Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (البقرة [٢]: ٢٠٥)
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
“Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanaman-tanaman dan hewan ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 205).
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah dalam kitabnya Jami’ul Bayan menjelaskan ayat di atas dengan mengambil penjelasan dari sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu anhu, bahwa al-harth adalah tanaman yang tumbuh di bumi, sementara an-nasl mencakup keturunan makhluk hidup, termasuk manusia.
Mujahid menjelaskan, bahwa an-nasl juga mencakup manusia dan hewan. Dengan demikian, ayat tersebut tidak semata berbicara tentang kerusakan benda dan lingkungan, tetapi tentang penghancuran sumber kehidupan umat manusia dan keberlanjutan generasi.
Sayyid Qutb dalam Fi Zilal al-Qur’an menggambarkan al-harth dan an-nasl sebagai simbol keberlangsungan kehidupan. Kerusakan yang dilakukan manusia dzalim bukan sekadar menghancurkan bangunan fisik, melainkan menghancurkan unsur-unsur keberlangsungan kehidupan umat manusia.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Ayat di atas mengandung prinsip moral yang bersifat universal. Allah Ta’ala membenci tindakan yang merusak kehidupan. Ketika unsur-unsur penopang kehidupan dirusak, maka itulah bentuk nyata dari kedzaliman yang sangat besar.
Kata an-nasl menjadi sangat menarik untuk direnungkan dalam konteks genosida di Gaza yang dilakukan Zionis Israel. Sebab, rakyat Gaza saat ini menghadapi penderitaan bukan hanya bagi manusia yang hidup hari ini, tetapi juga penderitaan bagi sebuah generasi.
Pesan penutup pada ayat itu sangat jelas: “Allah tidak menyukai kerusakan.” Inilah prinsip yang seharusnya menjadi cermin nurani dunia. Penghancuran kehidupan manusia tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan normal. Ayat tersebut seakan mengajak manusia untuk kembali bertanya: masihkah dunia memiliki nurani ketika ada kehidupan sebuah bangsa berada di bawah ancaman kehancuran.
Ketika Bertahan Hidup Menjadi Sebuah Perjuangan
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Situasi Gaza sejak Oktober 2023 hingga hari ini jauh dari kata normal. Laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada 28 Agustus 2026 menyebut kondisi kemanusiaan di wilayah itu masih kritis. Hampir semua penduduk Gaza menghadapi kondisi tempat tinggal yang sangat buruk, mengalami keterbatasan akses terhadap layanan dasar, baik pangan, maupun kesehatan.
Laporan dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis Juli 2026 menunjukkan lebih dari 1,2 juta penduduk Gaza mengalami kondisi krisis pangan akut atau lebih buruk. Jumlah itu diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 1,4 juta orang jika tidak segera dilakukan intervensi bantuan kemanusiaan yang masif.
Di tengah situasi itu, bantuan kemanusiaan menjadi penyangga utama kehidupan warga Gaza. Hingga 20 Agustus 2026, sebanyak 95 dapur terus memproduksi makanan yang setiap hari di bagikan ke berbagai wilayah Gaza. Namun, besarnya kebutuhan membuat bantuan tersebut belum berarti kehidupan warga telah kembali normal.
Bantuan kemanusiaan saat ini hanya menjadi upaya sementara untuk mencegah penderitaan yang lebih besar, sementara keterbatasan akses dan rantai pasokan akibat blokade Zionis masih menjadi kendala utama.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Krisis kesehatan juga dirasakan sangat berat. Pada Juli 2026, OCHA melaporkan hanya sekitar 44 titik pelayanan kesehatan yang masih berfungsi. Dengan kondisi tersebut, sistem kesehatan Gaza harus melayani puluhan ribu masyarakat setip harinya dalam keadaan serba terbatas.
WHO juga mencatat 98 serangan terhadap layanan kesehatan antara Januari hingga Juli 2026. Serangan tersebut berdampak pada 83 kendaraan layanan kesehatan dan 11 fasilitas kesehatan, serta mengakibatkan 33 orang terluka dan empat tenaga medis gugur.
Gaza juga menghadapi persoalan sanitasi dan wabah penyakit. Kepadatan pengungsian, kerusakan infrastruktur air dan limbah, serta keterbatasan fasilitas kesehatan menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap penularan penyakit.
Di balik angka-angka tersebut di atas, ada sosok ibu yang harus mencari makanan untuk anak-anaknya. Seorang ayah yang terus berusaha mencari tempat berteduh bagi keluarganya setelah rumahnya hancur. Ada anak yang belajar tanpa ruang kelas, dokter yang bekerja dengan keterbatasan obat, dan keluarga yang berusaha membangun kembali kehidupan di antara reruntuhan.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Namun Gaza tidak hanya menghadirkan kisah tentang kehancuran. Para warganya juga memperlihatkan keteguhan. Di tengah reruntuhan, anak-anak tetap belajar, para ibu bershalawat sambil mengantre air dan merawat keluarga. Ada ayah yang tetap gigih mencari bantuan untuk menghidupi keluarganya, bahkan hampir semua rakyat Gaza tetap menjalankan ibadah di antara reruntuhan masjid.
Ketabahan itu bukan berarti mereka tidak merasakan sakit. Justru karena mereka merasakan kehilangan yang begitu besar, kemampuan mereka untuk tetap bertahan menjadi cambuk semangat untuk terus melanjutkan kehidupan.
Barangkali, wajah-wajah lelah warga Gaza sering luput dari sorotan kamera media-media mainstream. Namun mereka terus berusaha mengatakan kepada dunia bahwa mereka bukan sekadar korban, tetapi manusia yang tetap memiliki harapan dan masa depan.
Dari Nakba 1948 hingga Gaza 2026: Kejahatan Terus Dilakukan
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Tahun 1948 menjadi titik sejarah yang sangat memilukan bagi rakyat Palestina. Tragedi Nakba merupakan peristiwa pengusiran besar-besaran yang menyebabkan lebih dari separuh penduduk Palestina terusir dari rumah mereka. Peristiwa tersebut terus membayangi rakyat Palestina hingga hari ini.
Sejak saat itu, pembunuhan, perampasan tanah dan lahan, penghancuran permukiman, pengusiran serta sederet tragedi kemanusiaan terus menjadi bagian dari persoalan rakyat Palestina hingga hari ini.
Tahun-tahun berikutnya, perang besar terjadi. Pada 1967, 1987, 2002, 2006, 2008 dan seterusnya, berbagai wilayah Palestina terus mengalami krisis, pendudukan, pembatasan, serangan dan berbagai aksi kekerasan. Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Palestina adalah persoalan panjang yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Anehnya, kekejaman Zionis Israel itu selama bertahun-tahun mendapatkan dukungan politik, militer dan diplomatik dari sejumlah negara yang mengklaim menjunjung demokrasi, Hak Asasi Manusia dan hukum humaniter. Dukungan tersebut membuat Israel memiliki ruang politik yang luas meskipun berbagai lembaga internasional berulang kali menyoroti dugaan pelanggaran terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Perubahan sikap dunia yang mulai bersimpati kepada Palestina muncul semakin kuat pascatragedi Gaza sejak 2023. Sejumlah negara, terutama di Eropa dan Amerika Latin, mulai mengambil sikap yang lebih kritis terhadap kebijakan Israel, sementara dukungan masyarakat sipil terhadap Palestina berkembang semakin luas.
Namun perubahan tersebut belum berarti dukungan Barat terhadap Israel telah berakhir. Amerika Serikat tetap menjadi sekutu penting Israel. Sementara itu, penderitaan Gaza telah membuat semakin banyak masyarakat AS mempertanyakan kebijakan pemerintah mereka terhadap Israel dan mendorong perdebatan politik mengenai dukungan tersebut.
Ketika Nurani Menjadi Ukuran
Krisis Palestina adalah ujian bagi nurani manusia. Ketika manusia menganggap seolah tragedi Gaza sebagai sesuatu yang wajar, sesungguhnya kita sedang menghadapi persoalan moral yang jauh lebih besar daripada sekadar perbedaan politik.
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Dalam Islam, kepedulian terhadap penderitaan sesama merupakan bagian dari ajaran agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, kecintaan dan kelembutan mereka seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, bahwa siapa saja yang meringankan kesusahan seorang Muslim, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat.
Hadis di atas memberikan pesan bahwa kepedulian terhadap penderitaan orang lain harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan berhenti pada rasa iba dan simpati saja.
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
Pesan kemanusiaan mendiang Nelson Mandela juga relevan untuk direnungkan. Dalam sejarah perjuangannya melawan apartheid, Mandela memandang kebebasan Palestina sebagai persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan melawan penindasan.
Dalam pidatonya pada Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina pada 1997, Mandela menyampaikan solidaritas kepada rakyat Palestina dan menyerukan agar api solidaritas, keadilan dan kebebasan tetap menyala.
Nelson Mandela Foundation juga mencatat kuatnya hubungan antara perjuangan anti-apartheid Afrika Selatan dan perjuangan Palestina, terutama dalam konteks dekolonisasi dan perjuangan memperoleh hak menentukan nasib sendiri, meskipun konteks sejarah keduanya tentu tidak sepenuhnya identik.
Membela Palestina berarti membela hak manusia untuk hidup, merdeka dan terbebas dari segala bentuk kezaliman. Kepedulian itu dapat diwujudkan melalui doa, bantuan kemanusiaan, menyuarakan kebenaran, mendukung upaya diplomasi dan hukum internasional, serta tidak membiarkan tragedi kemanusiaan berlalu tanpa perhatian.
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
Pelapor Khusus PBB untuk situasi HAM di wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, menyebut tragedi Gaza sebagai “the shame of our time” (aib zaman kita), karena penderitaan tersebut berlangsung ketika dunia telah memiliki perangkat hukum, lembaga internasional dan berbagai mekanisme untuk mencegah kejahatan kemanusiaan.
Bagi mereka yang memilih menutup mata, Gaza mungkin hanya menjadi berita yang lewat di layar televisi. Tetapi bagi hati yang masih hidup, setiap tragedi yang terjadi adalah panggilan nurani terhadap kemanusiaan.
Gaza mengajarkan satu hal penting: kehancuran sebuah bangunan tidak selalu berarti kehancuran sebuah bangsa. Rumah dan bangunan dapat diratakan, sekolah dapat dihancurkan, rumah sakit dapat rusak, tanah dapat diduduki dan manusia dapat dipaksa mengungsi, tetapi selama rakyatnya masih mempertahankan iman dan harapan, maka kehidupan akan terus mencari jalan untuk tumbuh kembali.
Itulah makna an-nasl yang patut direnungkan: kehidupan yang berusaha diteruskan, meski berhadapan dengan kekuatan besar yang ingin memutus mata rantainya.
Kepada dunia, Gaza seolah berkata: “Kami masih ada dan masih memelihara harapan untuk melanjutkan kehidupan dan peradaban.”
Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang merusak kehidupan. Sejarah juga akan mencatat siapa manusia yang peduli terhadap tragedi kemanusiaan, siapa yang memilih diam, dan siapa yang dengan empati melakukan aksi nyata untuk membantu mereka yang tertindas.
Pada akhirnya, Gaza bukan hanya ujian bagi bangsa Palestina dan Arab saja. Gaza adalah ujian bagi seluruh umat manusia: apakah kita masih mampu merasakan penderitaan orang lain, membela keadilan dan menjaga kehidupan ketika dunia sedang menyaksikan kehancuran di depan mata.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَاب
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic