Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Menegakkan Keadilan, Jalan Menuju Khairu Ummah.
Islam adalah agama yang sangat tegas dalam menegakkan hukum tanpa membedakan status sosial. Tidak ada istilah orang kecil dihukum sementara orang besar dibebaskan.
Tidak ada istilah orang miskin dipersalahkan sementara orang kaya dilindungi. Di hadapan syariat Allah, seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Apabila hukum hanya tajam kepada yang lemah, namun tumpul kepada yang kuat, maka kepercayaan masyarakat akan luntur. Ketika kepercayaan hilang, persatuan akan melemah, dan apabila persatuan telah melemah, kehancuran sebuah bangsa hanyalah persoalan waktu.
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Khutbah ke-1:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang telah menanamkan iman dan Islam di dalam hati-hati kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga hari pembalasan.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah-ibadah mahdhah, seperti shalat, puasa, dan zakat, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat melalui sikap jujur, amanah, serta keberanian menegakkan keadilan. Sebab keadilan adalah salah satu buah dari keimanan, sekaligus pilar tegaknya masyarakat yang diridhai Allah .
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’ [4]: 135, yang berbunyi:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَا ۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا ((النساء ) ٤ (: ١٣٥)
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, kedua orang tuamu, ataupun kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga kamu menyimpang dari keadilan.”
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling agung tentang penegakan keadilan. Allah mengawalinya dengan panggilan, “Wahai orang-orang yang beriman.” Hal ini menunjukkan bahwa keimanan yang sejati harus melahirkan keberanian untuk berlaku adil.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna qawwamina bil-qisṭ ialah menjadi orang-orang yang senantiasa menegakkan keadilan dalam setiap keadaan. Seorang mukmin dituntut berdiri teguh di atas kebenaran karena Allah, meskipun keputusan itu menyangkut dirinya sendiri, kedua orang tua, ataupun kerabat dekatnya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa ayat ini menghapus segala bentuk fanatisme dalam penegakan hukum. Kedekatan keluarga, hubungan pertemanan, jabatan, maupun kekayaan tidak boleh menjadi alasan untuk menyimpangkan keadilan. Sementara Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa penghalang terbesar seseorang untuk berlaku adil adalah hawa nafsu. Oleh karena itu Allah mengingatkan, “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga menyimpang dari keadilan.”
Hawa nafsu itu dapat berupa kecintaan, kebencian, kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, maupun kepentingan duniawi. Selama hawa nafsu menjadi penentu keputusan, selama itu pula keadilan akan sulit ditegakkan.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Islam adalah agama yang sangat tegas dalam menegakkan hukum tanpa membedakan status sosial. Tidak ada istilah orang kecil dihukum sementara orang besar dibebaskan. Tidak ada istilah orang miskin dipersalahkan sementara orang kaya dilindungi. Di hadapan syariat Allah, seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Prinsip inilah yang dicontohkan secara nyata oleh Rasulullah ﷺ. Ketika seorang wanita dari Bani Makhzum melakukan pencurian, sebagian sahabat merasa keberatan apabila hukuman tetap dilaksanakan karena wanita tersebut berasal dari keluarga terpandang. Mereka berusaha mencari jalan agar hukuman dibatalkan. Namun Rasulullah ﷺ berdiri dengan penuh ketegasan seraya bersabda:
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَاطَعْتُ يَدَهَا (رواه البخاري ومسلم)
“Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah apabila orang terpandang mencuri mereka membiarkannya, sedangkan apabila orang lemah mencuri mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri akan memotong tangannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Pada hadis ini Rasulullah ﷺ tidak sedang berbicara tentang putri beliau semata. Beliau sedang meletakkan sebuah prinsip besar dalam peradaban Islam, yaitu bahwa kehancuran suatu bangsa bukan pertama-tama karena kemiskinan atau lemahnya ekonomi, melainkan karena hukum ditegakkan secara tebang pilih.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Apabila hukum hanya tajam kepada yang lemah, namun tumpul kepada yang kuat, maka kepercayaan masyarakat akan luntur. Ketika kepercayaan hilang, persatuan akan melemah, dan apabila persatuan telah melemah, kehancuran sebuah bangsa hanyalah persoalan waktu.
Karena itu, Islam memerintahkan setiap muslim untuk menegakkan keadilan. Tugas ini bukan hanya milik hakim atau pemimpin, tetapi menjadi tanggung jawab setiap muslim. Keadilan dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan, hingga terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Keadilan merupakan fondasi kehidupan umat. Tanpa keadilan, ibadah akan kehilangan pengaruhnya dalam kehidupan sosial. Masjid mungkin tetap ramai, tetapi masyarakat tidak merasakan ketenteraman. Orang-orang mungkin rajin beribadah, tetapi kezaliman tetap merajalela.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah
Oleh sebab itu Allah memberikan predikat yang sangat mulia kepada umat Islam sebagai khairu ummah, umat terbaik, tatkala amar ma’ruf nahi munkar dilaksanakan dengan penuh keimanan. Allah berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (آل عمران [٣]: ١١٠)
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Kebanyakan ayat Al-Qur’an menyebutkan keimanan terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan amal-amal saleh yang lain. Namun, pada ayat ini, Allah mendahulukan amar ma’ruf dan nahi munkar, lalu mengakhirkan penyebutan iman.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup
Imam Al-Maraghi menjelaskan bahwa didahulukannya amar ma’ruf dan nahi munkar menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap kehidupan sosial. Keimanan yang benar tidak berhenti pada keyakinan dalam hati dan ibadah pribadi, tetapi harus melahirkan kepedulian terhadap masyarakat. Adapun penyebutan iman setelahnya menunjukkan bahwa seluruh aktivitas amar ma’ruf nahi munkar harus dilandasi keimanan yang kokoh, keikhlasan, serta dijalankan sesuai tuntunan syariat.
Maka ukuran kemuliaan seorang muslim bukan hanya banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga sejauh mana kehadirannya membawa manfaat, menghadirkan keadilan, dan menghilangkan kezaliman di tengah-tengah masyarakat.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Islam begitu tegas memerintahkan keadilan. Karena keadilan merupakan benteng kehidupan manusia. Dengan keadilan agama akan terpelihara, jiwa terlindungi, akal berkembang melalui pendidikan, kehormatan keluarga terjaga, dan harta masyarakat terlindungi dari berbagai bentuk kezaliman. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai maqaṣid al-syari‘ah, yaitu tujuan agung syariat dalam menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya
Oleh sebab itu, keadilan dalam Islam merupakan wujud nyata dari rahmat Allah . Penegakan hukum bukan didorong oleh semangat membalas dendam, melainkan untuk menjaga kehidupan, melindungi hak-hak manusia, dan mencegah kerusakan di tengah masyarakat.
Karena itu, di mana keadilan ditegakkan, di situlah ruh syariat hidup. Sebaliknya, ketika kezaliman dibiarkan, sesungguhnya tujuan-tujuan agung syariat mulai ditinggalkan. Maka marilah kita memulai penegakan keadilan dari diri kita sendiri, keluarga kita, dan lingkungan kita, agar Allah menjadikan kita bagian dari khairu ummah, umat terbaik yang membawa rahmat bagi seluruh manusia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic