanpa ceramah panjang, ia sudah belajar: hidup harus bersama Allah.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

  1. Mengaitkan Segala Nikmat dengan Allah

Saat makan enak, katakan: “Ini dari Allah.” Saat hujan turun: “Allah yang turunkan.”
Saat sembuh dari sakit: “Allah yang menyembuhkan.”

Lama-lama anak akan memahami: semua datang dari Allah.
Bukan dari uang, bukan dari manusia, tapi dari Rabb yang Maha Memberi.

  1. Mengajarkan Doa dengan Penuh Makna

Jangan hanya menghafalkan doa, tapi ajak anak merasakannya.
Saat berdoa sebelum tidur, katakan: “Kita minta sama Allah supaya dijaga ya.”

Biarkan anak memahami bahwa doa itu komunikasi, bukan ritual kosong.
Ia sedang berbicara dengan Tuhannya.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

  1. Mengajak Anak Merenung Tentang Ciptaan Allah

Saat melihat langit, bintang, atau hewan, ajak anak berpikir: “Siapa yang menciptakan semua ini?”

Biarkan ia menjawab: “Allah.”

Dari hal sederhana itu, tumbuh kesadaran bahwa dunia ini bukan terjadi begitu saja. Ada Rabb yang Maha Kuasa di balik semuanya.

  1. Tidak Menakut-nakuti dengan Selain Allah

Hindari ucapan seperti: “Nanti ada hantu lho!” atau “Awas sama orang itu!”

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Sebaliknya, arahkan rasa takutnya hanya kepada Allah.
Ajarkan bahwa Allah itu Maha Melihat, tapi juga Maha Penyayang.

Dengan begitu, tauhidnya bersih—tidak tercampur ketakutan yang salah arah.

  1. Mengajarkan Tawakal dalam Hal Kecil

Saat anak menghadapi sesuatu—ujian, perlombaan, atau hal sederhana—katakan:
“Kita usaha ya, lalu serahkan hasilnya ke Allah.”

Ini melatih hatinya sejak dini untuk tidak bergantung pada hasil, tapi pada Allah.
Ia belajar bahwa tugas manusia adalah berusaha, bukan mengendalikan segalanya.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

  1. Mendoakan Anak dengan Penuh Harap kepada Allah

Jangan remehkan doa ayah. Di balik diamnya, ada kekuatan besar.
Doakan anak: agar hatinya mengenal Allah, agar hidupnya lurus, agar imannya kokoh.

Anak mungkin tidak mendengar doa itu, tapi Allah mendengarnya.
Dan suatu hari, doa itu bisa menjadi cahaya dalam hidupnya.

Tauhid Itu Ditanam, Bukan Dipaksakan

Menanamkan tauhid bukan pekerjaan instan. Ia bukan hasil dari satu nasihat, tapi dari ribuan momen kecil yang diulang dengan cinta.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Ayah yang lembut dalam membimbing, konsisten dalam memberi contoh, dan tulus dalam berdoa—akan melahirkan anak yang hatinya hidup bersama Allah.

Mungkin dunia tidak selalu ramah pada anak kita. Tapi jika tauhid sudah tertanam kuat, ia tidak akan mudah goyah.

Karena ia tahu, di balik segala keadaan, selalu ada Allah yang bersamanya. Dan itulah bekal terbaik yang bisa diberikan seorang ayah.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

 

Rekomendasi untuk Anda

Artikel
Tausiyah
Khutbah Jumat
Tausiyah
Hikmah