Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada Minyak di Balik Intervensi Militer AS ke Venezuela

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 4 Januari 2026 - 21:44 WIB

Ahad, 4 Januari 2026 - 21:44 WIB

18 Views ㅤ

Peta Venezuela dan AS (Maps of World)

AMERIKA SERIKAT setelah melakukan intervensi militer di Venezuela, kini secara efektif mengendalikan cadangan minyak terbesar di dunia.

Negara Amerika Selatan ini memiliki sekitar 18 persen cadangan minyak dunia, diikuti oleh Arab Saudi (16 persen) dan Kanada (10 persen).

“Kami akan menjalankan negara ini sampai saatnya kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Presiden AS Donald Trump. Seperti dilaporkan ABC News, Ahad (4/1).

AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya dalam serangan dini hari, dengan menyerang target di ibu kota Caracas dan di beberapa negara bagian lainnya.

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Venezuela memiliki cadangan minyak yang dikenal sebagai minyak berat, berbeda dengan minyak ringan yang diproduksi di beberapa bagian Timur Tengah.

Diperlukan produksi tingkat tinggi untuk memurnikan dan menggunakannya sebagai bahan bakar diesel atau aspal.

Meskipun perusahaan-perusahaan minyak raksasa dapat melakukan hal ini, mereka dilarang memasuki negara tersebut.

Kepala ekonom AMP, Shane Oliver, yang membantu mengelola miliaran dolar atas nama raksasa dana pensiun tersebut, mengatakan bahwa Trump tampaknya sedang memainkan permainan ekonomi jangka panjang di sini.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Dia mengatakan kepada ABC News bahwa Venezuela telah menjadi tidak efisien dalam memproduksi dan memurnikan minyak dan hanya menawarkan sebagian kecil minyak kepada dunia dari yang seharusnya bisa dihasilkannya.

“Sepertinya ini upaya merebut minyak. Tetapi akan butuh bertahun-tahun untuk meningkatkan produksi lagi. Tentu lebih lama daripada pemilihan paruh waktu AS. Jadi, ini agak membingungkan,” ujar Oliver.

Oliver mengatakan bahwa intervensi AS di Venezuela adalah bagian dari sejarah panjang campur tangan AS di negara-negara asing untuk alasan strategis.

“Ada sejarah intervensi AS di Amerika Tengah dan Selatan untuk memberikan pengalihan perhatian politik,” katanya.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Operasi militer akhir pekan ini telah direncakan selama berbulan-bulan. Desember lalu misalnya, Trump mengumumkan blockade terhadap kapal tanker minyak yang masuk atau keluar dari Venezuela. AS juga menyita dua kargo minyak Venezuela.

Hal itu menurunkan ekspor negara tersebut pada bulan Desember menjadi sekitar setengah dari 950.000 barel per hari (bpd) yang dikirim pada bulan November.

Oliver juga menunjuk pada petunjuk lain bahwa pemerintahan Trump sedang mengincar intervensi militer di luar negeri, khususnya di negara-negara kaya minyak.

“Trump baru-baru ini juga mengatakan AS siap siaga terhadap Iran,” katanya.

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Hal ini menyusul ancaman rezim Teheran terhadap protes ekonomi di seluruh negeri.

Oliver mengatakan intervensi AS di Venezuela adalah “bagian dari upaya untuk mengurangi biaya hidup di AS”.

Meningkatnya biaya transportasi telah menjadi faktor utama penyebab inflasi di AS.

Meskipun Maduro secara terbuka tetap menentang tekanan AS untuk mundur, secara pribadi ia mengambil langkah-langkah untuk menghindari potensi serangan AS.

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

Meskipun intervensi AS dapat menurunkan harga minyak dan bensin dunia, hal itu berpotensi menyebabkan lonjakan inflasi dalam jangka pendek.

Menurut laporan, beberapa kapal yang baru-baru ini memuat minyak mentah dan bahan bakar untuk berbagai tujuan, termasuk AS dan Asia, belum berlayar, sementara kapal-kapal lain yang menunggu untuk memuat telah berangkat kosong, menurut data pemantauan.

Menurut TankerTrackers, tidak ada kapal tanker yang melakukan pemuatan pada Sabtu (3/1/2026) di pelabuhan minyak utama Jose,  Venezuela.

Penghentian total ekspor minyak, termasuk kapal tanker yang disewa oleh mitra utama PDVSA milik negara, Chevron, dapat mempercepat kebutuhan negara untuk mengurangi produksi di ladang minyak.

Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika

Hal itu disebabkan tangki penyimpanan dan kapal yang digunakan untuk penyimpanan terapung telah terisi dengan cepat dalam beberapa pekan terakhir, menurut sumber dan dokumen PDVSA.

Kontrak berjangka minyak baru akan diperdagangkan pada Senin (5/1/2025). Para pelaku pasar keuangan terpecah pendapatnya mengenai apakah akan terjadi lonjakan atau koreksi harga minyak dalam perdagangan Asia. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak

Rekomendasi untuk Anda

Timur Tengah
Amerika
Internasional
Amerika
Eropa