Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 28 Agustus 2026 - 04:56 WIB

Jumat, 28 Agustus 2026 - 04:56 WIB

229 Views ㅤ

Ka'bah di masjidil haram (foto: X)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya.

Rasulullah ﷺ menghadapi masyarakat yang tenggelam dalam jahiliah, kesyirikan, perselisihan, dan kerusakan akhlak. Namun dengan pertolongan Allah, beliau mampu menunaikan amanah risalah tersebut dengan sempurna, membimbing manusia kepada tauhid, memperbaiki akhlak, dan mengubah masyarakat yang sebelumnya penuh permusuhan menjadi umat yang kuat dan bersatu.

Salah satu kunci keberhasilan Rasulullah ﷺ dalam menjalankan tugas besar tersebut adalah kasih sayang. Kasih sayang bukan hanya akhlak pribadi beliau, tetapi menjadi ruh dalam dakwah, pendidikan, dan kepemimpinan beliau.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Khutbah ke-1:

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah  yang telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk bagi umat manusia, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada jalan Allah dengan izin-Nya, serta sebagai cahaya yang menerangi kehidupan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, serta seluruh orang yang istiqamah mengikuti jalan beliau hingga hari kiamat.

Sebagai wujud rasa syukur atas segala nikmat tersebut, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah  dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, ketakwaan merupakan bekal terbaik bagi seorang mukmin dalam menjalani kehidupan di dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab: 45–46,

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًا ۙ، وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا (الأحزاب: ٤٥–٤٦ (

“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan; dan sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 45–46)

Ayat ini menjelaskan tugas besar dan misi utama Rasulullah ﷺ. Allah  tidak mengutus beliau sekadar untuk menyampaikan hukum, memerintahkan dan melarang, tetapi untuk membimbing manusia menuju keselamatan, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, serta mengarahkan kehidupan mereka agar tunduk kepada Allah .

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah دَاعِيًا إِلَى اللَّهِ — da‘iyan ilallah, yaitu penyeru manusia kepada Allah dengan izin-Nya. Beliau juga disebut سِرَاجًا مُنِيرًا — sirajan munira, pelita yang menerangi. Melalui risalah yang beliau bawa, manusia mengenal Allah, membedakan kebenaran dari kebatilan, serta menemukan jalan keselamatan.

Syaikh As-Sa‘di رحمه الله menjelaskan bahwa dalam dua ayat ini terdapat lima tugas besar yang menjadi inti kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, kelima tugas besar tersebut adalah:

Pertama, Rasulullah ﷺ sebagai saksi atas umatnya

Rasulullah ﷺ menyampaikan risalah dengan amanah dan menjadi saksi atas amal yang dilakukan umatnya. Karena itu, beliau tidak menyembunyikan sedikit pun dari apa yang Allah wahyukan kepadanya. Pada hari kiamat kelak, beliau akan menjadi saksi atas umatnya. Allah berfirman:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

وَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍۢ بِشَهِيدٍۢ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَاءِ شَهِيدًا

“Bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka?” (QS. An-Nisa’ [4]: 41).

Kedua, Rasulullah ﷺ sebagai pembawa kabar gembira

Rasulullah ﷺ juga diutus sebagai mubasysyir, pembawa kabar gembira. Beliau memberikan harapan kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa, ampunan Allah, pertolongan-Nya, kehidupan yang baik, dan kenikmatan surga.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Allah berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ )الْبَقَرَةِ: ٢٥)

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Kabar gembira tersebut menumbuhkan harapan. Orang yang berdosa tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, dan orang yang beriman didorong untuk terus meningkatkan amalnya. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa dakwah tidak hanya berbicara tentang ancaman, tetapi juga membuka pintu harapan agar manusia kembali kepada Allah .

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Ketiga, Rasulullah ﷺ sebagai pemberi peringatan

Di samping memberikan kabar gembira, Rasulullah ﷺ adalah nadzir, pemberi peringatan. Beliau memperingatkan manusia dari kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan, kezaliman, dan segala jalan yang membawa kepada kebinasaan.

Namun peringatan Rasulullah ﷺ bukanlah lahir dari kebencian. Beliau memperingatkan karena menginginkan manusia selamat. Bahkan ketika penduduk Thaif menyakiti beliau, Rasulullah ﷺ tidak membalas dengan doa kebinasaan. Beliau justru berharap agar dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah semata. (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah peringatan yang dilandasi kasih saying, tegas terhadap kesalahan, tetapi tetap mengharapkan keselamatan orang yang melakukan kesalahan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Keempat, Rasulullah ﷺ sebagai penyeru kepada Allah

Tugas berikutnya adalah da‘iyan ilallah, menyeru manusia kepada Allah. Rasulullah ﷺ tidak menyeru manusia kepada dirinya, kepentingan keluarga, ataupun golongannya. Beliau menyeru kepada tauhid dan ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ (يُوسُفَ: ١٠٨)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

“Katakanlah, ‘Inilah jalanku; aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan ilmu yang jelas.’” (QS. Yusuf: 108)

Allah menyebut ‘ala bashirah—dengan ilmu dan pemahaman yang jelas. Ini menunjukkan bahwa dakwah membutuhkan ilmu, hikmah, dan keteladanan. Rasulullah ﷺ bukan hanya menyampaikan ajaran, tetapi beliau sendiri menjadi contoh dalam mengamalkannya.

Kelima, Rasulullah ﷺ sebagai pelita yang menerangi

Allah menyebut Rasulullah ﷺ sebagai sirajan munira, pelita yang menerangi. Beliau membawa cahaya wahyu yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya iman.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Allah berfirman:

قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌ ۙ ۝ يَّهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ (الْمَائِدَةِ: ١٥–١٦)

“Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan.” (QS. Al-Ma’idah: 15–16)

Dengan cahaya wahyu, Rasulullah ﷺ mengubah manusia: dari syirik kepada tauhid, dari kebodohan kepada ilmu, dari kemaksiatan kepada ketaatan, dari permusuhan kepada ukhuwah, dan dari perpecahan menjadi umat yang bersatu.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Lima tugas tersebut bukanlah tugas yang ringan. Rasulullah ﷺ menghadapi masyarakat yang tenggelam dalam jahiliah, kesyirikan, perselisihan, dan kerusakan akhlak. Namun dengan pertolongan Allah, beliau mampu menunaikan amanah risalah tersebut dengan sempurna, membimbing manusia kepada tauhid, memperbaiki akhlak, dan mengubah masyarakat yang sebelumnya penuh permusuhan menjadi umat yang kuat dan bersatu.

Salah satu kunci keberhasilan Rasulullah ﷺ dalam menjalankan tugas besar tersebut adalah kasih sayang. Kasih sayang bukan hanya akhlak pribadi beliau, tetapi menjadi ruh dalam dakwah, pendidikan, dan kepemimpinan beliau. Allah  berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ (الأنبياء: ١٠٧)

“Dan Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menunjukkan bahwa risalah Rasulullah ﷺ adalah risalah rahmat. Rahmat itu diwujudkan dengan membimbing manusia kepada kebenaran, menyelamatkan mereka dari kesesatan, memperbaiki akhlak, serta mengantarkan mereka kepada ampunan dan keridhaan Allah. Karena itu, Rasulullah ﷺ dalam menjalankan dakwah tidak mengedepankan kebencian dan pembalasan, tetapi hidayah, perbaikan, dan keselamatan manusia.

Beliau ﷺ bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ (رواه الترمذي)

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Dzat yang berada di langit.” (HR. Tirmidzi).

Kasih sayang itulah yang membantu Rasulullah ﷺ menyentuh hati manusia dan membangun persaudaraan. Beliau tidak hanya mengajarkan iman, tetapi juga menanamkan ulfah dan ukhuwah di antara kaum Muslimin. Ketika kaum Muhajirin meninggalkan rumah dan harta mereka menuju Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshar. Perbedaan suku, latar belakang, dan kepentingan tidak lagi menjadi alasan untuk saling bermusuhan, karena hati mereka telah dipersatukan oleh iman. Allah  berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ …(آلِ عِمْرَانَ [٣]: ١٠٣)

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjamaah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…” (QS. Ali Imran: 103)

Allah tidak hanya menyebut mereka berkumpul, tetapi فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ — Allah mempersatukan hati mereka. Inilah ulfah: hati yang saling terpaut karena iman, yang kemudian melahirkan ukhuwah, persatuan, dan kekuatan umat.

Demikianlah kunci keberhasilan Rasulullah ﷺ dalam menunaikan tugas besar risalahnya. Semua itu beliau laksanakan dengan rahmat, kasih sayang, hikmah, dan keteladanan, sehingga hati manusia tersentuh, ulfah tumbuh, persaudaraan terbentuk, dan umat yang sebelumnya terpecah dapat menjadi umat yang kuat dan bersatu.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat